Artikel ini ditulis oleh: Nasrah Waty, S.Pd, Kepala SMP Negeri Pakkabba, Galesong Utara, Kabupaten Takalar
“Seorang guru bukan sekadar pengajar. Ia adalah penuntun jiwa, peneduh batin, dan penggerak harapan dalam sunyi yang kerap tak terdengar.”
PELAKITA.ID – Sebagai guru, pengajar, dan pendidik, kita sering kali terjebak dalam rutinitas hingga tanpa sadar menyimpan tumpukan residu emosional—jejak persoalan pribadi yang belum selesai.
Layaknya gawai yang penuh sampah digital, diri kita pun bisa “hang” jika tidak membersihkan beban-beban batin itu secara berkala. Jika dibiarkan, kondisi ini memengaruhi cara kita hadir di depan siswa dan dalam ruang belajar.
Memetakan Emosi, Menyadari Diri
Dalam workshop yang kami ikuti, diperkenalkan gambaran level-level emosi dan energi yang sangat menggugah. Saya berencana mencetaknya dan menempelkannya di dinding sekolah agar dapat dilihat setiap hari—menjadi cermin batin bagi para guru.
Salah satu pemateri, Ernawati, S.Pd., guru Bahasa Inggris dari Jeneponto dan rekan saya di Pascasarjana UMS Rappang, menyampaikan pentingnya emotional releasing dan penyusunan visi pribadi.
Ia juga memperkenalkan teknik SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang dikembangkan oleh Ahmad Faiz Zainuddin. Teknik ini bertujuan menyeimbangkan emosi dengan cara menerima, mengolah, dan mengendalikannya secara sadar—bukan ditekan.
SEFT diakui efektif untuk membersihkan “sampah emosi” dan bisa diajarkan kepada anak-anak. Emosi, baik yang positif maupun negatif, tidak untuk dihilangkan, melainkan diterima, dipahami, lalu dikendalikan.
Karena terkadang, tanpa sadar, kita melampiaskan amarah, kekecewaan, atau kesedihan kepada siswa yang tak tahu apa-apa.
Padahal, guru adalah teladan. Anak-anak yang kita hadapi sedang mencari jati diri. Mereka masih labil. Jika guru pun tak mampu mengelola emosinya, bagaimana anak-anak bisa belajar kestabilan emosi?
Tidak sedikit orang dewasa secara usia, tetapi belum matang secara emosional. Maka, refleksi emosional menjadi penting agar kita tidak menjadi sosok yang mudah marah, menyalahkan, atau cemas berlebihan—terutama terhadap hal-hal yang bahkan belum terjadi.
Lima Sumber Penderitaan Emosional
Dalam sesi ini juga disebutkan lima sumber penderitaan menurut pendiri SEFT: Menyesali masa lalu, tidak menikmati saat ini, Mengkhawatirkan masa depan, tidak bisa memaafkan, dan meletakkan kebahagiaan pada penilaian orang lain
Kelima hal ini sering kali membelenggu kita. Jika tidak disadari, seseorang bisa sulit “move on”, terus gelisah, dan cenderung negatif dalam memaknai kesehariannya.

Sebagai contoh, saya pribadi sempat cemas memikirkan kelulusan siswa jika ujian kembali dijadikan penentu utama. Padahal, banyak hal yang belum tentu terjadi, namun kita sudah galau duluan.
Dari FORCE Menuju POWER
Guru seharusnya bergerak bukan karena dorongan eksternal (FORCE), melainkan dari kekuatan internal (POWER). Kekuatan sejati datang dari kesadaran diri, bukan paksaan. Karena itu, penting bagi guru untuk melakukan emotional refreshing, agar hadir secara utuh dan sadar dalam mendidik.
Etos Kerja Guru Tangguh dan Growth Mindset
Dr. Rawiah, S.Pd., M.Pd. memaparkan pentingnya memiliki etos kerja tangguh dan kebiasaan berpikir dengan growth mindset—pola pikir yang melihat tantangan sebagai peluang untuk berkembang.
Peserta diberikan angket untuk memetakan pola pikir masing-masing. Materi ini selaras dengan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang digaungkan oleh Kemendikdasmen, BerKesadaran, BerMakna, dan Menggembirakan (BBM).
