Mahasiswa KKN Unhas Hadirkan “Citro Guard” sebagai Inovasi Hijau Pengendalian Hama di Desa Cenning

  • Whatsapp
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin yang ditempatkan di Desa Cenning, Kecamatan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara, menghadirkan inovasi di bidang pertanian melalui program kerja berjudul “Citro Guard: Inovasi Hijau sebagai Upaya Pengendalian Hama dengan Pemanfaatan Tanaman Serai (Cymbopogon citratus)”.

PELAKITA.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin yang ditempatkan di Desa Cenning, Kecamatan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara, menghadirkan inovasi di bidang pertanian melalui program kerja berjudul “Citro Guard: Inovasi Hijau sebagai Upaya Pengendalian Hama dengan Pemanfaatan Tanaman Serai (Cymbopogon citratus)”, 31 Juli 2025.

Program ini digagas oleh M. Syauqi, mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat untuk mendukung pertanian yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.

Tujuan utama kegiatan ini adalah mengenalkan alternatif pengendalian hama berbasis nabati agar petani dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang berisiko merusak lingkungan dan membahayakan kesehatan.

Kegiatan dilaksanakan pada Kamis (31/7) di Aula Kantor Desa Cenning. Peserta kegiatan terdiri dari kelompok tani, pemuda tani, perangkat desa, ibu-ibu PKK, serta siswa SMK 6 Luwu Utara yang bergerak di bidang pertanian.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin yang ditempatkan di Desa Cenning, Kecamatan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara, menghadirkan inovasi di bidang pertanian melalui program kerja berjudul “Citro Guard: Inovasi Hijau sebagai Upaya Pengendalian Hama dengan Pemanfaatan Tanaman Serai (Cymbopogon citratus)”.

Kepala Desa Cenning, Hasriadi, S.H., turut hadir dan memberikan apresiasi. “Pelatihan seperti ini sangat bermanfaat karena memberdayakan masyarakat sekaligus mendukung pertanian berwawasan lingkungan berbasis kearifan lokal,” ujarnya.

Program pembuatan pestisida nabati Citro Guard memiliki potensi tidak hanya di sektor pertanian, tetapi juga sebagai peluang usaha mikro yang dapat dikelola ibu-ibu PKK.

Dengan bahan baku serai yang tumbuh subur di sekitar desa dan proses pembuatan yang sederhana, Citro Guard bisa diproduksi secara berkelanjutan dalam skala rumah tangga.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pestisida nabati, jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan, serta dampak negatif penggunaan pestisida kimia, seperti kerusakan mikroorganisme tanah, pencemaran air, dan penurunan kualitas panen.

Setelah itu, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan Citro Guard menggunakan bahan utama serai serta bahan tambahan seperti daun pepaya, daun sirsak, lidah buaya, dan bawang putih.

Prosesnya meliputi pencacahan, pencampuran dengan air, penyaringan, hingga uji coba di lahan warga pada tanaman cabai dan jagung.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu memproduksi pestisida nabati sendiri, mengurangi penggunaan pestisida kimia, dan mendukung pertanian yang berkelanjutan.

Inovasi Citro Guard menjadi contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk mewujudkan pertanian ramah lingkungan yang lebih mandiri.

Penulis Winda, mahasiswa Teknik Pertambangan