PELAKITA.ID – Muliadi Saleh, fasilitator pembangunan daerah, penulis dan pemikir kebudayaan membagikan larik-larik puisinya kepada pembaca sekalian di peringatan Hari Kemerdekaan NKRI ke-80. Mari simak.
___
Cahaya dari Gelapnya Laut
Di kedalaman laut, ada kegelapan purba,
tempat arus berbisik dan ombak bercerita.
Ikan-ikan berkelip bagai bintang yang terlupa,
karang menyimpan rahasia usia semesta.
Namun dari gelap itu, cahaya mencari jalan,
menyibak permukaan dengan gemuruh gelombang,
membawa janji: bahwa laut bukan sekadar biru terbentang,
ia adalah pangkuan harapan, masa depan yang gemilang.
Laut adalah kitab yang tak habis dibaca,
panitia agung yang merancang pesta kehidupan:
ikan, garam, mutiara, jalur dagang,
semuanya menunggu tangan bijak penghuni pulau.
Wahai negeri maritim,
jangan biarkan kapalmu karam di pelabuhan,
jangan biarkan nelayanmu pulang dengan tangan kosong.
Ambillah terang dari dasar kegelapan,
angkatlah harapan dari gelombang yang tak pernah diam,
agar Indonesia berdiri tegak,
sebagai poros samudra,
sebagai cahaya dari lautan.
Makassar, 17 Agustus 2025
Merdeka Bagi Rakyat
Oleh: Muliadi Saleh
Kemerdekaan bukan sekadar bendera berkibar,
bukan sekadar pesta dan sorak di alun-alun pasar.
Ia adalah roti di meja si miskin,
adalah senyum anak yang tak lagi lapar.
Integritas—kata yang kian mahal,
namun pernah hidup di napas Bung Hatta,
yang wafat tanpa harta,
namun meninggalkan kemuliaan yang abadi.
Apa arti merdeka,
jika enam puluh persen rakyat
masih terjerat dalam jeruji kemiskinan?
Kemerdekaan sejati adalah kesejahteraan,
bukan pidato panjang, bukan spanduk gemerlap,
melainkan harga adil bagi petani,
perahu penuh bagi nelayan,
dan sekolah terbuka bagi anak-anak bangsa.
Wahai generasi muda,
rawatlah integritas—
karena tanpa itu,
merdeka hanyalah kata,
dan rakyat tetap terluka.
Merdeka adalah amanah,
bukan hadiah.
Dan ia hanya sah,
jika RAKYAT hidup bermartabat.
Makassar, 17 Agustus 2025









