Upaya Pemdes Langkea Raya Tangani Sampah, dari Tong hingga Pengadaan Mobil Angkut

  • Whatsapp
Kades Langkea Raya, Marianus Rombe Bunga bersama Tim PPM SDGs serta monil pengangkut sampah di Langkea Raya (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Ada yang menarik dari Luwu Timur terkait pengelolaan sampah di desa-kelurahan di Lingkar Tambang. Pemda berencana menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Bupati H. Irwan Bachri Syam telah merilis rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) yang dijadwalkan dimulai pada tahun 2026.

Mobil sampah bantuan PPM PKPM PT Vale asal Wasuponda yang baru selesai mengangkut sampah ke Ussu (dok: Pelakita.ID)

Menurut Bupati, pembangunan fasilitas RDF akan dimulai tahun 2026. Ini adalah teknologi pengolahan sampah skala besar yang mampu mengubah limbah menjadi sumber energi alternatif. Dikatakan, hal ini bisa mengurangi ketergantungan pada sistem konvensional.

Inilah sinyal bahwa Luwu Timur sedang menghadapi tantangan makin meningkatnya produksi sampah baik rumah tangga maupun dari industri.

Pada saat yang sama, dua Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yaitu di Asana dan Asuli kini tak lagi dapat digunakan karena masih menggunakan metode open dumping yang tidak ramah lingkungan. Seluruh sampah kini dialihkan ke TPA Ussu di Kecamatan Malili.

Paralel dengan itu, Pemda juga menginisiasi pembangunan Tempat Pengolahan Sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di Desa Baruga, Kecamatan Towuti. Langkah ini diharapkan memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Suasana pengangkutan sampah ke TPA Ussu Malili (dok: Pelakita.ID)

Tantangan dan upaya Pemdes Langkea Raya

Berdasarkan perbincangan dengan Kepala Desa Langkea Raya, Marianus Rombe Bunga isu sampah memang menjadi persoalan di desa-desa termasuk di desa-desa yang ada di Towuti seperti Langkea Raya, Lioka, Pekaloa hingga Mahalona.

Saat ini, sejumlah desa mengusulkan kegiatan penyediaan tempat sampah, mobil sampah dan kendaraan roda dua pengangkut sampah melalui skema PPM SDGs. Beberapa desa seperti di Langkea Raya saat ini berencana atau sedang menyiapkan 300-an tempat sampah untuk memudahkan pengumpulan sampah oleh mobil sampah.

“Tantangan kita adalah masih terbatasnya kendaraan penjemput sampah, saat ini kami punya satu unit bantuan PPM SDGs Desa tapi ini masih kurang,” ujar Marianus.

Menurut Marianus, pengelolaan sampah secara kolaboratif menjadi penting saat ini, terutama kerjasama antar desa. Dia juga menyebut sejumlah tantangan di desa perlu penanganan baik oleh masyarakat sendiri maupun oleh komunitas peduli lingkungan.

“Sampah yang tidak dimasukkan ke tong sampah berpotensi dibongkar oleh anjing-anjing yang berkeliaran dan ini beban bagi kita semua kalau tidak ada tong sampah,” ucapnya.

Dikatakan Marianus, jika pemenuhan tong sampah sudah terpenuhi di beberapa rumah tangga, atau minimal RT maka upaya menjadikan Langkea Raya bebas sampah.

Mobil pengangkut sampah bantuan PPM PT Vale di Desa Puncak Malili (dok: Pelakita.ID)

”Tapi yang juga tidak kalah penting adalah kesadaran masyarakat. Biar berapa tong sampah,atau mobil beroperasi tidak ada gunanya kalau warga belum sepenuhnya sadar menangani sampah rumah tangganya,” tambahnya.

Terkait upaya PT Vale dalam membantu pemerintah desa dalam mengelola sampah diapresiasi oleh Marianus.

“Pendampingan PT Vale ini menurut saya ini sangat luar biasa juga. Kenapa? Karena melalui program ini kami selalu komunikasi. Program PPMini juga dirasakan masyarakat atau lebih baik dari program-program sebelumnya,” tambahnya.

”Ke depan tantangan kita adalah keamanan untuk sejumlah fasilitas yang sudah diadakan ini,s eperti tong sampah yang ada di sejumlah RT,” pungkasnya.

Redaksi