Salah satu kutipan menarik yang ditampilkan dari Prof. Abdul Mu’ti, Mendikdasmen RI: “Kalau orang berpikir dengan growth mindset, maka dia yakin masalah yang sedikit itu memiliki banyak jalan keluar. Karena itu, jangan menyerah. Yakinlah ada jalan.”
Lima Sesi Pembelajaran Bermakna
Workshop ini dibagi menjadi lima sesi utama: Brainstorming dan berbagi pengalaman, emotional refreshing, etos kerja pendidik tangguh, ishoma (istirahat, salat, makan) dan penyusunan visi dan komitmen pribadi.
Setiap sesi dirancang untuk menggugah refleksi, memperkuat kesadaran, dan menumbuhkan semangat dalam menjalankan peran sebagai pendidik. Permainan ringan (games) juga disisipkan untuk menjaga antusiasme peserta.
Menyusun Visi dan Komitmen Pribadi
Sesi penutup difokuskan pada penyusunan visi pribadi. Guru diminta menulis rencana dan komitmen yang akan dijalani selama tahun ajaran. Pemateri menekankan pentingnya menemukan GRAND WHY—alasan terdalam mengapa kita memilih profesi guru.
Bu Erna juga mengenalkan konsep Fitrah-Based Education (FBE) dari Ustaz Harry Santosa, yang menyebut guru sebagai arsitek peradaban. Setiap anak membawa fitrah yang unik dan utuh. Tugas kita bukan menyeragamkan mereka, tapi membimbing mereka tumbuh alami dan merdeka.
Visi guru bukan sekadar rencana kerja, melainkan kompas batin yang menuntun langkah harian. Visi ini harus dihidupi lewat komitmen kecil yang konsisten—langkah sederhana, tapi berdampak besar. “Masa depan pendidikan tidak dimulai besok. Ia dimulai hari ini—dari ruang kelas saya, dari kesadaran saya, dan dari langkah-langkah kecil yang saya pilih setiap hari.”
Untuk itu, tim fasilitator akan melakukan pendampingan dan evaluasi berkala agar visi tidak hanya menjadi dokumen, melainkan benar-benar menjadi arah perubahan.
Refleksi dan Harapan
Respons para guru sangat positif. Hampir semua peserta menyatakan bahwa workshop ini menyentuh, menggugah, dan memperbarui semangat mereka dalam mengajar.
Refleksi peserta menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini penting diadakan secara rutin. Karena guru bukanlah robot, tetapi manusia yang juga butuh ruang untuk merawat diri secara emosional dan spiritual.

Saya berharap, meski SMP Negeri Pakkabba adalah sekolah kecil, walaupun mungkin kurang dianggap oleh pihak luar, tetapi guru-guru dan siswa di sini punya growth mindset, dan yang lebih penting: sadar atas apa yang mereka lakukan.
Kami ingin seperti Laskar Pelangi—melintasi keterbatasan dengan cahaya semangat, menyulam mimpi dari ruang belajar yang sederhana.
Seperti yang dilakukan Jepang pasca-tragedi Hiroshima, pembangunan sejati dimulai dari manusia. Maka saya ingin memulai dari guru-guru dan staf di sekolah ini—membangun SDM yang utuh dan sadar.
Kadang, karena terlalu sering bertemu, pesan saya sebagai kepala sekolah terasa biasa saja. Maka perlu menghadirkan pakar atau narasumber dengan kapasitas dan pengalaman, yang bisa memberi perspektif baru kepada guru-guru kami.
Dan alhamdulillah, hasilnya luar biasa. Hampir semua peserta menyatakan kepuasan dan kegembiraan mengikuti workshop ini.
Penutup
Pembaca sekalian, yang membentuk masa depan pendidikan bukan semata kurikulum atau kebijakan, tetapi jiwa-jiwa guru yang hadir sepenuh hati dalam tugas pengabdiannya. Sebab, pendidikan sejati dimulai dari kesadaran, dan dilanjutkan dengan langkah kecil yang penuh makna setiap hari. (*)
___
Artikel ini ditulis oleh: Nasrah Waty, S.Pd
Kepala SMP Negeri Pakkabba, Galesong Utara, Kabupaten Takalar
Editor Denun









