Ironi Menghargai Waktu: Tepat Waktu Disalahkan, yang Telat Dimuliakan

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Fenomena serupa terjadi di banyak kegiatan lain: rapat yang baru dimulai setelah semua peserta hadir meski sudah lewat jadwal, kelas yang molor karena menunggu mahasiswa yang terlambat, bahkan acara resmi pemerintahan yang ditunda sampai pejabat tertentu datang. Semua ini mengirimkan pesan diam-diam: keterlambatan bisa dimaklumi, bahkan diagungkan.

Muliadi Saleh

Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan

PELAKITA.ID – Suatu sore yang teduh, saya datang lebih awal ke sebuah undangan pernikahan di kota kecil tempat saya dibesarkan. Jalanan masih lengang, kursi-kursi berderet rapi di bawah tenda putih, bunga-bunga segar belum sepenuhnya mekar, dan aroma masakan samar-samar menyeruak dari dapur.

Saya duduk menunggu, memandang jam tangan berkali-kali, lalu tersenyum kecut saat menyadari: acara belum juga dimulai.

Satu jam kemudian, tamu-tamu mulai berdatangan. Ada yang datang tergesa-gesa, ada pula yang melangkah santai seolah dunia sedang menunggu mereka. Saat mereka yang datang belakangan duduk, panitia justru mulai menghidangkan jamuan dan membuka acara dengan hangat.

Sementara saya yang datang lebih dulu, justru sudah letih menunggu. Hati saya bertanya lirih: bukankah datang tepat waktu adalah kebaikan? Mengapa yang terlambat justru terlihat lebih dimuliakan?

Fenomena ini tidak hanya terjadi di hajatan kampung. Dalam berbagai acara resmi, rapat kantor, hingga seminar, pemandangan serupa sering kita jumpai. Orang yang datang tepat waktu sering menjadi “korban” budaya nanti saja yang entah sejak kapan mengakar di masyarakat.

Mereka duduk di kursi depan, memegang cangkir kopi yang sudah dingin, memandangi jam dinding yang seolah berjalan mundur. Ketika akhirnya acara dimulai, justru yang datang belakangan mendapat sambutan meriah, kursi istimewa, bahkan kadang tatapan kagum karena dianggap sibuk.

Bukankah ini sebuah ironi? Yang benar justru disalahkan, yang salah dibenarkan. Kita percaya disiplin adalah fondasi kemajuan, tetapi praktik sehari-hari sering meruntuhkannya dengan alasan sepele: macet, ada urusan mendadak, atau “ah, acara belum mulai kalau datang pas waktu.” Tanpa sadar, kita menanamkan benih mentalitas yang berlawanan dengan cita-cita kita sendiri.

Bayangkan sebuah undangan yang dijadwalkan pukul 10.00. Mereka yang datang tepat pukul 10.00 menunggu hingga 11.00, sementara yang baru tiba pukul 10.50 atau 11.00 hadir tepat saat acara dimulai.

Siapa yang akhirnya terlihat tepat waktu? Padahal secara sederhana, merekalah yang sebenarnya melanggar janji waktu yang tertulis jelas di undangan.

Ironi ini bukan sekadar soal disiplin, tetapi juga tentang menghargai orang lain. Setiap keterlambatan adalah bentuk kecil ketidakpedulian terhadap waktu dan energi orang lain.

Kebiasaan buruk yang dilakukan bersama-sama bisa tampak wajar, bahkan dianggap norma baru. Lalu, bagaimana kita berharap menjadi bangsa maju jika hal kecil seperti ini saja sering kita abaikan?

Saya teringat pesan seorang guru di pesantren: “Ketepatan waktu adalah bagian dari kejujuran. Orang yang jujur pada janji kecil, insya Allah akan jujur pada janji besar.” Waktu adalah salah satu titipan terbesar dari Tuhan kepada manusia. Bermain-main dengan waktu bukan hanya mengganggu agenda orang lain, tetapi juga meremehkan nilai diri sendiri.

Fenomena serupa terjadi di banyak kegiatan lain: rapat yang baru dimulai setelah semua peserta hadir meski sudah lewat jadwal, kelas yang molor karena menunggu mahasiswa yang terlambat, bahkan acara resmi pemerintahan yang ditunda sampai pejabat tertentu datang. Semua ini mengirimkan pesan diam-diam: keterlambatan bisa dimaklumi, bahkan diagungkan.

Tidakkah kita lelah dengan pola ini? Tidakkah kita ingin mengembalikan makna penghargaan terhadap waktu? Bangsa-bangsa maju yang kita kagumi tidak hanya unggul dalam teknologi atau infrastruktur.

Mereka maju karena menanamkan budaya disiplin sejak hal paling sederhana: hadir tepat waktu.

Mari mulai dari diri sendiri. Jangan menunggu orang lain untuk berubah.

Datanglah tepat waktu, meskipun kita tahu harus menunggu lama. Di balik setiap kehadiran yang tepat waktu, ada doa yang kita titipkan diam-diam: semoga suatu hari nanti, kita hidup di negeri yang menghargai kebenaran, memuliakan yang disiplin, dan tidak lagi memaklumi yang salah.

Ketika hari itu tiba, kita tak perlu lagi memandang jam dengan gelisah. Setiap janji akan ditepati, waktu akan dihargai, dan kebaikan akan ditempatkan pada tempatnya. Itulah tanda bahwa kita benar-benar telah menjadi bangsa yang besar.

Motto:
“Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban.”