- Dalam dunia yang dibentuk oleh sejarah penjajahan, ketimpangan pengetahuan, dan pembangunan yang sering meminggirkan, Gayatri Spivak menawarkan sesuatu yang lebih penting: kesadaran kritis, kepekaan etis, dan keberanian untuk bertanya siapa yang sebenarnya kita perjuangkan.
- Spivak bukan sekadar akademisi yang menulis dari menara gading. Ia adalah pengganggu wacana dominan, pengurai bahasa kekuasaan, dan pembela mereka yang selama ini dibicarakan tanpa benar-benar didengar.
- Dia mengingatkan kita bahwa ada struktur dalam bahasa, budaya, dan kekuasaan yang terus mereproduksi ketimpangan.
PELAKITA.ID – Dalam dunia pembangunan yang penuh jargon dan niat baik, jarang ada pertanyaan yang lebih menusuk daripada ini: Bisakah yang terpinggirkan benar-benar berbicara?
Pertanyaan itulah yang diajukan oleh Gayatri Chakravorty Spivak, pemikir feminis dan teoritikus postkolonial asal India, dalam esai terkenalnya “Can the Subaltern Speak?” pada tahun 1988.
Spivak bukan sekadar akademisi yang menulis dari menara gading. Ia adalah pengganggu wacana dominan, pengurai bahasa kekuasaan, dan pembela mereka yang selama ini dibicarakan tanpa benar-benar didengar.
Dalam bidang studi pembangunan dan emansipasi, ia hadir bukan untuk menawarkan model atau rumus, melainkan untuk membongkar asumsi-asumsi yang selama ini diambil begitu saja — terutama oleh mereka yang mengaku “menolong” kaum miskin dan tertindas.
Emansipasi dan Bahaya Bicara atas Nama Orang Lain
Bagi Spivak, pembangunan kerap menjelma menjadi tindakan “menyuarakan” kelompok marjinal tanpa memberikan mereka ruang untuk bersuara sendiri.
Ia menyebut ini sebagai bentuk kekerasan epistemik, yaitu peminggiran pengetahuan dan pengalaman kelompok tertindas oleh narasi dominan — sering kali berasal dari kaum elit, institusi global, atau bahkan aktivis yang bermaksud baik.
Melalui analisisnya, Spivak mengingatkan kita bahwa ada struktur dalam bahasa, budaya, dan kekuasaan yang terus mereproduksi ketimpangan.
Mereka yang disebut “subaltern” — orang-orang yang berada di luar sistem representasi resmi, seperti perempuan desa, masyarakat adat, nelayan tradisional — tidak hanya tidak memiliki akses ke pengambilan keputusan, tapi juga tidak dianggap sebagai sumber pengetahuan yang sah.
Bukan Teori Kosong: Warisan dan Aksi Nyata
Di luar tulisannya yang kompleks, Spivak adalah sosok yang turun ke lapangan.
Ia menjalankan proyek pendidikan akar rumput di desa-desa terpencil di India Timur, mengajarkan literasi kritis dan membangun kepercayaan diri kolektif masyarakat miskin.
Warisan pemikirannya membentang luas. Ia ikut meletakkan dasar studi subaltern, cara membaca sejarah dari perspektif orang biasa, bukan dari sudut pandang elit politik.
Ia menantang feminisme Barat yang kerap menyamaratakan pengalaman perempuan, seolah perempuan di dunia berkembang hanyalah korban pasif.
Ia membongkar logika pembangunan yang menempatkan negara-negara Selatan sebagai “yang harus dikejar dan dibenahi”, bukan sebagai komunitas dengan cara hidup dan pengetahuan yang sah.
Konteks Indonesia, Siapa yang Berbicara, Siapa yang Didengar?
Apa yang ditawarkan Spivak sangat relevan bagi Indonesia — negeri dengan sejarah kolonial yang panjang, keragaman budaya yang besar, dan pembangunan yang seringkali menyingkirkan suara-suara pinggiran.
Bayangkan nelayan di Galesong, Papua, atau Maluku yang kehilangan akses terhadap laut karena proyek konservasi atau industrialisasi.
Bayangkan perempuan adat di Kalimantan yang tak diajak bicara saat hutan mereka dibuka untuk sawit. Atau masyarakat pesisir yang digusur atas nama pariwisata dan tata ruang kota.
Dalam semua ini, pertanyaan Spivak menggema kembali: Bisakah mereka benar-benar berbicara?
Lebih dari sekadar kritik, Spivak mengajarkan kita untuk mendengarkan dengan rendah hati, untuk menunda keinginan kita “membantu” agar bisa benar-benar memahami.
Emansipasi, bagi Spivak, bukanlah “membebaskan orang lain” dengan cara kita sendiri, tetapi menciptakan ruang agar mereka bisa menyuarakan sendiri kebutuhannya, ketakutannya, dan harapannya — dengan bahasanya sendiri.
Belajar dari Spivak: Menata Ulang Hubungan Kekuasaan
Di tengah maraknya proyek pembangunan, program bantuan sosial, hingga aktivisme digital, pemikiran Spivak hadir sebagai pengingat: bahwa keinginan untuk membantu harus dibarengi dengan kesadaran kritis akan posisi kita dalam struktur kekuasaan.
Kita perlu bertanya. Apakah kita benar-benar mendengarkan masyarakat? Apakah kita membuka ruang bagi suara mereka, atau justru mengisinya dengan suara kita sendiri? Apakah kita menganggap mereka subjek pengetahuan, atau hanya sebagai objek penderita?
Dalam dunia pembangunan Indonesia yang semakin kompleks, Spivak menawarkan kompas etis — bahwa keadilan bukan sekadar redistribusi sumber daya, tetapi juga pengakuan atas keberadaan, suara, dan martabat yang selama ini ditekan.
Emansipasi Dimulai dari Mendengarkan
Gayatri Spivak mungkin tidak menawarkan solusi instan. Tapi dalam dunia yang dibentuk oleh sejarah penjajahan, ketimpangan pengetahuan, dan pembangunan yang sering meminggirkan, ia menawarkan sesuatu yang lebih penting: kesadaran kritis, kepekaan etis, dan keberanian untuk bertanya siapa yang sebenarnya kita perjuangkan.
Dan mungkin, dalam dunia yang penuh suara dan kebisingan, perjuangan sejati untuk emansipasi dimulai dari diam yang mendengarkan — bukan untuk menguasai, tapi untuk memahami.









