- Indonesia kadang dianggap semi-periphery karena memiliki sektor industri tertentu, tetapi tetap bergantung pada ekspor bahan mentah dan utang luar negeri—sesuai diagnosis Wallerstein tentang keterbatasan mobilitas struktural dalam sistem dunia
- Dia menolak ide bahwa dunia berkembang akan mengikuti jalur negara Barat. Ia melihat kapitalisme sebagai sistem eksploitatif yang menyebar melalui kolonialisme dan perdagangan tak setara.
- Ia tawarkan pendekatan interdisipliner dan radikal. Pemikirannya menembus batas sosiologi, sejarah, ekonomi politik, dan geografi. Ia juga aktif mengkritik tatanan dunia neoliberal dan mendukung pendekatan pembangunan alternatif berbasis keadilan sosial dan ekologis.
PELAKITA.ID – Immanuel Wallerstein (1930–2019) adalah seorang sosiolog dan ekonom sejarah asal Amerika Serikat yang dikenal luas sebagai pencetus teori sistem dunia (world-systems theory), salah satu kerangka paling berpengaruh dalam studi pembangunan, globalisasi, dan ketimpangan global.
Apa Masterpiece-nya? “The Modern World-System” (volume pertama terbit tahun 1974) adalah karya utama Wallerstein.
Dalam buku ini, ia membongkar, menggeledah, memeriksa bagaimana sistem kapitalisme modern terbentuk sejak abad ke-16 melalui perdagangan global, kolonialisme, dan pembagian kerja internasional.
Buku ini berkembang menjadi serial empat volume dan menjadi rujukan klasik di banyak disiplin ilmu.
Apa yang Membuat Wallerstein Spesial? Yaitu pendekatan Global dan Historis. Ia memandang dunia sebagai satu sistem ekonomi-politik global—bukan kumpulan negara-negara yang berkembang secara terpisah.
Kedua adalah adanya pembagian dunia menjadi Core–Semi-Periphery–Periphery. Core (pusat): negara industri maju yang mengendalikan teknologi dan keuangan, kemudian Periphery (pinggiran), negara miskin yang menyediakan bahan mentah dan tenaga kerja murah.
Lalu ada Semi-periphery, negara yang berada di antara dua kutub, sering kali menjadi zona transisi atau penyangga ketegangan. Ini menciptakan struktur ketimpangan global yang bersifat sistemik dan bertahan lama.
Dia juga dikenal karena berani mengeritik pandangan Barat-Sentris. Wallerstein menolak ide bahwa dunia berkembang akan mengikuti jalur negara Barat. Ia melihat kapitalisme sebagai sistem eksploitatif yang menyebar melalui kolonialisme dan perdagangan tak setara.
Yang juga menarik adalah tawaran pendekatan interdisipliner dan radikal. Pemikirannya menembus batas sosiologi, sejarah, ekonomi politik, dan geografi. Ia juga aktif mengkritik tatanan dunia neoliberal dan mendukung pendekatan pembangunan alternatif berbasis keadilan sosial dan ekologis.
Relevansi Pemikiran Wallerstein dengan Konteks Indonesia
Indonesia sebagai Periphery dalam Sistem Dunia. Wallerstein membantu menjelaskan posisi Indonesia sebagai negara penghasil bahan mentah (mineral, sawit, hasil laut) dalam sistem dunia yang dikendalikan oleh negara-negara pusat dan perusahaan multinasional.
Ketimpangan Domestik dan Global. Relasi antara Jakarta dan daerah-daerah kaya sumber daya seperti Papua, Kalimantan, Maluku, Sulawesi dan Nusa Tenggara juga mencerminkan model core-periphery di dalam negeri.
Semi-periphery dan Kemandegan Industrialisasi. Indonesia kadang dianggap semi-periphery karena memiliki sektor industri tertentu, tetapi tetap bergantung pada ekspor bahan mentah dan utang luar negeri—sesuai diagnosis Wallerstein tentang keterbatasan mobilitas struktural dalam sistem dunia.
Ketimpangan Perdagangan dan Ketidakadilan Global. Konsep perdagangan yang timpang dan posisi tawar negara berkembang yang rendah dalam sistem global sesuai dengan realitas Indonesia dalam forum internasional seperti WTO dan perjanjian dagang bebas.
Krisis Ekologi dan Sistem Kapitalisme Global. Pemikiran Wallerstein juga relevan dalam melihat bagaimana ekspansi kapitalisme global berdampak pada perusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya di Indonesia.
Pembaca sekalian, Immanuel Wallerstein mengajarkan bahwa pembangunan tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa global. Indonesia tidak akan bisa memahami dan mengatasi persoalan pembangunan tanpa memahami posisinya dalam sistem dunia.
Dalam konteks krisis iklim, ketimpangan global, dan ketergantungan ekonomi, warisan pemikiran Wallerstein serupa kuncian bahwa perspektif global sebagai atensi bersama dan mestinya menjadi kompas penting untuk membayangkan pembangunan yang lebih adil, setara, dan berkelanjutan.
Bagaimana dan dengan siapa memulai, mari ajak rakyat bicara, jangan yang lain!









