Karena Kain Kafan Tak Memiliki Saku, Maka Bersedekahlah

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Subuh masih diselimuti embun, cahaya belum sepenuhnya menyingkirkan gelap. Seorang lelaki tua duduk di beranda masjid, di sakunya tersisa selembar uang pecahan seribu yang lusuh.

Matanya menatap langit yang perlahan berubah dari kelam ke temaram. Napasnya berdesir, seakan tengah bercakap dengan alam.

Ia tersenyum tipis, entah kepada siapa—mungkin kepada dirinya sendiri—dan bibirnya bergetar lirih, “Apa yang kita miliki hari ini akan kita tinggalkan. Dan apa yang kita lepaskan, itulah yang kelak akan ikut bersama kita.”

Kata-kata itu bukan sekadar petuah seorang tua di beranda masjid; ia adalah gema dari nurani yang dalam. Betapa sering kita terjebak dalam ambisi menumpuk, menyimpan, dan menggenggam, seolah dunia ini abadi, padahal sejak kecil kita diajarkan: tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.

Sedekah bukan hanya soal memberi. Ia adalah perjalanan batin, latihan melepaskan, dan upaya merdeka dari ilusi kepemilikan. Dalam Al-Qur’an, Allah menjanjikan keajaiban dari memberi:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261). Apa yang kita lepaskan tak pernah benar-benar hilang—ia tumbuh dan kembali dengan cara yang tak selalu kasat mata. Jalaluddin Rumi pun mengingatkan, “Apa yang engkau berikan akan abadi, apa yang engkau simpan akan musnah.”

Memberi adalah menanam keabadian; menyimpan tanpa berbagi adalah menanam kefanaan.

Mengapa harus bersedekah? Karena tak ada satu pun yang benar-benar milik kita. Harta, jabatan, waktu, bahkan hidup itu sendiri adalah titipan.

Dengan bersedekah, kita belajar berkata cukup, merayakan syukur, dan menyentuh rasa lega. Sedekah adalah jembatan: antara kaya dan miskin, antara yang lapang dan yang sempit, antara manusia dan Tuhannya.

Ia menghidupkan sekeliling—seorang ibu bisa membawa pulang beras, seorang anak mendapatkan buku, seorang musafir melanjutkan perjalanan. Dan di sisi lain, sedekah menjadi cermin: apakah kita manusia yang menahan atau manusia yang melepaskan?

Cara bersedekah tidak rumit. Ia bisa hadir dalam bentuk uang, tenaga, ilmu, bahkan sekadar senyum tulus. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR. Muslim).

Sedekah tak mengenal jumlah dan waktu. Jangan menunggu kaya untuk memberi, sebab sedekah justru membuka pintu rezeki. Jangan menunggu tua untuk mulai, sebab waktu tak pernah menunggu. Sedekah kecil yang terus mengalir lebih indah daripada sedekah besar yang hanya sesekali. Rasulullah ﷺ bersabda, “Bersegeralah bersedekah, karena bencana tidak dapat mendahului sedekah.” (HR. Baihaqi).

Ibrahim bin Adham, seorang sufi agung, berkata, “Engkau memiliki apa yang kau berikan, dan engkau kehilangan apa yang kau simpan.” Kalimat ini adalah cambuk sekaligus pelipur.

Karena pada akhirnya, kita semua akan kembali. Tubuh yang kita rawat akan dibungkus kain kafan sederhana—tanpa saku, tanpa dompet, tanpa rekening.

Yang akan menyertai hanyalah doa dan amal. Maka bersedekahlah, bukan karena kita berlebih, tapi karena kita ingin membersihkan diri dari ilusi memiliki. Bersedekahlah, karena setiap kebaikan adalah investasi abadi. Bersedekahlah, karena di balik setiap pemberian ada senyum Tuhan yang menanti.


Muliadi Saleh
Penulis, Pemikir, Penggerak Literasi dan Kebudayaan
“Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban.”