Prabowo Sayang, Lembong (Tak Lagi) Malang

  • Whatsapp
Tom Lembong (source: Altomerge.Com)

Keputusan Prabowo memberi pengampunan kepada Lembong menjadi kejutan besar. Langkah ini seolah membalik kesan bahwa Prabowo hanya melanjutkan gaya kepemimpinan pendahulunya yang kerap dituding mengekang oposisi melalui hukum.

PELAKITA.ID – Pekan ini publik dikejutkan oleh kabar yang jarang terjadi: Presiden Prabowo Subianto memberi abolisi kepada Thomas “Tom” Lembong, mantan Menteri Perdagangan yang sebelumnya divonis 4,5 tahun penjara dalam kasus impor gula.

Keputusan ini memunculkan banyak tafsir. Apakah ini tanda arah angin politik mulai berubah?

Apakah Prabowo kini menunjukkan kemandiriannya dari bayang-bayang kekuatan yang selama ini dianggap memengaruhinya?

Kasus yang Aneh dan Dipaksakan

Sejak awal, kasus yang menjerat Tom Lembong terasa janggal. Ia dihukum karena menerbitkan izin impor gula sebesar 105.000 ton pada 2024, yang disebut merugikan negara hingga ratusan miliar rupiah. Namun, tidak ada bukti bahwa Lembong menerima keuntungan pribadi. Vonis tetap dijatuhkan meskipun hakim mengakui tidak ada mens rea, atau niat jahat, dalam kebijakan yang ia ambil.

Keanehan lain adalah beratnya hukuman untuk sebuah pelanggaran yang lebih bersifat administratif.

Tim pembela Lembong berulang kali menegaskan bahwa tuduhan korupsi yang disematkan tidak memiliki dasar kuat, dan kebijakan impor itu dilakukan semata untuk menjaga pasokan pangan.

Publik pun mempertanyakan: apakah kasus ini benar-benar soal hukum, atau ada kepentingan politik yang lebih besar di baliknya?

Nuansa Politik dan Dendam Lama

Kecurigaan menguat karena Lembong adalah salah satu pendukung utama Anies Baswedan dalam Pilpres 2024. Ini jelas alurnya. Ia menjadi salah satu manajer kampanye Anies dan dikenal sebagai sosok yang tajam dan kritis terhadap pemerintah sebelumnya.

Penetapan Lembong sebagai tersangka yang dilakukan tak lama setelah Prabowo resmi menjabat presiden menimbulkan spekulasi: apakah kasus ini merupakan pesan kepada oposisi agar tak terlalu vokal? Urat nadi kecurigaan sangat jelas. Seperti aliran darah emosi yang dipertontonkan dari sidang ke sidang, dari kanal berita ke kanal berita.

Alih-alih menarget Anies secara langsung, memilih Lembong sebagai “contoh” tampak lebih aman secara politik. Ia cukup dikenal publik, tetapi tidak memiliki basis massa sebesar Anies. Inilah tontonan paling politis di negeri ini. Negeri yang Presidennya mengagung-agungkan demokrasi, kekuasaan rakyat.

Tiba-Tiba Dibebaskan: Ada Apa dengan Prabowo?

Tapi bagi pembaca kritis, bagi netizen yang jeli ini membuat kasus Lembong menjadi simbol bahwa kekuasaan bisa “menyentuh” siapa pun yang berada di sisi berseberangan. Semesta global bahkan ikut bicara. Prabowo tak bisa diam.

Keputusan Prabowo memberi pengampunan kepada Lembong menjadi kejutan besar. Langkah ini seolah membalik kesan bahwa Prabowo hanya melanjutkan gaya kepemimpinan pendahulunya yang kerap dituding mengekang oposisi melalui hukum.

Banyak yang membaca ini sebagai sinyal bahwa Prabowo mulai menunjukkan kemandirian politiknya. Ia tidak lagi sepenuhnya tunduk pada kekuatan lama, terutama yang terkait dengan lingkaran Jokowi. Mungkin, ini adalah awal dari arah politik baru yang lebih inklusif dan mencoba merangkul berbagai pihak.

Makna bagi Demokrasi dan Politik Nasional

Pembebasan Lembong bisa menjadi titik balik. Jika benar Prabowo ingin mematahkan anggapan bahwa hukum selama ini digunakan sebagai alat kekuasaan, maka langkah ini patut diapresiasi. Namun, tantangannya jauh lebih besar: membangun sistem hukum yang adil, bukan sekadar memberi pengampunan ketika tekanan publik memuncak.

Di sisi lain, keputusan ini semakin memperkuat adanya peluang rekonsiliasi politik. PDI-P yang sebelumnya berada di luar pemerintahan mungkin memiliki ruang untuk kembali mendekat. Bahkan Anies Baswedan, yang dulu dekat dengan Prabowo, bisa saja kembali memiliki hubungan politik yang lebih cair.

Tentu saja, semua masih penuh tanda tanya. Apakah ini sekadar langkah taktis Prabowo untuk memperluas basis dukungan? Ataukah benar-benar cerminan perubahan gaya kepemimpinannya? Kasus Tom Lembong adalah potret tarik-menarik antara hukum dan politik di Indonesia.

Ia menjadi pengingat bahwa demokrasi bisa tergelincir ketika hukum dipakai sebagai senjata. Tapi keputusan Prabowo untuk membebaskannya memberi secercah harapan bahwa koreksi masih mungkin dilakukan, bahkan oleh penguasa itu sendiri.

Jika langkah ini konsisten diikuti dengan pembenahan sistem hukum, demokrasi Indonesia bisa mendapat napas baru. Dan jika ribuan “Tom Lembong” di luar sana tak lagi takut bersuara, barangkali kita bisa mengatakan bahwa politik Indonesia sedang bergerak menuju arah yang lebih sehat.

Dari Makassar, kolega Anies, Asri Tadda merespon dengan tenang.  Kata dia, makin asik ini politik nasional.  “Insha Allah, Indonesia akan baik-baik saja sepanjang PS08 pegang kendali. Kita doakan beliau sehat dan panjang umur dalam memimpin bangsa, mengembalikan kejayaan ekonomi negara kaya ini,”pesannya.

Begitulah sosodara, untuk saat ini, satu hal pasti: Tom Lembong tak lagi malang, dan Prabowo mulai menunjukkan kasih sayangnya.

Penulis Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID
Sorowako, 1 Agustus 2025