- Ia memperluas cara kita mengkritik pembangunan, dari sekadar soal ketimpangan ekonomi, menjadi soal siapa yang memproduksi pengetahuan, bagaimana suatu bangsa digambarkan, dan apa dampaknya terhadap martabat dan agensi masyarakat.
- Dalam dunia yang semakin sadar akan pentingnya dekolonisasi dan keadilan sosial, pemikiran Said tetap menjadi kompas moral dan intelektual Apakah kita benar-benar membangun demi kemajuan bersama, atau hanya melanjutkan pola lama dengan wajah baru?
PELAKITA.ID – Oleh banyak orang, Edward Said dikenal sebagai seorang kritikus sastra dan intelektual publik asal Palestina. Namun warisannya jauh melampaui dunia sastra. Melalui karya monumentalnya Orientalism (1978),
Said memberikan fondasi bagi apa yang kini disebut teori pascakolonial—sebuah pendekatan kritis yang mengupas bagaimana pengetahuan dan kekuasaan membentuk cara dunia memandang, mengatur, dan “membangun” masyarakat di Global Selatan.
Meskipun ia tidak secara langsung menulis tentang pembangunan ekonomi atau kebijakan internasional, pemikirannya telah mengubah secara mendasar cara kita memahami pembangunan.
Said membantu kita melihat bahwa pembangunan bukan sekadar proyek teknis atau ekonomi, tetapi juga proyek kultural dan politik—yang sarat makna, bias, dan relasi kuasa.
Siapa Edward Said?
Edward Wadie Said (1935–2003) adalah seorang akademisi kelahiran Yerusalem yang kemudian menjadi profesor di Universitas Columbia, Amerika Serikat.
Ia mengabdikan hidupnya pada perjuangan intelektual untuk membongkar bagaimana dunia Barat membingkai Timur (atau Global Selatan) sebagai yang lain—eksotik, tertinggal, irasional, dan penuh kekacauan.
Dalam bukunya Orientalism, Said menunjukkan bahwa pengetahuan tentang dunia Timur bukanlah netral atau ilmiah belaka, melainkan alat kekuasaan yang melegitimasi kolonialisme dan dominasi.
Gagasan inilah yang menjadi dasar bagi kritik terhadap pembangunan sebagai kelanjutan dari proyek kolonial.
Konsep Kunci dalam Pemikiran Edward Said
1. Orientalisme: Imajinasi yang Menundukkan
Said menjelaskan bahwa “Orientalisme” adalah cara dunia Barat membentuk citra dunia Timur (Asia, Afrika, Timur Tengah) secara stereotipikal—sebagai wilayah yang pasif, terbelakang, dan membutuhkan bimbingan. Citra ini diproduksi melalui karya sastra, laporan ilmiah, hingga kebijakan pembangunan.
Dalam konteks pembangunan, hal ini berarti bahwa negara-negara berkembang kerap digambarkan sebagai objek penderita yang tidak mampu menyelamatkan diri, wilayah dengan krisis permanen dan sasaran intervensi oleh lembaga atau pakar dari dunia Barat.
2. Wacana dan Kekuasaan
Terinspirasi oleh Michel Foucault, Said menyatakan bahwa wacana—cara kita berbicara tentang sesuatu—adalah bentuk kekuasaan. Wacana pembangunan pun tidak netral; ia menentukan apa yang dianggap masalah, siapa yang berhak memberi solusi, dan siapa yang cukup “layak” untuk didengarkan.
3. Representasi dan Penghapusan Suara Lokal
Said bertanya: siapa yang berbicara? Dan siapa yang dibungkam? Dalam banyak proyek pembangunan, masyarakat lokal seringkali hanya dijadikan angka statistik atau objek proyek—bukan subjek aktif dengan pengalaman dan solusi sendiri.
4. Tanggung Jawab Intelektual
Said mendorong para intelektual untuk tidak tunduk pada kekuasaan, dan justru harus speaking truth to power—mengungkap bias dan ketidakadilan yang tersembunyi dalam sistem pengetahuan dan kebijakan.
Mengapa Penting dalam Studi Pembangunan?
Walaupun bukan ekonom atau pakar pembangunan, Said memberikan kerangka teoritis untuk memahami pembangunan sebagai proses politik dan budaya, bukan sekadar teknokratis.
Ia memperluas cara kita mengkritik pembangunan, dari sekadar soal ketimpangan ekonomi, menjadi soal siapa yang memproduksi pengetahuan, bagaimana suatu bangsa digambarkan, dan apa dampaknya terhadap martabat dan agensi masyarakat.
Para pemikir seperti Arturo Escobar, James Ferguson, dan Gayatri Spivak banyak terinspirasi oleh Said dalam mengembangkan kritik pembangunan berbasis wacana, representasi, dan kolonialisme epistemik.
Korelasi dengan Konteks Indonesia
Pemikiran Edward Said sangat relevan dengan pengalaman pembangunan di Indonesia, terutama selama Orde Baru:
1. Framing Indonesia sebagai “Butuh Dibantu”
Sejak 1970-an, Indonesia sering digambarkan oleh lembaga donor dan media internasional sebagai negara miskin, rawan bencana, dan tidak efisien secara birokrasi. Representasi ini membuka ruang intervensi global, yang seringkali mengesampingkan kapasitas lokal.
2. Pembangunan sebagai Misi Pemodernan
Proyek-proyek besar seperti transmigrasi, pembangunan bendungan, dan konversi hutan dilakukan atas nama “pembangunan nasional”, tetapi acap kali mengorbankan masyarakat adat, petani, dan kelompok rentan lainnya—sebuah pola yang sangat mirip dengan kolonialisme modern yang dikritik oleh Said.
3. Marginalisasi Pengetahuan Lokal
Dalam pendidikan, pertanian, atau tata ruang, kebijakan nasional lebih sering mengadopsi pendekatan “ilmiah modern” dari Barat dan menganggap pengetahuan lokal sebagai usang atau irasional. Inilah bentuk kolonialisme pengetahuan yang disorot Said dalam Orientalism.
4. Diamnya Suara Subaltern
Komunitas di Papua, masyarakat adat di Kalimantan, nelayan di pesisir—sering kali tidak memiliki ruang untuk menyuarakan keberatan terhadap proyek-proyek besar. Mereka “dibicarakan”, tetapi tidak “didengar”.
Warisan Said: Melampaui Akademisi
Pemikiran Edward Said mendorong kita untuk:
-
Meragukan narasi besar pembangunan yang datang dari luar,
-
Mengakui dan menghormati cara hidup yang berbeda,
-
Membongkar bias dalam bahasa dan kebijakan pembangunan,
-
Mendorong pembangunan yang berpihak pada keadilan dan keberlanjutan.
Pembaca sekalian, Edward Said mungkin tidak menulis tentang “pembangunan” secara eksplisit, tetapi melalui pisau analisisnya yang tajam, ia membuka mata kita bahwa setiap narasi, termasuk pembangunan, selalu membawa kekuasaan.
Dalam dunia yang semakin sadar akan pentingnya dekolonisasi dan keadilan sosial, pemikiran Said tetap menjadi kompas moral dan intelektual Apakah kita benar-benar membangun demi kemajuan bersama, atau hanya melanjutkan pola lama dengan wajah baru?









