Prof Andi Adri Arief | Menafsir Laut, Membela Nelayan

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Suara dari Kampus untuk Pesisir yang Berkeadilan

____
PELAKITA.ID – Laut bukan sekadar bentang biru yang membujur luas. Ia adalah halaman rumah bagi jutaan nelayan kecil, ruang hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sayangnya, di balik keindahan samudera, tersembunyi ketimpangan yang kian dalam—ketika modernisasi datang membawa kapal besar, teknologi mutakhir, dan logika pasar yang dingin, sering kali nelayan kecil justru tersisih di laut mereka sendiri.

Dari ruang akademik di Makassar, seorang pemikir bernama Prof. Dr. Andi Adri Arief, S.Pi., M.Si. menyuarakan kegelisahan itu dalam bentuk tulisan, riset, dan orasi ilmiah.

Ia bukan sekadar dosen atau peneliti, melainkan penafsir laut, penjaga makna, dan pembela mereka yang suaranya sering tenggelam dalam debat pembangunan.

Sebagai Guru Besar Sosiologi Perikanan Universitas Hasanuddin, ia menempuh jalan sunyi: memadukan ilmu sosial, ekologi, dan teknologi dalam satu pendekatan yang ia sebut sosioteknologi.

Dalam karyanya, teknologi bukan hanya alat, tetapi simbol kekuasaan. Dan jika tidak dipandu oleh keadilan sosial, teknologi bisa berubah menjadi wajah baru dari penjajahan.

Sosioteknologi: Teknologi yang Berpihak pada Manusia

Prof. Adri Arief menolak pandangan lama bahwa modernisasi perikanan berarti mengganti perahu kecil dengan kapal besar, atau jaring sederhana dengan mesin pendingin canggih.

Baginya, modernisasi harus inklusif, kontekstual, dan adil. Nelayan kecil berhak mendapatkan teknologi yang sesuai dengan kondisi mereka—bukan disingkirkan oleh teknologi yang tak mereka pahami dan tak mampu mereka beli.

Lewat pendekatan sosioteknologi, ia mengajak para akademisi, pemerintah, dan pengambil kebijakan untuk merancang inovasi yang lahir dari kebutuhan sosial masyarakat pesisir.

Bukan hasil copy-paste dari industri besar, melainkan hasil dialog panjang dengan para nelayan, perempuan pesisir, dan tokoh adat. Di sana, teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan alat dominasi.

Kapitalisme dan Pulau Kecil: Suara dari Bawah

Dalam bukunya Nelayan Pulau Kecil dan Kapitalisme, Prof. Adri Arief memaparkan bagaimana sistem ekonomi global menyusup hingga ke perkampungan nelayan, mengubah struktur sosial dan pola hidup masyarakat.

Nelayan tak lagi sekadar menghadapi laut, tetapi juga menghadapi tengkulak, harga pasar dunia, bahkan konflik ruang dengan kapal industri yang merambah laut dangkal.

Ia menggambarkan dengan tajam bagaimana modal besar masuk ke desa kecil, membawa janji kesejahteraan yang semu, tetapi menyisakan ketergantungan dan ketimpangan.

Di sinilah ia kembali menegaskan pentingnya rekayasa sosial yang adil, penguatan modal sosial nelayan, dan pembaruan kebijakan pengelolaan pesisir yang berbasis komunitas.

Etnoekologi: Ketika Kearifan Lokal Menjadi Ilmu

Salah satu kekuatan pemikiran Prof. Adri Arief adalah keberaniannya memadukan pengetahuan tradisional dengan pendekatan ilmiah modern.

Ia menyebutnya sebagai etnoekologi: bagaimana nelayan lokal mengenali arah angin, musim ikan, siklus bulan, dan membaca gelombang laut—pengetahuan yang diwariskan secara lisan, namun terbukti relevan dalam menghadapi krisis iklim dan perubahan musim.

Baginya, pengetahuan lokal bukan barang usang, melainkan fondasi kedaulatan. Nelayan tidak hanya perlu dilibatkan sebagai objek pembangunan, tetapi harus ditempatkan sebagai subjek, pemilik pengetahuan, dan pengambil keputusan dalam setiap kebijakan pesisir.

Akademisi dan Aktivis dalam Satu Jiwa

Prof. Adri Arief bukan sekadar penulis buku dan pengajar. Ia adalah penggerak ide, penyusun naskah kebijakan publik, dan penggiat advokasi ruang laut sejak tahun 2009.

Ia terlibat aktif dalam penyusunan dokumen zonasi konservasi, rencana tata ruang pesisir, dan dialog partisipatif lintas sektor.

Dalam orasi pengukuhannya sebagai guru besar, ia menyampaikan pesan mendalam: bahwa pembangunan perikanan bukanlah sekadar urusan produksi dan ekspor, melainkan soal keberlanjutan hidup, hak generasi mendatang, dan keadilan antarwilayah.

Bahwa nelayan kecil dan perempuan pesisir tak boleh jadi korban modernisasi, tetapi harus menjadi mitra sejajar dalam pembangunan.

Menulis Laut, Menjaga Harapan

Tulisan-tulisan Prof. Adri Arief menandai jalan baru dalam kajian kelautan. Gaya tulisannya tidak hanya ilmiah, tapi juga puitis dan reflektif. Ia menulis dengan mata hati, menyatukan angka dengan cerita, teori dengan realitas, dan data dengan empati.

Ia menolak berpikir dari balik meja laboratorium semata. Ia memilih berjalan menyusuri kampung nelayan, mendengar suara yang tak terdengar, dan menyalakan obor kecil di tengah malam pembangunan yang kadang gelap arah.

Ia mengingatkan kita, bahwa laut bukan ruang kosong untuk dieksploitasi, tetapi rumah yang harus dijaga, diwarisi, dan dimuliakan.

Penutup

Di tengah hiruk pikuk pembangunan nasional yang kerap melupakan pinggiran, pemikiran Prof. Andi Adri Arief hadir sebagai pelita—menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak pada yang lemah, bahwa teknologi harus bersatu dengan budaya, dan bahwa pembangunan sejati adalah ketika semua anak bangsa, termasuk nelayan kecil, bisa hidup bermartabat di tanah airnya sendiri.

Tulisan-tulisannya adalah jejak perlawanan terhadap ketimpangan, sekaligus undangan bagi kita semua untuk membangun masa depan laut yang adil, lestari, dan manusiawi.


Muliadi Saleh

Penulis, Pemikir, Penggerak Literasi dan Kebudayaan
Moto: Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban