Alternatif Samir Amin dan Ide Memerdekakan Diri dari Dominasai Global

  • Whatsapp
Ilustrasi Samir Amin
  • Apa yang mengemuka dari sepak terjang BRICS ini mengingatkan kita pada sosok Samir Amin, Meski terealisasi belakangan namun gagasan BRICS ini sebangun atau tidak bisa dipisahkan dari perjuangan Samir Amin.
  • Bagi Samir Amin, delinking bukan berarti menutup diri, melainkan menata ulang prioritas pembangunan berdasarkan kebutuhan rakyat, bukan tuntutan pasar global.
  • Delinking mendorong kemandirian ekonomi, industrialisasi nasional berbasis sumber daya sendiri, serta sistem produksi dan distribusi yang berpihak pada kepentingan rakyat, bukan korporasi asing.

PELAKITA.ID – Kekuatan Ekonomi baru bernama BRICS — yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, belakangan ada kabar Indonesia masuk — bukan sekadar aliansi ekonomi negara berkembang, tetapi simbol perlawanan terhadap dominasi Barat dalam tatanan global.

Fenomenal dan dominan

Mereka mewakili lebih dari 40 persen populasi dunia dan sekitar 30 persen PDB global, menjadikannya kekuatan yang tak bisa diabaikan. Dengan mendirikan New Development Bank (NDB) dan mendorong reformasi lembaga keuangan internasional,

BRICS menawarkan jalan alternatif yang lebih adil dan setara bagi negara-negara Global Selatan, tanpa tekanan dan syarat ketat ala IMF atau Bank Dunia.  Mereka juga memelopori inisiatif dedolarisasi dan sistem pembayaran lintas negara yang dapat mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar AS.

Kekuatan BRICS terletak pada keberagaman dan sinergi: Tiongkok dan India sebagai raksasa ekonomi Asia, Rusia dengan kekuatan energi dan militernya, serta Brasil dan Afrika Selatan sebagai pemimpin regional di Amerika Latin dan Afrika.

Mereka tidak hanya membentuk blok ekonomi, tetapi juga menjadi katalis solidaritas Selatan-Selatan dan suara kolektif negara-negara pinggiran.

Dalam dunia yang tengah mencari keseimbangan baru, BRICS tampil sebagai poros baru multipolaritas global — membangun tatanan yang lebih demokratis, inklusif, dan berbasis kedaulatan.

Inilah yang membuat BRICS tidak hanya penting, tapi fenomenal.

Mengenang Samir Amin

Apa yang mengemuka dari BRICS ini mengingatkan kita pada sosok Samir Amin, Meski terealisasi belakangan namun gagasan BRICS ini sebangun atau tidak bisa dipisahkan dari perjuangan Samir Amin.

Siapa dia? Dia adalah salah satu mercusuar paling terang dari ‘Selatan Global’. Lahir di Mesir pada tahun 1931, Samir Amin bukan hanya seorang ekonom—ia adalah pemikir pembebasan yang menggugah kesadaran banyak bangsa akan pentingnya membangun jalan sendiri, lepas dari bayang-bayang dominasi negara-negara industri.

Amin dikenal luas karena konsistensinya dalam mengkritik struktur kapitalisme global yang menurutnya bukanlah mesin kesejahteraan universal, melainkan sistem yang secara sistematis mempertahankan kemakmuran negara-negara pusat dengan mengorbankan negara-negara pinggiran.

Gelisah pada Kapitalisme Dunia dan Ketimpangan yang Diinstitusikan

Menurut Samir Amin, masalah utama pembangunan di Dunia Ketiga bukan karena negara-negara ini “tertinggal”, tetapi karena mereka secara historis dijadikan pinggiran dalam sistem kapitalisme global.

Melalui penjajahan, perdagangan yang timpang, dan dominasi pasar, negara-negara industri (pusat) terus mengakumulasi keuntungan dari kerja keras dan sumber daya negara-negara berkembang.

Dalam karya besarnya Accumulation on a World Scale, Amin menunjukkan bahwa proses akumulasi kapital tidak pernah netral. Ia selalu berpihak pada pusat kekuasaan ekonomi, meminggirkan negara-negara yang dijadikan sumber bahan mentah dan pasar komoditas.

Delinking: Jalan Mandiri Menuju Kedaulatan

Salah satu konsep kunci dari Samir Amin adalah “delinking”—yakni seruan bagi negara-negara berkembang untuk melepaskan diri dari ketergantungan struktural terhadap sistem ekonomi global yang timpang.

Bagi Amin, delinking bukan berarti menutup diri, melainkan menata ulang prioritas pembangunan berdasarkan kebutuhan rakyat, bukan tuntutan pasar global.

Delinking mendorong kemandirian ekonomi, industrialisasi nasional berbasis sumber daya sendiri, serta sistem produksi dan distribusi yang berpihak pada kepentingan rakyat, bukan korporasi asing.

Relevansi dengan kondisi Indonesia

Gagasan Samir Amin menemukan relevansi yang kuat dalam konteks Indonesia hari ini. Di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang masih sangat tergantung pada ekspor komoditas mentah—seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel—Indonesia tetap berada dalam posisi rawan sebagai bagian dari “pinggiran global”.

Ketika harga global jatuh atau investasi asing hengkang, ekonomi dalam negeri pun limbung. Inilah yang dimaksud Amin sebagai ketergantungan struktural, di mana arah pembangunan tidak sepenuhnya ditentukan oleh bangsa itu sendiri.

Lebih jauh lagi, model pembangunan ekstraktif yang dominan di Indonesia menyebabkan kerusakan lingkungan, konflik agraria, dan marjinalisasi masyarakat adat serta petani.

Padahal, menurut Amin, pembangunan seharusnya dimulai dari kekuatan lokal: dari petani, nelayan, dan komunitas yang punya kearifan dan pengalaman mengelola alam secara lestari.

Menggugat Eurocentrism, Membangun Narasi Sendiri

Dalam buku lainnya, Eurocentrism, Samir Amin mengecam cara pandang dunia yang selalu menempatkan Eropa dan Barat sebagai pusat kemajuan dan peradaban. Ia mengajak bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk menulis ulang narasi sejarah dan pembangunan dari sudut pandang mereka sendiri.

Bagi Indonesia, ini adalah ajakan untuk menolak dogma bahwa kemajuan hanya bisa diraih dengan meniru negara-negara Barat. Sebaliknya, pembangunan sejati adalah hasil dari refleksi diri, penguatan institusi lokal, dan keberanian menentukan arah sendiri—dengan tetap terbuka namun tidak tunduk.

Saatnya Merdeka dari Ketergantungan

Warisan pemikiran Samir Amin mengajarkan bahwa kedaulatan ekonomi adalah bagian tak terpisahkan dari kemerdekaan politik. Ia tidak menawarkan utopia, tetapi strategi nyata bagi negara-negara berkembang untuk membebaskan diri dari jerat ketimpangan global.

Bagi Indonesia, pesan ini bukan sekadar teori. Ia adalah cermin—refleksi atas kenyataan kita hari ini, dan undangan untuk merumuskan masa depan yang lebih berkeadilan, lestari, dan berpihak pada rakyat.

“Delinking is not withdrawal from the world economy, but a refusal to be subjected to the logic of its mechanisms.” — Samir Amin