Local Champion: Para Penjaga Nilai, Aktor Tanpa Panggung

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID
  • Mereka adalah tubuh dan jiwa dari perlawanan etis terhadap kerusakan yang selama ini dianggap “normal”. Dalam logika Habermas, mereka berdiri di antara dunia kehidupan (lifeworld) dan sistem birokratis yang terus memperluas kolonisasinya.
  • Peran mereka tidak bisa digantikan oleh regulasi atau teknologi. Mereka menolak menjadi “objek intervensi” dan memilih menjadi subjek perubahan—counter-hegemonic agents yang menantang narasi dominan negara maupun lembaga pembangunan.

 

Prof. Dr. Andi Adri Arief, S.Pi., M.Si
Guru Besar Sosiologi Perikanan, Universitas Hasanuddin

PELAKITA.ID – Dalam diskursus pembangunan, local champion merujuk pada aktor-aktor akar rumput yang memiliki legitimasi sosial, kepekaan moral, dan pengaruh kultural di komunitasnya.

Mereka bukan pejabat desa, kader proyek, atau fasilitator eksternal—melainkan sosok yang secara konsisten menjaga kehidupan komunitas dari dalam melalui tindakan nyata dan keteladanan.

Siapa Sebenarnya Local Champion Itu?

Secara teoritis, mereka adalah agen transformasi dalam kerangka strukturasi Giddens—mampu mereproduksi struktur sosial dari bawah lewat praktik sehari-hari.

Dalam perspektif Bourdieu, mereka memiliki modal simbolik: dihormati bukan karena kuasa, tetapi karena integritas.

Paulo Freire menyebut mereka sebagai hasil dari kesadaran kritis yang lahir dari pengalaman langsung atas ketertindasan, lalu bergerak melalui refleksi dan aksi.

Tiga Kisah Kesadaran yang Mengubah Arah Komunitas (Studi di Kepulauan Selayar)

Mappalewa Dulunya pengguna bom*) dan sianida, terjerat utang dan budaya konsumtif. Kesadaran spiritual dan hukum membuatnya meninggalkan praktik destruktif. Kini ia memimpin LPSP (Lembaga Pengelolaan Sumberdaya Pesisir) dan membimbing nelayan lain untuk bertobat.

Muhammad ArsyadMantan pelaku dan pedagang bom serta sianida yang kini menjadi Kepala Desa Bontolebang. Ia memadukan kekuatan struktural (kepala desa) dan kultural (orang dalam komunitas) untuk memutus jaringan destructive fishing dengan strategi cerdas dan partisipatif.

Yudi AnsarSetelah mengalami tragedi ledakan bom, ia meninggalkan praktik merusak dan menjadi kepala LPSP. Ia memimpin transisi kolektif menuju perikanan ramah lingkungan, membangun jaringan antardesa, sekaligus tetap melaut agar transformasi yang ia bawa tidak menjadi jargon, tetapi teladan nyata.

Mengapa Kisah Mereka Penting?

Mereka adalah tubuh dan jiwa dari perlawanan etis terhadap kerusakan yang selama ini dianggap “normal”.

Dalam logika Habermas, mereka berdiri di antara dunia kehidupan (lifeworld) dan sistem birokratis yang terus memperluas kolonisasinya.

Peran mereka tidak bisa digantikan oleh regulasi atau teknologi. Mereka menolak menjadi “objek intervensi” dan memilih menjadi subjek perubahan—counter-hegemonic agents yang menantang narasi dominan negara maupun lembaga pembangunan.

Local Champion: Mereka Tak Butuh Dikenal, Tapi Harus Diakui

Sebagian dari mereka adalah tokoh adat, ibu rumah tangga penggerak, pemuda putus sekolah, atau bahkan mantan pelaku destructive fishing.

Kesadaran mereka bukan lahir dari pelatihan, tetapi dari luka sosial-ekologis, pertarungan batin, dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan komunitas.

Pendekatan teknokratis seringkali gagal memahami hal ini. Solusi sejati tumbuh dari partisipasi otentik, di mana dialog dan pengalaman memiliki bobot yang sama pentingnya dengan data.

