Resensi Buku “Saya Asal Macassar” – Menyusuri Jejak Makassar di Tanah Mandela

  • Whatsapp

Judul : Saya Asal Macassar
Penulis : Abdul Nasier
Penyunting : Ramadhan K.H. & Fitria Sari
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005
Tebal : xii + 253 halaman
Ukuran : 15,5 x 23,5 cm
ISBN : 979-461-569-2

PELAKITA.ID – Pagi ini, Selasa 12 Agustus 2025 atau lima hari sebelum hari Kemerdekaan RI yang ke-80, kawan sekolah penulis, Zainal Ibrahim, Asisten Pemkot Makassar mengirimkan gambar buku. Judulnya asik ‘Saya Asal Macassar’.

Saya lalu berkelana ke sejumlah situs dan menemukan informasi terkait buku itu.

Buku itu rupanya ditulis oleh mantan diplomat yang menuangkan pengalamannya di daerah penugasan dalam bentuk buku. Dia mengangkat kisah diaspora Makassar di Afrika Selatan—negeri yang akrab dengan nama Nelson Mandela. Penulisnya dan juga diplomat itu adalah Abdul Nasier.

Buku Saya Asal Macassar adalah salah satu pengecualian yang langka dan layak dibaca.

Ditulis oleh Abdul Nasier, mantan Konsul Jenderal sekaligus Duta Besar RI untuk Afrika Selatan dan Lesotho (2002–2005), buku ini mengajak pembaca menelusuri sejarah, budaya, dan kehidupan komunitas Cape Malay—keturunan Makassar yang sebagian besar merupakan pewaris spiritual Syekh Yusuf.

Seperti yang banyak tercatat dalam sejarah, Syekh Yusuf diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) pada 1694. Hingga kini, namanya tetap harum, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Afrika Selatan, di mana ia dihormati sebagai Pahlawan Nasional dan pemimpin umat Islam.

Buku ini terdiri dari tujuh bagian, diawali kata pengantar Ramadhan K.H., pendahuluan penulis, dan prolog.

  • Bagian pertama mengisahkan perjalanan “Dari Batavia ke Tanjung Harapan,” lengkap dengan detail lokasi dan kisah unik seperti “Lobang ke-3” dan “Padang Golf Esmeralda.”

  • Bagian kedua berjudul “Kampung Baru” menyoroti lembaga dan situs penting seperti Moslem Judicial Council, deretan Kramat, masjid-masjid di Cape Town, hingga kawasan Macassar-Faure.

  • Bagian ketiga “Tak Kenal Maka Tak Sayang” memperkenalkan tokoh-tokoh lokal yang merasa memiliki ikatan darah dengan Makassar, seperti Ahmad Davis dan Imam Bassier dari Bo-Kaap.

  • Bagian keempat “Soeharto Sobat Mandela” memotret hubungan diplomatik dan personal, termasuk kunjungan Presiden Soeharto ke makam Syekh Yusuf.

  • Bagian kelima “Dari Makassar ke Macassar” membahas Pesta Paskah di kompleks keramat, tokoh politik setempat, hingga warga keturunan Belanda yang punya jejak Indonesia.

  • Bagian keenam “Cape Malays” mengupas tradisi pernikahan, perayaan Lebaran 1999, dan sisi lain Cape Town.

  • Bagian ketujuh “Menyambung Kembali Dua Masyarakat yang Hilang” menyoroti momen bersejarah seperti Heritage Day 2004 dan pengakuan resmi Syekh Yusuf sebagai Pahlawan di Afrika Selatan.

Salah satu daya tarik buku ini adalah dokumentasi visualnya.

Hampir di setiap bagian, pembaca disuguhi foto-foto kegiatan kenegaraan dan interaksi masyarakat. Tercatat momen penting seperti Jusuf Kalla meresmikan renovasi Masjid Nurul Latief, serta kunjungan beliau ke makam Syekh Yusuf.

Namun, buku ini tidak sepenuhnya berfokus pada warga keturunan Makassar. Banyak bagian yang justru menceritakan pengalaman pribadi penulis dan peristiwa lain di Afrika Selatan yang tidak selalu terkait langsung dengan Makassar atau Syekh Yusuf. Kemungkinan karena Abdul Nasier sendiri bukan putra Makassar, sehingga pendekatan yang diambil lebih bersifat umum dan diplomatis ketimbang etnografis.

Meski demikian, Saya Asal Macassar tetap menjadi bacaan yang kaya wawasan—memadukan sejarah, diplomasi, dan potret kehidupan diaspora. Bagi pembaca yang ingin mengenal jejak Makassar di ujung selatan Afrika, buku ini adalah jendela yang membuka pandangan baru.

Tamarunang, 12 Agustus 2024