Prof Dr Najamuddin, S.T, M.Si dikukuhkan sebagai guru besar pencemaran laut di Universitas Khairun Ternate. Mari simak isi pidato pengukuhan alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas tersebut berikut ini sebagaimana dibagikan untuk Pelakita dan pembacanya.
PELAKITA.ID – Laut yang membentang hingga ke kedalaman yang tak tersentuh mata manusia menyimpan sejarah dunia sejak miliaran tahun silam. Lapisan-lapisan samudra dan kedalaman yang tak bertepi ibarat paragraf-paragraf bisu yang belum selesai terbaca.
Kami adalah bagian dari sedikit orang yang bersedia menyusuri sunyi dan gemuruh laut, mendengar yang tak bersuara dalam gelapnya palung, mengungkap yang tersembunyi di dasar samudra, serta mencari yang tak kasatmata di balik birunya permukaan laut.
Lewat laut, kita bisa memahami cara dunia bekerja—bagaimana laut bertemu dan berpisah, bagaimana sedimentasi dan erosi membentuk ulang daratan, bagaimana gelombang beresonansi dan bergolak, bagaimana laut meluap lalu menyusut, bagaimana mineral terkubur lalu ditemukan kembali oleh tangan manusia, dan bagaimana laut merawat peradaban.
Paleooseanografi mencatat setiap jejak dari lembar-lembar peradaban semesta. Lautan adalah rumah peradaban yang harus kita jaga bersama.
Laut bukan sekadar wadah air asin. Ia adalah habitat bagi lebih dari 80% keanekaragaman hayati di planet ini (FAO, 2020), sumber pangan bagi lebih dari 7 miliar manusia (UNEP, 2021), pengatur iklim global yang tak tergantikan, penyedia air, energi, mineral, jalur pelayaran, wahana rekreasi, hingga sumber inspirasi. Namun kini, lautan berada dalam tekanan hebat.
Polutan kimia berbahaya telah merusak wajah laut, menurunkan fungsinya yang vital. Laut menelan “pil racun” berupa plastik, limpasan nutrien dan sedimen, cemaran logam berat, polutan organik persisten (POPs), serta berbagai polutan baru (emerging pollutants) yang perlahan tetapi pasti menggerogoti ekosistemnya—bagaikan kanker ganas yang mematikan.
Bencana seolah semakin dekat, namun kesadaran manusia kian tumpul. Laut sedang berbicara—bukan hanya tentang polutan kimia, tetapi juga tentang suhu yang meningkat, permukaan yang meninggi, intrusi air asin ke daratan, meningkatnya intensitas siklon tropis, dan gelombang yang makin bergolak.
Ini semua adalah peringatan agar kita berhenti menyuapi laut dengan racun, baik lewat sungai, udara, maupun tangan kita sendiri—yang sering kali tak merasa bersalah.
Secara geografis dan historis, laut adalah muara dari semua aktivitas manusia karena merupakan titik terendah dari permukaan bumi. Material dan zat dari daratan cenderung bermuara ke laut, mengikuti sirkulasi alami.
Maka tak heran jika sejarah polusi laut selalu sejajar dengan sejarah kehidupan manusia. Konsentrasi polutan di lautan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi global, industrialisasi, dan ekspansi perdagangan maritim yang menghasilkan limbah kimia beracun.
Ironisnya, pertumbuhan tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan kesadaran ekologis.
Pencemaran laut menjadi isu global yang mendesak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengadopsi 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dengan target SDG 14.1 menekankan pentingnya “mencegah dan secara signifikan mengurangi pencemaran laut dari segala jenis, terutama dari aktivitas darat, termasuk sampah laut dan pencemaran nutrien” pada tahun 2025 ini.
Sumber dan Sebaran Polutan Kimia Berbahaya
Polutan kimia berbahaya berasal dari dua sumber utama:
-
Pencemaran berbasis daratan (land-based pollution)
-
Pencemaran berbasis laut (marine-based pollution)
Media penyebarannya melalui udara dan air menyebabkan seluruh wilayah laut—termasuk pulau-pulau terpencil—berpotensi tercemar. Polutan ini menyebar ke seluruh kompartemen laut: kolom air, sedimen dasar, dan jaringan biota. Ketika polutan masuk ke rantai makanan, maka ancaman serius pun muncul terhadap sumber pangan laut dan kelangsungan hidup manusia.
