Bagi Hasyim Dara dan banyak alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas lainnya, momen ini adalah pengingat bahwa persahabatan yang tumbuh dari kesamaan mimpi dan perjuangan, bisa mencapai cakrawala yang jauh. Bahwa samudra bukanlah batas, melainkan jembatan menuju pencapaian dan pengabdian.
PELAKITA.ID – Di tengah riuh kehidupan akademik dan gelombang perubahan zaman, ada persahabatan yang tumbuh tenang namun dalam, seperti lautan yang mereka tekuni bersama.
Hasyim dan Najamuddin, dua sahabat yang memulai perjalanan mereka dari lorong-lorong kampus Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin, angkatan 1992. Keduanya – penulis sebagai sebagai Klaners – kini kembali dipertemukan oleh satu momen penuh makna: pengukuhan sahabat mereka, Prof. Dr. Najamuddin, ST., M.Si., sebagai Guru Besar dalam bidang Pencemaran Polutan Anorganik di Lingkungan Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Universitas Khairun, Ternate.

Hasyim – di masa kuliah biasa disapa Cicim. “Bahaya Cicim ini,” kadang begitu ucapan Naja. Tanda kedekatan, tanda persahabat. Teringat nama-nama seperti Ancir – alias Prof. Laode Muh Yasir, lalu ada Pampa alias Papat, Fafan, dan lain-lain.
Oh ya, bagi Hasyim Dara, pencapain Prof Najamuddin bukan sekadar seremoni akademik. Ini adalah puncak dari perjalanan panjang seorang sahabat, yang sejak awal telah menyelami samudra ilmu bersama.
Dari bangku kuliah di Makassar, hingga jalan hidup yang membawa mereka ke Maluku Utara—Hasyim sebagai PNS pertama dari angkatan mereka yang ditempatkan di sana, dan Najamuddin kemudian menyusul sebagai dosen di Universitas Khairun—semuanya seperti tersusun dalam arus laut yang menghubungkan bukan hanya wilayah geografis, tetapi juga takdir dan tekad.
Sukacita Klaners
Dalam sebuah ungkapan yang dibagikannya di Facebook, Hasyim menyampaikan rasa bangganya dengan kata-kata penuh makna, yang seakan membentangkan kembali ruang kuliah, laboratorium, dan lapangan-lapangan penelitian yang pernah mereka jejaki bersama:
Laut yang membentang luas hingga di kedalaman yang tak pernah terjamah oleh mata, sejarah dunia direkam sejak miliaran tahun silam.
Lapisan demi lapisan kedalaman laut dan hamparan samudera yang membentang luas seolah tak bertepi adalah kalimat-kalimat yang belum banyak terbaca,
Kami satu dari sedikit orang yang bersedia menyusuri sunyi dan gemuruh laut,
mau mendengar yang tak bersuara di kegelapan laut,
Mengungkap yang tersembunyi di dasar lantai samudera,
dan mencari yang tak terlihat di balik birunya warna lautan.”
Kata-kata ini, yang juga dikutip oleh Prof. Najamuddin dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya pada 12 Juli 2025, bukan hanya puisi, tetapi juga representasi filosofis dari misi keilmuan yang mereka pilih: memahami laut bukan hanya sebagai objek kajian, tetapi sebagai ruang hidup, ruang sejarah, dan ruang masa depan.
Dalam pidato ilmiahnya, tulis Hasyim, Prof. Najamuddin menekankan pentingnya menjaga laut dari ancaman polutan anorganik yang kian nyata. Isu pencemaran di laut pesisir dan pulau-pulau kecil bukan lagi ancaman masa depan, tetapi kenyataan hari ini.
Dalam penelitiannya, ia merekam jejak-jejak bahan pencemar logam berat dan senyawa berbahaya lainnya yang mulai merusak ekosistem laut secara sistemik. Laut yang selama ini merawat peradaban, kini justru membutuhkan perawatan dari manusia yang kerap alpa.
Sesungguhnya, melalui laut kita bisa memahami bagaimana dunia ini bekerja—
bagaimana laut bertemu dan berpisah,bagaimana sedimentasi dan erosi merapuh daratan,
bagaimana gelombang beresonansi dan berkecamuk,
bagaimana laut meluap dan menyusut,bagaimana mineral dalam laut terkubur untuk kemudian ditemukan kembali oleh tangan-tangan manusia,
dan bagaimana laut merawat peradaban.”
Bagi Hasyin, kutipan dari pidato pengukuhan tersebut mengukuhkan identitas Prof. Najamuddin bukan hanya sebagai akademisi, tetapi sebagai penjaga peradaban laut.
Ia adalah suara bagi yang tak bersuara—ekosistem yang terancam, komunitas pesisir yang rentan, dan generasi mendatang yang berhak mewarisi laut yang sehat.
Bagi Hasyim Dara dan banyak alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas lainnya, momen ini adalah pengingat bahwa persahabatan yang tumbuh dari kesamaan mimpi dan perjuangan, bisa mencapai cakrawala yang jauh.
Bahwa samudra bukanlah batas, melainkan jembatan menuju pencapaian dan pengabdian.
Bagi Hasyim, dan anak-anak Kelautan Unhas 92, pencapaian Prof. Najamuddin kini bukan hanya sahabat, dosen, atau peneliti, tapi juga simbol dari ketekunan, integritas, dan cinta pada laut yang membesarkan mereka.
Dan di balik semua itu, ada Hasyim Dara, sahabat yang sejak awal percaya bahwa laut menyimpan jawaban, dan persahabatan seperti mereka adalah satu bagian kecil dari kisah besar yang sedang ditulis oleh peradaban manusia dan lautan. Keduanya simbol pertemanan passompe dari Tanah Sulawesi dan penjaga kebudayaan maritim Ternate bernama Hasyim Dara.
Editor Denun









