PELAKITA.ID – Pada dekade-dekade setelah Perang Dunia II, banyak negara di Amerika Latin, Afrika, dan Asia meraih kemerdekaan politik. Namun, meskipun telah bebas secara politik, sebagian besar negara-negara ini tetap berada dalam kondisi ekonomi yang terbelakang.
Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar: Mengapa pembangunan ekonomi begitu timpang?
Mengapa kekayaan tetap terkonsentrasi di negara-negara Utara (Global North), sementara negara-negara Selatan justru tertinggal?
Untuk menjawab pertanyaan ini, para pemikir pembangunan pada tahun 1960-an hingga 1980-an mengembangkan kerangka baru yang menantang teori-teori dominan saat itu.
Dua pendekatan besar yang muncul adalah Strukturalisme dan Teori Ketergantungan.
Kedua teori ini mengkritik pendekatan ekonomi neoklasik dan teori modernisasi, yang meyakini bahwa negara-negara miskin hanya perlu meniru jalur pembangunan negara maju untuk mencapai kemakmuran.
Sebaliknya, strukturalisme dan teori ketergantungan melihat bahwa ketimpangan pembangunan bersifat sistemik dan berakar pada struktur ekonomi global yang tidak adil.
Strukturalisme: Reformasi dari Dalam
Gagasan Pokok
Strukturalisme terutama berkembang di kalangan ekonom Amerika Latin. Teori ini menekankan bahwa hambatan utama pembangunan terletak pada struktur internal ekonomi negara-negara berkembang, yang membuat mereka bergantung pada ekspor komoditas primer (seperti bahan mentah dan hasil pertanian), sementara negara-negara maju menguasai produksi barang-barang manufaktur.
Strukturalisme menolak pandangan bahwa keterbelakangan adalah tahap alami menuju kemajuan. Sebaliknya, keterbelakangan dianggap sebagai hasil dari ketimpangan historis dan ketergantungan struktural dalam sistem ekonomi global.
Solusi yang ditawarkan meliputi:
-
Industrialisasi yang dipimpin oleh negara
-
Substitusi impor (Import Substitution Industrialization/ISI)
-
Proteksionisme untuk melindungi industri dalam negeri
-
Perencanaan ekonomi nasional jangka panjang
Tokoh Utama
Raúl Prebisch (Argentina)
Sebagai Direktur Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC/CEPAL), Prebisch menggagas Hipotesis Prebisch-Singer yang menyatakan bahwa harga komoditas primer cenderung menurun dibandingkan harga barang manufaktur, yang merugikan negara-negara pengekspor bahan mentah.
Untuk mengatasi ketimpangan ini, ia mendorong kebijakan substitusi impor, yaitu mengembangkan industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor barang jadi.
Celso Furtado (Brasil)
Furtado menyoroti hambatan historis dan struktural dalam pembangunan ekonomi Brasil. Ia mendukung intervensi negara, perencanaan ekonomi jangka panjang, dan kebijakan industrialisasi untuk mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi.
Teori Ketergantungan: Kritik Radikal terhadap Sistem Global
Gagasan Pokok
Teori ketergantungan lahir sebagai pengembangan lebih lanjut dari strukturalisme dengan pendekatan yang lebih radikal dan sering kali dipengaruhi oleh pemikiran Marxis.
Teori ini menyatakan bahwa keterbelakangan di negara-negara Dunia Ketiga bukanlah kebetulan, tetapi merupakan hasil dari relasi global yang tidak setara yang diciptakan dan dipertahankan oleh sistem kapitalisme internasional.
Dunia dipandang terbagi atas tiga kelompok utama:
-
Negara inti (maju dan industrial)
-
Negara pinggiran (terbelakang dan bergantung)
-
Negara semi-pinggiran (berada di antara keduanya)
Menurut teori ini, aliran kekayaan mengalir dari pinggiran ke pusat, memperkaya negara maju dan terus memperlemah negara berkembang.
Kapitalisme global menciptakan relasi yang menindas, dan pembangunan di pusat terjadi melalui eksploitasi terhadap pinggiran.
Tokoh-Tokoh Utama
Andre Gunder Frank (Jerman/Chile)
Frank dikenal dengan ungkapan terkenal “pembangunan keterbelakangan”, yang menggambarkan bagaimana integrasi negara berkembang ke dalam sistem kapitalisme global justru menciptakan ketergantungan dan memperkuat keterbelakangan.
Ia menolak teori modernisasi dan menuduh kapitalisme global sebagai penyebab utama kemiskinan.
Fernando Henrique Cardoso (Brasil)
Bersama Enzo Faletto, Cardoso menulis buku Dependency and Development in Latin America.
Ia memperkenalkan konsep “pembangunan dalam ketergantungan”, yang menjelaskan bahwa pembangunan tetap mungkin terjadi dalam situasi ketergantungan, tetapi akan bersifat rapuh, terbatas, dan sangat dipengaruhi oleh modal asing.
Samir Amin (Mesir/Senegal)
Amin mengembangkan gagasan “delinking” atau pemutusan hubungan dari sistem ekonomi global. Ia menganjurkan agar negara-negara pinggiran mengejar jalur pembangunan otonom, tanpa tunduk pada mekanisme pasar global. Baginya, kapitalisme adalah sistem yang secara inheren imperialis dan eksploitatif.
Immanuel Wallerstein (Amerika Serikat)
Wallerstein mengembangkan Teori Sistem Dunia (World-Systems Theory) sebagai bentuk lanjut dari teori ketergantungan.
Ia membagi dunia dalam struktur inti, semi-pinggiran, dan pinggiran, dengan penekanan pada kapitalisme historis dan ketimpangan global yang terus direproduksi.
Relevansi dan Warisan
Teori strukturalisme dan ketergantungan memainkan peran penting dalam memengaruhi arah kebijakan pembangunan di berbagai negara berkembang, terutama pada era 1960-an hingga 1980-an.
Warisan intelektual mereka dapat ditemukan dalam:
-
Perencanaan pembangunan nasional
-
Gerakan anti-imperialisme dan regionalisme Selatan seperti Gerakan Non-Blok
-
Kritik terhadap globalisasi, bantuan asing, dan dominasi perusahaan multinasional
-
Seruan untuk menciptakan Tatanan Ekonomi Internasional Baru (New International Economic Order/NIEO)
Meski telah dikritik karena dianggap terlalu deterministik dan terlalu mengandalkan peran negara, kedua pendekatan ini tetap menjadi fondasi penting dalam studi pembangunan dan wacana keadilan global hingga hari ini.
Tabel Ringkasan
| Teori | Fokus | Tokoh Utama | Implikasi Kebijakan |
|---|---|---|---|
| Strukturalisme | Struktur ekonomi domestik | Raúl Prebisch, Celso Furtado | Substitusi impor, proteksionisme, perencanaan nasional |
| Teori Ketergantungan | Relasi ekonomi global | Andre Gunder Frank, Cardoso, Samir Amin, Immanuel Wallerstein | Pemutusan ketergantungan, perlawanan terhadap kapitalisme |