Krisis Polusi Plastik
Plastik adalah pencemar utama di laut dengan estimasi sekitar 80% dari total polutan laut. Plastik merupakan polimer hasil sintesis dari bahan dasar minyak bumi (naphta), dan produksinya meningkat tajam setiap tahun.
-
Tahun 2015–2020: produksi global naik dari 2 juta ton menjadi 213 juta ton
-
Proyeksi 2060: mencapai 1,23 miliar ton
-
Asia Tenggara (2024): 30,48 juta ton; diprediksi naik jadi 38,36 juta ton pada 2029
-
Indonesia: produksi rata-rata 1,65 juta ton/tahun (Kemenperin)
Namun sebagian besar plastik menjadi sampah:
-
Tahun 2015: 55% menjadi sampah, 20% didaur ulang, 25% dibakar
-
Tahun 2020: 71% menjadi sampah, hanya 9% didaur ulang (Our World in Data, 2025)
Diperkirakan 5–14 juta ton sampah plastik masuk ke laut tiap tahun. Total akumulasinya mencapai 30,41 juta ton (2000–2020), dan bisa mencapai 37 juta ton per tahun pada 2040 tanpa intervensi. Di Indonesia, sekitar 200.000 metrik ton/tahun plastik masuk ke laut.
Distribusi plastik terkonsentrasi di lima gyre besar (arus pusaran laut), terutama di Samudra Pasifik bagian utara dengan kepadatan hingga 2.500 item/km². Pantai Indonesia sendiri mencatat kepadatan 32.501 item/km².
Masalah utama plastik adalah sulit terurai. Misalnya:
-
Jaring nelayan: butuh waktu 600 tahun untuk terurai
-
Mikroplastik: sangat kecil, mudah masuk rantai makanan
-
Estimasi mikroplastik di laut: 100–171 triliun partikel mengambang di permukaan global
Dampak Mikroplastik
Mikroplastik berdampak serius bagi ekosistem laut dan manusia:
-
Biota laut: salah makan (food-pseudo), usus tersumbat, kematian
-
Rantai makanan: mikroplastik ditemukan dalam plankton, ikan kecil, hingga manusia
-
Kesehatan manusia: disrupsi endokrin, karsinogenik, gangguan neurologis, reproduksi, imunitas
-
Mikroplastik telah ditemukan dalam plak arteri manusia, berisiko memicu stroke dan serangan jantung
Temuan di Indonesia (Maluku Utara):
-
Lessy & Sabar (2021): mikroplastik dalam ikan tuna Katsuwonus pelamis (70–160 partikel/ekor)
-
Umasangaji & Ramili (2022): dalam teripang laut (20–160 partikel/ekor)
-
Najamuddin et al. (2025): dalam ikan sunu Plectropomus leopardus (7–35 partikel/ekor)
Ancaman Logam Berat
Setelah plastik, polutan logam berat seperti Pb, Cd, Cr, Cu, Zn, Ni, dan Hg menjadi ancaman serius. Sumber utama: industri, tambang, pertanian, dan aktivitas pelayaran.
-
LIPI (2020): logam berat melampaui ambang batas di >60% titik pantau laut Indonesia
-
Najamuddin et al. (2016): logam berat di pantai Makassar melebihi baku mutu
Beberapa riset di Maluku Utara:
-
Marasabessy et al. (2010): Ni & Cu dalam sedimen Pulau Bacan melebihi baku mutu
-
Edward (2015): Pb di Pulau Morotai masih aman
-
Lessy (2015): Cu di Teluk Kao melampaui ambang batas
-
Nurhamiddin & Ibrahim (2018): Pb dan Cu di Bastiong masih aman
-
Fendjalang et al. (2023): Pb di Kupa-Kupa masih di bawah ambang batas
-
Najamuddin et al. (2024): Pb & Cr di Pulau Ternate melebihi batas; Hg masih aman









