- Matano adalah bahasa lokal yang berarti “mata air.” Di tepi danau terdapat sebuah kolam mata air alami berukuran delapan kali dua belas meter. Di Desa Matano, warga menyebutnya Bura-Bura.
- Sungguh indah ciptaan Tuhan. Pesisir yang tenang, kubah-kubah masjid yang menyembul dari tepian, juga lanskap pegunungan yang menyerupai undakan dengan gradasi manis dan magis.”Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Mari jaga dan rawat dengan cinta.
- Perjalanan pagi itu bersama Tim PPM SDGs Desa laksana menyapu pemandangan pesisir sepanjang 28 kilometer dan merenangi keindahan selebar 8 kilometer.
PELAKITA.ID – Suarni Jufri nampak antusias pagi itu. Dia bersemangat sekali bercerita tentang jalur dan sejumlah spot memukau di sepanjang perjalanan menuju Desa Matano dari Dermaga Sorowako.
”Nanti pelan-pelan-ki di tepi danau le’, kasih lihat-ki teman-teman gua dan suasana pesisir hingga Lemo-Lemo,” ucapnya ke dua orang pembawa raft jalur Sorowako – Matano.


Penulis bersama tim PPM SDGs Desa PT Vale – The COMMIT Foundation bergerak meninggalkan dermaga Sorowako sekitar pukul 8.30 pagi. Hadir Jumardi Lanta, Suarni Jufri, Adolfina Sambo. Abdul Gani dan Zul. Suarni Adalah fasilitator desa Matano untuk PPM SDGs Desa.
Raft berbadan dua, dengan mesin double itu bergerak pelan, cadik dua bodi membelah danau. Dari atas raft penulis mereka denyut Sorowako pagi itu.
Sungguh indah ciptaan Tuhan. Pesisir yang tenang, kubah-kubah masjid yang menyembul dari tepian, juga lanskap pegunungan yang menyerupai undakan dengan gradasi manis dan magis.”Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Mari jaga dan rawat dengan cinta.”
Penulis yakin, jika Tuhan adalah paling kuasa pada teknik tersenyum, maka saat Matano dicipta, di situ senyum terbaik berpendar dari zat Alla azza wa Jalla.

Penulis merekam tidak kurang 5 kubah masjid terlihat dari tepi danau, dari timur ke barat. Sejumlah bangunan berkaki kayu nampak pula menghiasi tepi danau. Dari kejauhan nampak bahu Verbeek dan sejumlah bahu gunung yang telah dijamah tapi tak mengurangi keindahan, pesona dan nikmat mata sejauh memandang.
Inilah Matano, inilah Indonesia terkenal dengan kekayaan alamnya yang memukau, dan Danau Matano di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, adalah salah satu buktinya.
Terkenal sebagai salah satu danau terdalam di dunia, Matano memiliki kedalaman luar biasa—sekitar 590 meter—menjadikannya danau terdalam di Asia dan menempati peringkat kedelapan dunia.
Dikelilingi oleh perbukitan hijau dan hutan tropis yang rimbun, Danau Matano menyuguhkan panorama alam yang menenangkan jiwa dan raga sekaligus eksotis.
Perjalanan pagi itu bersama Tim PPM SDGs Desa seperti menyapu eksotisme pemandangan pesisir sepanjang 28 kilometer dan merenangi keindahan selebar 8 kilometer.
Para pembaca sekalian, danau ini disebut terbentuk akibat aktivitas tektonik pada masa Pliosen, disebut usianya 3 atau 4 juta tahun.
Paras danau ini berada di ketinggian 382 meter di atas laut Teluk Bone, sebagian dasarnya berada di bawah permukaan laut—a phenomenon known as cryptodepression.



Mata air
Matano adalah bahasa lokal yang berarti “mata air.” Di tepi danau terdapat sebuah kolam mata air alami berukuran delapan kali dua belas meter. Di Desa Matano, warga menyebutnya Bura-Bura.
Sebelum kami bergerak menuju pesisir yang dihiasi gua dan dihampari empat pulau – Suarni menyebutnya Pulau Ampat atau Raja Ampat-nya Matano, beberapa catatan terangkum. Bahwa di Matano, terdapat sejumlah spesies endemik seperti ikan butini, pangkilang, udang air tawar, kepiting, hingga kerang unik seperti Tylomelania.
Ada juga Gua Tengkorak – Salah satu gua di sekitar danau yang disebut menyimpan tulang belulang manusia, peralatan, dan perhiasan peninggalan masa lalu.
”Tapi yang kita tuju ini tempat sejumlah orang bisa datang menyelam atau snorkeling dan masuk ke hamparan gua, lalu bisa manjat dan terjun ke danau.” kata Suarni.


Pagi itu raft menyapu sisi danau, mendekat ke gua, lalu bergerak ke Lemolemo dan Raja Ampat Matano. Indah nian.
Untuk sosodara yang senang traveling, bisa ke Matano dan menikmati berbagai aktivitas wisata seperti renang, kayak, snorkeling dengan skin dive gear, hingga diving. Untuk yang senang sunrise atau sunset bisa ke Pantai Ide, Pantai Salonsa atau Pantai Molino.
Butuh waktu satu jam 15 menit untuk sampai ke dermaga Desa Matano, di barat. Desa ini Desa nomor 2 terbaik di Sulawesi Selatan karena keindahan dan daya tariknya.
Tak perlu diceritakan apa saja ada di sana, bayangkan saja, desa yang tenang, jauh dari huru-hara mesin kendaraan serta bunyi klakson siang malam.

Sebagai clue – untuk anda tergoda dan segera datang, di sini ada mata air Burabura yang fenomenal, yang buihnya bisa dipanggil dengan ucapa bura-bura, lalu ada spot pandai besi dan tentu view danau yang aduhai.
Di sini, di Desa Matano, kita seperti berada di sepotong surga yang telah disiapkan Sang Pencipta sembari menyungging senyum tanpa disertai surat tagihan cicilan mendesak.
Penulis Denun









