Isu Sampah di Luwu Timur: Peluang dan Aksi Nyata Kolaborasi Program

  • Whatsapp
Silaturahmi mahasiswa KKN Unhas, Tim COMMIT dan pengelola Bumdess (dok: Pelakita.ID)

Dengan memanfaatkan sumber daya lokal serta partisipasi aktif warga, desa-desa dapat menciptakan ekonomi sirkular yang bersih sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana edukasi, inovasi, dan kemitraan dapat menjawab tantangan lingkungan sekaligus membuka jalan bagi perubahan positif di pedesaan.

PELAKITA.IID – Luwu Timur tengah menghadapi persoalan serius terkait pengelolaan sampah, terutama di tingkat desa. Infrastruktur pendukung seperti TPS, TPST, dan bank sampah belum merata, membuat banyak warga masih membuang sampah sembarangan.

Demiikian catatan dari pertemuan silaturahmi mahasiswa KKN Unhas Tematik dengan pendamping masyarakat PPM The COMMIT Foundation di Pontada, 31 Juli 2025.

Disebutkan juga bahwa kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan anorganik juga belum sepenuhnya terbentuk. Tantangan lain muncul dari sulitnya mengangkut sampah hijau seperti daun dan ranting yang volumenya besar, sementara anggaran desa untuk program pengelolaan sampah masih terbatas.

Meski demikian, terdapat banyak peluang yang dapat dimanfaatkan. Sampah organik berpotensi diolah menjadi kompos atau pupuk cair yang bernilai ekonomi.

Bank sampah yang pernah ada di sejumlah desa bisa diaktifkan kembali sebagai pusat daur ulang. Berbagai program kreatif masyarakat seperti lomba daur ulang dan kampanye pemilahan sampah mulai menarik perhatian warga, terutama generasi muda bisa jadi alternatif.

Pemerintah daerah Luwu Timur sesungguhnya telah melaksanakan berbagai program, mulai dari pelatihan dan sosialisasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) hingga pengembangan bahan bakar alternatif dari sampah bekerja sama dengan PLN.

Dinas Lingkungan Hidup di bawah Pemerintahan Irwan Bachri Syam juga rutin menyelenggarakan pelatihan teknis pengelolaan sampah desa, sementara penerapan skema hibah program berbasis kinerja diharapkan dapat memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah di tingkat lokal.

Pada silaturahmi antara mahasiswa KKN Unhas tersebut, hadir pula tokoh pemuda Towuti, Denny Patandung yang ikut memberi pandangan mengenai rencana pembentukan TPS 3R berbasis swadaya masyarakat, pemanfaatan teknologi sederhana seperti biopori dengan botol plastik bekas, serta mekanisme penggalangan modal melalui koperasi atau partisipasi warga termasuk peluang kerjasama dengan PT Vale.

”Upaya ini tidak hanya fokus pada penyediaan fasilitas, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat, khususnya generasi muda,” kata Denny.

Sementara itu, Darsam, fasilitator COMMIT Foundation menyebut diperlukan pelatihan kreatif berbasis pengelolaan sampah dirancang untuk menumbuhkan kesadaran sekaligus memberikan peluang usaha baru bagi warga desa.

Dia menyebut, melalui sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga masyarakat, Luwu Timur memiliki peluang besar untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, mandiri, dan berkelanjutan.

Dengan memanfaatkan sumber daya lokal serta partisipasi aktif warga, desa-desa dapat menciptakan ekonomi sirkular yang bersih sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana edukasi, inovasi, dan kemitraan dapat menjawab tantangan lingkungan sekaligus membuka jalan bagi perubahan positif di pedesaan.

Beberapa tantangan

Pertama,  keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah. Banyak desa belum memiliki TPS, TPST, bank sampah aktif, atau sistem pengangkutan yang memadai.

Kedua, kesadaran masyarakat yang masih rendah.  Warga sering membuang sampah sembarangan dan belum terbiasa memilah sampah organik dan anorganik.

Ketiga, minimnya pendanaan dan dukungan anggaran desa. Pengelolaan sampah sering tidak menjadi prioritas dalam penggunaan dana desa, sehingga program yang berjalan tidak berkelanjutan.

Keempat, volume sampah hijau yang sulit dikelola. Sampah seperti daun dan ranting sering menumpuk karena tidak ada sistem pengangkutan atau pemanfaatan yang efektif.

Kelima, kurangnya tenaga terlatih dan kelembagaan lokal. Desa banyak yang belum memiliki kelompok pengelola sampah yang kuat, sehingga sulit menjalankan bank sampah, komposting, atau program 3R secara konsisten.

Selain itu, tantangan lain mencakup rendahnya akses terhadap teknologi pengolahan sampah, keterbatasan pasar untuk produk daur ulang, serta lemahnya regulasi dan penegakan aturan terkait pengelolaan sampah di tingkat lokal.

Mengarah ke sana

Tanda-tanda ke sana telah ditunjukan di beberapa desa, seperti pada pantauan Pelakita.ID, di Desa Langkea Raya telah dilaksanakan program pengadaan tong sampah dengan target mencapai 300-an lebih untuk ditempatkan di beberapa dusun, dengan demikian akan dijemput oleh Mobil Pengelola Sampah yang telah dibantukan PT Vale.

Geliat pengelolaan sampah di Langkea Raya (dok: Istimewa)

Di Desa Pekaloa, mobil sampah pun telah beroperasi dari dusun ke dusun, juga dibantukan oleh PT Vale dan harapannya akan dibawa ke TPA yang menjadi muara sejumlah desa dan keluarhan di Lingkar Tambang.

Kepala Desa Edy Denda menyebut perlu kolaborasi untuk bisa bersama-sama menuntaskan masalah sampah di kawasan Towuti.

”Tapi yang lebih pokok adalah kesadaran warga, Pemerintah pasti akan kesulitan kalau warga tidak ikut berpartisipasi, minimal mengelola sampah di rumah masing-masih saja dulu,” katanya saat ditemui Pelakita.ID

Penulis Kamaruddin Azis