Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas Dorong Pertanian Berkelanjutan Lewat Program SEKAMPAT di Desa Tanjonga

  • Whatsapp
Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas Dorong Pertanian Berkelanjutan Lewat Program SEKAMPAT di Desa Tanjonga (dok: Istimewa)

Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan di Jeneponto membaca betapa mahalnya pupuk. Dari situ kemudian dicari literatur untuk pemanfaatan abu sekam untuk pengganti atau pupuk alami. 

PELAKITA.ID – Jeneponto, 23 Juli 2025 – Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Angkatan 67 Universitas Hasanuddin menggelar program inovatif bertajuk SEKAMPAT (Pemanfaatan Abu Sekam Padi sebagai Pupuk Alami untuk Pertanian Berkelanjutan).

Kegiatan berlangsung di Kantor Desa Tanjonga, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, 23 Juli 2025.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari aparatur desa, kader kesehatan, dan puluhan warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani padi, jagung, dan lombok.

Paparan oleh penulis terkait Program SEKAMPAT

“Tujuan utama program ini adalah memberikan edukasi mengenai manfaat penggunaan pupuk alami, khususnya abu sekam padi, sebagai alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia,” terang M. Zulkifli Sahar, peserta KKN Profesi Kesehatan.

Menurut Zulkifli, mahasiswa KKN membawakan materi edukatif yang dikemas ringan dan interaktif.

Mereka juga membagikan poster berjudul “Petani dan Alam” yang memuat informasi praktis tentang keunggulan pupuk alami.

Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan membagikan door prize sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi masyarakat. (dok: Istimewa)

Sebagai bagian dari kegiatan, dilakukan pula demonstrasi langsung cara pembuatan pupuk dari abu sekam padi.

“Praktik ini memberikan gambaran nyata bagi warga tentang kemudahan dan manfaat pemanfaatan limbah pertanian untuk mendukung kesuburan tanah,” sebut Zulkifli.

Salah satu temuan menarik dari diskusi bersama warga adalah banyaknya masyarakat yang sebelumnya hanya mengetahui abu sekam padi sebagai abu gosok untuk menghilangkan noda pada peralatan rumah tangga seperti panci.

Ada potensi limbah sekam padi dari gudang penggilingan padi. Selama ini dijual 10 ribu untuk satu karung besar.

Melalui program ini, mereka menyadari bahwa abu sekam padi ternyata memiliki potensi lain sebagai pupuk alami yang lebih murah dibandingkan dengan pupuk kimia yang harganya semakin mahal.

Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi yang muncul selama sesi edukasi. Banyak petani menyatakan ketertarikannya untuk mencoba teknik ini di lahan mereka.

Acara kemudian ditutup dengan pembagian door prize sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi masyarakat.

Melalui SEKAMPAT, mahasiswa berharap dapat menumbuhkan kesadaran lingkungan dan mendorong praktik pertanian yang lebih sehat, hemat biaya, dan berkelanjutan.

Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Tanjonga dalam mengoptimalkan potensi lokal untuk pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Penulis: M. Zulkifli Sahar