BPSPL Makassar merupakan unit pelaksana teknis yang memiliki tugas utama melaksanakan pengelolaan, konservasi, rehabilitasi, serta pemanfaatan berkelanjutan sumber daya pesisir dan laut.
PELAKITA.ID – Alhamdulillah wasyukurillah, kabar baik datang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Andi Muhammad Ishak Yusma, alumni Kelautan Universitas Hasanuddin angkatan 1996, resmi dilantik sebagai Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar.
Kabar itu disampaikan tenaga ahli bidang perlindungan nelayan Menteri Sakti Wahyu Trenggono, Muhammad Abdi di grup WAG Alumni Kelautan Unhas, Senin, 28 Juli 2025.
“Pelantikan ini menjadi kebanggaan bagi sivitas akademika Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, sekaligus menjadi amanah besar bagi Ishak untuk memimpin salah satu unit teknis penting di bawah KKP,” kata Abdi yang juga alumni Unhas angkatan 1996.
BPSPL Makassar merupakan unit pelaksana teknis yang dipimpin oleh pejabat eselon 3, yang memiliki tugas utama melaksanakan pengelolaan, konservasi, rehabilitasi, serta pemanfaatan berkelanjutan sumber daya pesisir dan laut.
Lingkup kerja BPSPL Makassar meliputi wilayah pengelolaan perairan di Kawasan Timur Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Maluku Utara.
Balai ini juga berperan dalam penyusunan rencana zonasi, penegakan kebijakan konservasi sumber daya pesisir, serta pemberdayaan masyarakat pesisir agar dapat meningkatkan kesejahteraan melalui pengelolaan laut yang berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut, Muhammad Abdi juga berbagi kabar bahwa dalam kesempatan yang sama, KKP juga mengumumkan rencana pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) baru di Sulawesi Selatan, yakni Balai Garam.

“UPT ini akan berstatus balai dengan pejabat setingkat eselon 3. Pembentukan Balai Garam bertujuan memperkuat tata kelola dan produksi garam nasional, khususnya di kawasan Sulsel yang memiliki potensi besar untuk pengembangan industri garam rakyat,” ujar Abdi.
Pelantikan AM Ishak Yusma diharapkan membawa semangat baru dalam memperkuat pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan.
Dengan pengalaman panjang di bidang kelautan, Ishak diharapkan mampu mendorong sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan ekonomi biru Indonesia.
Sementara, dengan hadirnya UPT Balai Garam, Sulawesi Selatan diharapkan menjadi salah satu pusat produksi garam strategis nasional. Sinergi antara BPSPL Makassar dan Balai Garam ini diyakini akan menjadi langkah penting menuju kemandirian pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia yang lebih berkelanjutan dan berbasis kesejahteraan masyarakat.
Penulis Denun









