Yang Menggemaskan dari Beranda 25: Kepala Daerah Saja Dulu, ala Maqbul dan Kambie

  • Whatsapp
Podcast dua sahabat (istimewa)

Rugi kalau tidak ditonton!

Jadi kepala daerah gampang. Karena rakyat kita terlalu mudah memaafkan dan melupakan. Jadi, asal jadi dulu. Nanti rakyat akan lupa siapa yang janji apa. – A.S Kambie, Wartawan Politik

PELAKITA.ID – Minggu malam, saya tidur cepat. Jam 9 malam sudah di peraduan setelah sebelumnya mengantar istri memenuhi hasrat ngebakso di Jantung Kota Sungguminasa. Yang ditarget tutup, untung ada Bakso Malang keliling ngetem di ujung Jalan Kallongtala.

Istri lahap, keringat bercucuran, beberapa kali ditawari saya menolak. Saya memilih merenung tentang Kota Sungguminasa dan asa ke kepala daerahnya.

Mulai dari kondisi jalan kota nan sempit, bahkan ada beberapa ruas yang mulai rusak dan berisiko bagi pengendara, hingga dampak ekonomi Beautiful Malino saban tahun.

Perenungan saya itu bermuara pada membanding situasi dan tantangan pembangunan dan sosok kepala daerah. Semoga Bupati Gowa bisa menawarkan kebaruan dan polesan memikat untuk memjadikan Sungguminasa nampak kota, layaknya kota.

Maqbul Halim Kirim Video Podcast

Sosodara, lantaran tidur cepat, saya bangun cepat. Setelah salat subuh, gadget kuhidupkan. Mengecek pesan masuk. Ada konten Youtube kiriman alena beliau Maqbul Halim, sosok fenomenal, inspiring dan sombere’.

Video ini intro-nya sudah di-spill di WAG Alumni Unhas. Dia dan almukarram A.S Kambie – sahabat kita yang lain yang kalau melihat wajahnya seperti melihat Banau Tempe yang sabar dan penuh berkah – keduanya sepertinya sedang taping.

Dugaan saya benar, video hasilnya sudah dibagikan Maqbul berdurasi 31.36 detik, cukup berat bandwidth tapi pasti ‘isi daging semua’.

Teman-teman sekalian, saya menonton video ini sampai tuntas. Tidak ada percepatan apalagi langsung ke muara obrolan.

Dua kawan kita ini, adalah inspirasi. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah tausiah, adalah refleksi kontemplatif yang mestinya membuat kita semakin mawas diri dan tahu diri.

Pendek cerita, saya tulis beberapa kalimat atau perbincangan di Beranda 25 itu yang nyeleneh tapi penting untuk ’menyiksa batin’ demi sesuatu yang lebih baik ke depan, agar semua lebih baik maksudnya.

Pernyataan nyeleneh – nyeleneh ini bahasa Jawa, kayaknya sepadan sama koddala’ ya?

A.S Kambie: Saya diundang sebagai narasumber untuk membahas topik: “Yang Penting Kepala Daerah Saja Dulu.” Tapi izinkan saya bilang dulu, yang penting saya tiba saja dulu di sini. Soal jadi kepala daerah, bentuknya segitiga atau segiempat, tidak masalah. Yang penting jadi dulu.

Maqbul: Pertanyaan pertama: mana yang lebih penting? Jadi kepala daerah dulu, atau ide dulu seperti apa di kepala daerah? Lalu dijawab Kambie: Jelas: jadi kepala daerah dulu. Ide sebaik apa pun, menembus langit ketujuh sekalipun, tidak akan jadi kalau tidak terpilih. Hanya yang terpilih yang bisa mewujudkan.

Maqbul: Bagaimana dengan kepala daerah yang baru dilantik Februari lalu? Ada yang loncat parit, nyaris dijatuhi dahan, menyamar jadi pasien puskesmas.

A.S Kambie: Itu karena mereka lupa kalau sudah jadi kepala daerah. Terlalu lama bercita-cita, akhirnya setelah jadi, masih merasa belum jadi.

Maqbul: Pemilu berikutnya kemungkinan digelar 2029. Kalau yang penting hanya “jadi dulu,” bagaimana mempertahankan jabatan di periode berikutnya?

A.S Kambie: Gampang. Karena rakyat kita terlalu mudah memaafkan dan melupakan. Jadi, asal jadi dulu. Nanti rakyat akan lupa siapa yang janji apa.

Maqbul: Jadi menurut Anda, isi amplop atau pertemanan yang lebih penting dalam politik?

A.S Kambie: Di negara seberang, isinya. Di negara kita, karena dididik gotong royong dan Pancasila, teman atau bukan teman, semua sama. Yang membedakan adalah isi.

Maqbul: Ada cerita tentang politisi yang merelakan anaknya dinikahi warga, tapi kemudian kecewa karena tidak dipilih. A.S Kambie: Itu seperti merelakan istri jadi caleg. Tapi saya bilang ke istri saya, jangan. Jangan belajar berbohong.

Maqbul: Jadi banyak kebijakan kepala daerah yang tidak berdasarkan RPJMD? A.S Kambie: Ya, kebijakan bisa lahir dari mimpi. Tiba-tiba mau bangun jembatan padahal tidak ada sungai. Sudah anggarkan jembatan, lalu bikin anggaran sungai. Itulah kalau asal jadi kepala daerah.

Maqbul: Jadi kepala daerah itu seperti istirahat berpikir? A.S Kambie: Benar. Bahkan ada provinsi dengan 17 staf ahli dari Timur Tengah. Kepala daerah cukup istirahat, staf ahli yang mikir. Ada contoh mantan kepala daerah yang ingin menjabat lagi hanya untuk sehari.

A.S Kambie: Iya. Saking nyamannya jadi kepala daerah. Tidak usah pikir. Semua diurus. Bahkan mimpi pun diurus. Bahkan ada yang bilang, “Kalau saya mati dan bisa kembali, saya mau jadi kepala daerah meski sehari.”

Obrolan jenaka namum seperti jab-jab kiri-kanan untuk para politisi dan kepala daerah ini penulis sebut sebagai ‘parodi’ parodi dalam bentuk podcast dua sahabat yang sarat pengalaman dan jejaring kuat, layak ditonton sampai tuntas.

Masih banyak yang lain, yang penulis tidak sempat ketik, jadi tonton-maki juga.

Tamarunang, 14 Juli 2025