Makna Filosofis PADI sebagai Nama Grup Musik

  • Whatsapp
Ilustrasi Fadly PADI (by Muliadi Saleh)

Padi selalu menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang mau belajar bersikap baik. Semakin berisi, semakin merunduk.

Oleh Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Suatu sore yang hangat, di sebuah ruang sederhana yang dikelilingi pepohonan hijau, saya berkesempatan berbincang dengan Fadly—Andi Fadly Arifuddin—vokalis grup musik PADI.

Percakapan itu mengalir pelan, serupa lagu-lagu PADI yang meresap ke dalam hati. Saya memberanikan diri bertanya tentang satu hal yang sejak lama membuat penasaran: mengapa band ini diberi nama PADI?

Fadly tersenyum, seolah memutar ulang kenangan jauh ke tahun 1997, masa krisis ekonomi yang penuh kegelisahan.

“Waktu itu kami masih muda,” ujarnya.

“Sedang mencoba merajut mimpi lewat musik. Banyak band memilih nama berbahasa asing supaya terdengar keren. Tapi kami ingin sesuatu yang dekat dengan bumi tempat kami berpijak.”

Mata Fadly menerawang, lalu ia melanjutkan dengan nada hangat, “Tiba-tiba Mas Yoyo—Surendro Prasetyo—nyeletuk: ‘Gimana kalau namanya Padi?’ Kami saling menatap, agak kaget sekaligus tersenyum. Ada keheningan sejenak, lalu kami berkata hampir bersamaan: ‘Iya, ya… unik juga. Bagus juga.’

Fadly bersama penulis (ilustrasi)

Nama itu sederhana, tetapi menyimpan filosofi yang dalam.

“Ada dua alasan utama,” tutur Fadly.

“Pertama, padi selalu menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang mau belajar bersikap baik. Semakin berisi, semakin merunduk. Kami ingin, kalau suatu saat band ini makin dikenal, justru makin rendah hati. Kalau kami sukses, justru memberi kesempatan kepada yang lain. Musik bukan ajang pamer ego.”

“Alasan kedua,” lanjutnya, “padi itu makanan pokok. Ia dimakan semua orang tanpa memandang suku, bahasa, atau agama. Kami ingin musik kami seperti padi: bisa ‘dimakan’, bisa dinikmati siapa saja. Musik harus jadi santapan bagi semua telinga, bukan milik segelintir orang saja.”

Mendengar itu, imajinasi saya melayang ke hamparan sawah menguning di sore hari. Padi berdiri tegak namun menunduk, menerima angin dengan sabar, siap dipanen tanpa bertanya siapa yang memetiknya. Ia tidak memilih, ia hanya memberi.

Begitulah hidup seharusnya. Betapa pun tinggi jabatan atau setinggi apa pun panggung yang kita pijak, kita tak boleh lupa merunduk. Jangan biarkan kesuksesan membuat kita arogan.

Jangan biarkan kebesaran membuat kita mengecilkan orang lain. Seorang musisi mengalirkan makna lewat lagu, seorang petani lewat benih, seorang guru lewat ilmu. Jalan boleh berbeda, tetapi hakikatnya sama: hidup yang baik adalah hidup yang memberi arti bagi sesama.

Padi mengajarkan bahwa semakin berisi bukan berarti semakin angkuh. Justru ketika penuh, ia menunduk. Begitu pula manusia—ketika sukses, ketika hebat, ketika nama kita bergema, jangan pernah lupa untuk tetap sederhana.

Karena musik, dan hidup itu sendiri, baru benar-benar indah ketika bisa dinikmati bersama; ketika ia menjadi rezeki bersama, bukan milik segelintir hati.

Di sore itu, suara Fadly seolah menjadi gema dari hamparan sawah:
“Musik harus dimakan semua orang. Begitulah Padi.”

Sebuah filosofi yang sederhana namun menggetarkan. Pelajaran yang mengingatkan kita bahwa apa pun jalan hidup yang kita pilih—musik, pendidikan, pertanian, atau yang lain—hidup akan selalu lebih bermakna ketika kita tidak hanya mengisinya, tetapi juga memberi. Selalu merunduk, selalu mengingat akar.

Karena sejatinya, semakin berisi, semakin kita harus merendahkan hati. Seperti padi.