Amran Razak, Api Nan Tak Kunjung Padam

  • Whatsapp
Menikmati pisang goreng dan sarabba di Kopi Tan Plus bersama Prof Amran Razak (dok: Pelakita.ID)

Semua orang tentu mau jabatan dan manfaat ekonomi tapi di tengah kompleksitas dan beban kehidupan sosial, harus ada garis tebal pada kita, pada seorang akademisi tentang pemihakan dan kesungguhan mengabdi.

Catatan setelah menikmati pisang goreng, sarabba, ditutup mie kuah ubi goreng di Kopi Tan Plus Tamalanrea bersama Demonstran dari Lorong Kambing, Prof Amran Razak.

PELAKITA.ID – Sore merayap pelan di lingkung Kopi Tan Pluas, Tamalanrea. Kendaran silih berganti meraung di Poros – Makassar – Maros itu. Di bilik cafe, aroma pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan menari di udara, berpadu dengan wangi sarabba yang mengepulkan uap manis dan pedas merica.

Di sudut ruangan, satu jaket merah tergantung diam menghadap ke barat—penanda ada tuan yang hanya sebentar meninggalkan tempatnya. Sepiring kudapan itu menunggu tuannya kembali dari musala, usai salat Magrib. :”Assambayang magribka rong ri musalla,” pesannya di whatsapp.

Tak lama, sosok itu muncul. Sosok yang penulis sering sapa ‘Tetta’ atau ayah dalam bahasa Mangkasara’.

Langkahnya mantap, matanya teduh, serasa masih ada bara yang tak pernah padam di dalamnya. Ia bergeser ke meja penulis dengan senyum yang mengundang cerita.

Dia Prof. Amran Razak, Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Seorang alumni ekonomi yang memilih mengabdi di dunia kesehatan, mengukir jalan sebagai pengajar dan peneliti ekonomi kesehatan.

Dia jua yang menjawab tantangan penulis untuk bersua dan menikmati kudapan pisang goreng dan hangat sarabba.  Awalnya penulis menyebut satu café di sudut Pintu 2 namun dibalas dengan opsi lain, Kopi Tan Plus.

“Nia sarabba’na.” balasnya pendek.

Bagi penulis, riwayat hidup Amran Razak adalah riwayat gerak. Di masa muda, ia adalah wajah-wajah lantang di barisan depan demonstrasi. Kegarangannya sudah tertulis di halaman-halaman sejarah pergerakan kampus.

Kini, setelah lebih dari empat dekade mengabdi, apinya tak juga meredup. Ia tetap hadir di berbagai forum—dari seminar serius hingga tawa lepas bersama alumni.

Bagi alumni SMA Negrri I Makassar angkatan tahun 1975 itu, tempat ini lebih dari sekadar kedai kopi. Ia memilih kafe yang bisa ditempuh dengan ojek delapan ribu rupiah dari rumah. Tempat singgah yang strategis, tempat bimbingan mahasiswa bisa berlangsung di sela-sela kudapan, di antara cerita, di ruang yang tak dibatasi tembok formalitas.

Menurutnya, seorang pendidik tidak boleh terkurung dalam selimut rutinitas. Ia harus keluar, menyingkap wajah zaman, dan menatap realitas—terutama realitas kesehatan masyarakat yang jadi medan perjuangannya.

Penulis mencatat, ada dua kegelisahan yang kerap ia suarakan. Pertama, profesi pendidik yang semakin terjebak pada bayang-bayang jabatan dan honorarium.

“Semua orang tentu mau jabatan dan manfaat ekonomi,” katanya, “tapi di tengah kompleksitas dan beban kehidupan sosial, harus ada garis tebal pada seorang akademisi tentang pemihakan dan kesungguhan.”

Ia memberi contoh yang tak jauh dari jangkauannya: masyarakat pesisir dan pulau-pulau di Sulawesi Selatan.

“Bagaimana kondisi kesehatan mereka, di Selayar, di Pangkep? Bagaimana pelayanan pemerintah? Di situlah empati harus bertumbuh. Bukan hanya kita sebagai mahasiswa, alumni tetapi civitas akdemika,”

Dikatakan Amran, di usia seperti sekarang ini, memang tak mesti seperti anak muda yang menggulung lengan baju dan berteriak lantang menggeber meja pejabat atau menyingkap kelakuan tak pantas rezim tapi saja dalam bentuk menjalarkan pesan, isyarat atau tanda-tanda.

Pemihakan itu, ia mulai gaungkan sejak mahasiswa—dari lorong-lorong kampus bersama kawan aktivis, hingga pasar kambing tempat ia belajar memahami akar masalah kehidupan. Tentang kisah penjual kambing dan problematika kehidupan.

Kini, ia mengaku masih kerap dihubungi kampus Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan dan lembaga profesi kesehatan, dari Sulawesi hingga Papua.

Baginya, itu rezeki sekaligus tanda bahwa perjuangan belum selesai. ”Sepanjang masih dibutuhkan, kita siap saja,” kata dia.

Dalam banyak presentasi atau lokakarya, Ia mengaku kerap mengangkat urgensi efektivitas dan efisiensi di sektor kesehatan: lampu rumah sakit yang menyala tanpa pasien, alat medis mahal yang dibeli namun tak terpakai.

“Efisiensi bukan sekadar menghemat, tapi memastikan setiap sumber daya benar-benar memberi manfaat,” ujar Guru Besar yang masih mendapat amanat dari Rektor Unhas untuk memimpin Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.

Prof Amran Razak di acara teranyar yang diikutinya (dok: Istimewa)

Selain kampus, ia aktif di organisasi alumni seperti IKA Smansa 75. Penulis mencatat sepak terjangnya sebagai alumnni sekolah menengah atas dengan tidak kurang seratusan alumni lainnya. Hari ini naik pinisi di Makassar, di waktu lain jalan-jalan ke Negeri Jiran.

Baginya, organisasi seperti IKA bukan sekadar ajang berkumpul, tapi ruang hidup untuk menyambung silaturahmi, menumbuhkan harapan, dan menjaga keberpihakan.

Sore itu, pisang goreng mulai dingin, sarabba tinggal separuh.  “Coba mie kuahnya, enak tawwa, tambahkan ubi goreng,” ajaknya ke penulis.

Tetapi percakapan kami terasa hangat, seperti bara yang tak ingin padam. Di wajah Prof. Amran, penulis melihat seorang guru besar yang tak pernah letih menyalakan api—api ilmu, api kepedulian, api keberpihakan. Api yang tak kunjung padam.

Malam merambat, pria kelahiran Maros itu menggaet jas merah almamater Unhas di kursi. ”Tarima kasi Nuntung,” katanya sembari menuju ke kasir.

Ada satu pertanyaan penulis yang urung kusampaikan. “Apa kiat menjaga badan tetap slim dan kuat bergerak di usia seperti sekarang tetta?” batin penulis sembari elus perut sendiri.  Halah!

Sosodara, selamat menyambut Hari Kemerdekaan dan Pemihakan NKRI!

___
Denun,

Tamarunang, 15 Agustus 2025