Buku Muliadi Saleh | Refleksi di Tapak 58, Pohon yang Mengakar, Sungai yang Mengalir

  • Whatsapp
Refleksi di Tapak 58

Pohon yang Mengakar, Sungai yang Mengalir
Oleh: Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Jika usia adalah pohon, maka di usia lima puluh delapan tahun, ia bukanlah tunas yang baru tumbuh, bukan pula batang muda yang lentur diterpa angin.

Ia adalah pohon tua yang berdiri dengan akar menancap dalam, menembus lapisan tanah yang pekat oleh waktu dan pengalaman. Ia telah melewati musim demi musim, purnama demi purnama.

Kulit batangnya menebal, bukan karena keras kepala, melainkan karena hikmah yang disimpan dalam diam.

Setiap gurat di batangnya adalah cerita—bukan tentang bagaimana ia berdiri, tetapi tentang bagaimana ia tetap tegak saat badai datang. Ia telah kehilangan banyak daun, tetapi tak pernah kehilangan harapan akan daun-daun baru yang akan tumbuh.

Ia telah menggugurkan banyak hal—ambisi yang tak perlu, kemarahan yang berlebih, kesedihan yang terlalu lama disimpan. Dan dari setiap gugur itu, tumbuh ruang baru bagi kehidupan.

Ia telah berbuah. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Buah yang tak hanya tumbuh karena cahaya, tapi karena kesabaran. Buah yang mungkin tak selalu manis, namun selalu bergizi—bagi anak-anaknya, bagi orang-orang di sekelilingnya, bagi dunia yang diam-diam menikmati keteduhannya.

Jika usia adalah sungai, maka di usia lima puluh delapan tahun, airnya telah mengalir jauh. Menyusuri lekuk bumi, melewati bebatuan tajam, pasir licin, dan arus deras yang kadang menghantam tanpa ampun. Tapi air itu tak pernah berhenti.

Ia terus mencari jalan, meski harus melewati celah tersempit, menuruni tebing tercuram, atau bahkan menguap menjadi kabut dan kembali turun sebagai hujan.

Air itu telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Mengairi sawah, memberi makan akar-akar padi, menjadi nadi bagi ribuan tanaman yang tumbuh tanpa suara.

Ia mengisi kendi tua di rumah sederhana, menetes ke cangkir teh pagi, menjadi basuhan suci sebelum doa dilantunkan. Ia menghapus dahaga, membasuh kulit yang lelah terbakar matahari, menyapu luka kecil di lutut anak-anak yang belajar berjalan.

Kadang air itu tenang, sekadar riak kecil yang memantulkan cahaya pagi. Kadang ia deras, menghanyutkan. Tapi ia tak pernah kehilangan niatnya untuk memberi. Bahkan ketika meluap, ia tetap bagian dari siklus yang akan kembali pada keseimbangan. Karena air tahu: hidup bukan tentang seberapa cepat mengalir, melainkan tentang ke mana ia membawa kehidupan.

Lima puluh delapan tahun bukan sekadar rentang waktu yang panjang. Ia bukan sekadar angka di kalender, bukan jumlah lilin di atas kue ulang tahun. Usia ini adalah tafsir panjang atas makna waktu itu sendiri.

Sebuah kitab harian yang ditulis dengan tinta nyata—kadang air mata, kadang tawa, kadang peluh yang tak terlihat, kadang keheningan yang paling dalam.

Usia ini mengajarkan bahwa nilai hidup tak diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, tapi dari seberapa banyak yang diberikan. Bahwa tangan yang di atas bukan lambang kekuasaan, tapi simbol kemurahan.

Bahwa memberi bukan hanya tentang harta, tapi juga tentang waktu, perhatian, maaf, dan pelukan yang hangat di saat paling dibutuhkan.

Lima puluh delapan tahun adalah fajar yang lembut, bukan senja yang pudar. Permulaan baru, bukan akhir perjalanan. Masa di mana mata telah cukup melihat, hati cukup merasa, dan jiwa cukup mengendap untuk memahami bahwa kebahagiaan tak datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam. Dari penerimaan, dari kesadaran, dari rasa syukur yang mengalir seperti sungai yang jernih.

Pada usia ini, tubuh mungkin tak sekuat dulu, tapi jiwa jauh lebih teguh. Langkah mungkin lebih pelan, tapi lebih sadar ke mana hendak menuju.

Impian pun berubah rupa—dulu mengejar puncak, kini merawat akar. Dulu ingin bersinar, kini ingin menerangi. Dulu ingin dikenal, kini ingin meninggalkan jejak yang tak terlihat, namun tetap bermakna.

Ini adalah usia di mana seseorang mulai memahami bahasa pohon dan bahasa sungai. Ia mulai paham bahwa diam bukan berarti kalah, menepi bukan berarti menyerah, dan menangis bukan berarti lemah. Usia ini mengajari bahwa menjadi kuat tak harus terlihat keras, dan menjadi bijak tak harus banyak bicara.

Dalam diam, seseorang di usia ini mulai menulis ulang definisi kebahagiaan. Bukan lagi rumah besar, mobil mewah, atau gelar panjang. Tapi melihat istri dan anak-anak bahagia. Pasangan yang masih setia menggenggam tangan di tengah keriput yang mulai nyata. Persahabatan yang tetap hangat meski tak sering bersua. Dan hati yang lapang untuk memaafkan—terutama diri sendiri.

Usia lima puluh delapan adalah musim menuai.

Bukan untuk berbangga, tapi untuk bersyukur. Bukan untuk berhenti, tapi untuk berjalan lebih bijak. Ini adalah waktu di mana seseorang lebih memilih menjadi telaga ketenangan bagi sekitarnya, daripada menjadi api yang membakar dengan ambisi yang tak padam.

Jika usia ini adalah cahaya, maka ia bukan sorot lampu yang menyilaukan. Ia adalah cahaya temaram yang menyinari ruang dalam, tempat kenangan berbaring dan harapan bermula kembali.

Ia lembut, tapi cukup terang untuk melihat jalan ke depan. Ia tak memaksa orang lain melihatnya, tapi memberi cahaya bagi siapa saja yang ingin berjalan bersama.

Maka biarlah usia ini mengalir sebagaimana mestinya. Tak perlu ditahan, tak perlu dipercepat. Biarlah ia tumbuh seperti pohon yang tahu kapan mekar dan kapan merunduk. Biarlah ia mengalir seperti sungai yang tahu kapan diam dan kapan bergerak.

Karena lima puluh delapan tahun bukanlah akhir. Ia adalah babak baru dari kehidupan yang lebih dalam, lebih jujur, dan lebih membumi. Di usia ini, seseorang bukan hanya hidup, tapi hadir sepenuhnya. Bukan hanya bertahan, tapi memberi.

Bukan hanya bernapas, tapi menghidupkan. Dan di situlah letak kemuliaannya.