Ketimpangan di Laut adalah Cerminan Kekuasaan di Darat

Praktik perikanan yang destruktif bukan sekadar akibat kurangnya pengetahuan atau lemahnya hukum, melainkan manifestasi dari ketimpangan struktural dan relasi kuasa: kapital mengendalikan tata niaga, birokrasi membungkam partisipasi, dan elite lokal menjadi makelar proyek.

Dalam kerangka Gramsci, local champion adalah bagian dari counter-hegemonic bloc yang menantang dominasi moral dan kultural kelas penguasa. Mereka bukan hanya memperbaiki teknik, tetapi meredefinisi makna kelautan, perikanan, dan pembangunan.

Dari Eksploitasi ke Regenerasi

Local champion menggeser paradigma produksi dari eksploitasi sumber daya ke regenerasi nilai sosial. Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, atau pengolahan hasil laut skala rumah tangga hingga pembentukan kawasan konservasi berbasis adat

Mereka menciptakan ruang produksi alternatif, sebagaimana disebut David Harvey—ruang di mana nilai ditentukan oleh kebutuhan komunitas, bukan logika akumulasi kapital.

Distribusi: Menantang Jaringan Tengkulak

Jaringan tengkulak dan eksportir besar yang menguasai distribusi hasil laut dilawan dengan pembentukan koperasi nelayan, akses pasar langsung, dan skema distribusi berbasis keadilan.

Sejalan dengan pemikiran Polanyi dalam The Great Transformation, pasar harus kembali embedded dalam norma sosial dan etika komunitas. Strategi ini menjadi bentuk re-embedding pasar—mengikatnya kembali dengan solidaritas sosial, bukan semata komodifikasi.

Pada sisi lain, Negara kerap memaknai konservasi sebatas zonasi dan pengawasan. Namun, masyarakat pesisir memiliki etika ekologis yang lebih dalam—sasi, panglima laot, dan totem adalah ekspresi relasi spiritual dengan alam.

Durkheim menyebutnya solidaritas organik: norma kolektif yang dijaga bukan oleh sanksi hukum, tetapi oleh rasa hormat. Local champion menjadi penjaga norma ekologis dan memori kolektif ini.

Bagaimana Menemukan dan Berjalan Bersama Mereka?

Local champion tidak bisa direkrut—mereka harus ditemukan dengan kerendahan hati dan didampingi dengan kepercayaan.

Datangi Mereka, Bukan Undang Mereka. Hadir di ruang sosial mereka. Tidak semua perubahan dibangun lewat rapat dan modul.

Dengarkan, Bukan Transfer Pengetahuan. Pendidikan sejati tumbuh dari dialog, bukan sekadar formula.

Ko-Kreasi Program, Bukan Replikasi Proyek. Program harus adaptif, berbasis konteks lokal.

Lindungi dari Kooptasi Politik. Saat mulai dikenal, mereka rawan dipolitisasi.

Strategi Penguatan Nyata

Pengakuan Formal – Libatkan mereka dalam sistem kebijakan tanpa merusak independensi.

Jaringan Horizontal – Perkuat jejaring antar-champion lintas pulau, isu, dan generasi.

Pendidikan Partisipatif Reflektif – Pelatihan berbasis pengalaman dan nilai lokal, bukan sekadar instruksi teknis.

Kelembagaan Komunitas – Bentuk aliansi sosial untuk memperkuat advokasi dan perlindungan sumber daya.

Pembaca sekalian, mereka tidak menunggu diselamatkan. Mereka tidak haus pengakuan. Mereka hanya ingin dipercaya.

Jika pembangunan masih bertumpu pada proyek, maka ia akan mengulang luka yang sama. Namun jika ia bertumpu pada relasi, nilai, dan kepercayaan, maka yang dibangun bukan sekadar program—tetapi masa depan.

Di tengah badai proposal dan gelombang donor, local champion berdiri seperti karang—sunyi, kokoh, dan menjaga kehidupan.

 

Editor Denun

___
*}Membom ikan adalah perbuatan melanggar UU dan dapat dihukum penjara.