Teknologi Tanpa Etika: Jalan Menuju Kehancuran

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

PELAKITA.ID – Di tengah kecanggihan algoritma, manusia kini berdiri di persimpangan sejarah: satu arah menjanjikan masa depan penuh keajaiban, sementara arah lainnya perlahan menyeret kita menuju redupnya kemanusiaan.

Di balik layar sentuh dan chip canggih, dunia bergemuruh dalam sunyi—teknologi melaju tanpa arah, meninggalkan akhlak yang tertinggal di stasiun sepi bernama etika.

Teknologi seharusnya memanusiakan manusia—bukan menaklukkan, apalagi memperbudak. Namun hari ini, kita menyaksikan paradoks: ketika robot belajar mengenali emosi, manusia justru kehilangan empatinya.

Ketika kecerdasan buatan mendekati kesempurnaan logika, nurani perlahan mengering. Ketika data dipuja bak berhala, martabat manusia menyusut menjadi sekadar angka.

Para sufi telah lama mengajarkan, “Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa cahaya.” Abu Yazid al-Busthami bahkan mengingatkan, “Tidak setiap yang bisa dilakukan harus dilakukan.”

Kebebasan bukan berarti kebablasan; kemampuan mencipta harus tunduk pada kebijaksanaan dalam menggunakan. Bagi para sufi, teknologi hanyalah alat—bukan tuan, bukan kiblat. Namun kini dunia seakan terbalik: alat telah menjadi arah, data telah menjelma agama baru.

Kita hidup di era di mana setiap langkah direkam, wajah diawasi, suara direkam, dan preferensi dipetakan—lalu dijual, ditambang, dieksploitasi. Privasi kian memudar, kesucian makin sulit dijaga. Bahkan hati dapat diretas oleh notifikasi, dan jiwa dikendalikan oleh algoritma tak kasat mata.

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memberi peringatan, “Celakalah bagi orang yang menumpuk ilmu tetapi tidak menjadikannya jalan menuju Tuhan.”

Dunia hari ini seakan mengulang kelengahan itu: ilmu berkembang tanpa hikmah, teknologi diciptakan tanpa tanggung jawab. Tak heran jika kemajuan justru melahirkan kegaduhan, kecemasan, dan kerentanan manusia.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum itu.” Jika manusia menyerupai teknologi yang dingin—tanpa nurani, hanya menghitung untung-rugi—bukankah perlahan kita berubah menjadi mesin? Ruh makin menipis, tercerabut dari akar-akar nilai.

Kita membutuhkan teknologi yang berjiwa—kecanggihan yang bersujud. Bukan hanya kecerdasan buatan yang pintar, tetapi juga masyarakat yang arif.

Bukan hanya revolusi digital, tetapi juga revolusi moral. Bukan hanya kompetensi digital, tetapi juga kesadaran spiritual. Sebab ketika kemajuan berjalan tanpa etika, dunia hanya akan menjadi labirin: tampak keren di luar, tetapi kosong di dalam.

Di tengah dunia yang semakin terotomatisasi, suara para sufi justru semakin relevan. Mereka mengajarkan bahwa kemajuan sejati bukan sekadar apa yang dapat dibuat, melainkan apa yang dapat dijaga.

Etika, cinta, tanggung jawab, dan kasih sayang—nilai-nilai yang tak bisa diprogram, tetapi bisa ditanam; tak bisa dikodekan, tetapi bisa dihidupkan.

Indonesia harus bangkit dengan arah yang jelas. Tak cukup mengejar revolusi industri jika kehilangan arah spiritual. Tak cukup membangun pusat data jika pusat hati tak terjaga.

Tak cukup mempersiapkan SDM unggul jika dimensi batin diabaikan. Teknologi tanpa jiwa hanyalah pisau bermata dua: bisa menyembuhkan, tetapi juga melukai; bisa mencerdaskan, tetapi juga memiskinkan nurani.

Kini kita perlu bertanya: “Apakah teknologi yang kita kembangkan membawa kita menuju kemuliaan, atau justru menuju kehancuran?” Jika jawabannya belum jelas, inilah saatnya menoleh ke dalam—menemukan kembali hakikat, menemukan kembali arah. Sebagaimana kata Rumi, “Apa pun yang kamu cari, carilah dulu dalam dirimu.”

Jika teknologi tanpa etika adalah jalan menuju kehancuran, maka etika yang bersumber dari iman, kebijaksanaan, dan cinta adalah jalan pulang kita—pulang ke fitrah.


Tentang Penulis:
Muliadi Saleh – Penulis, Pemikir, dan Penggerak Literasi.
Moto: “Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban.”