Ketika Negara Bersaksi atas Noda Seksual

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Muliadi Saleh, penulis, pemikir, penggerak literasi dan kebudayaan yang mengusung slogan “Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban” membagikan penerawangan dan suara batinnya tentang realitas bangsa, tentang konflik, tentang perundungan tentang malpraktik aparat penegak hukum serupa larik-larik puisi.

___

Indonesia tengah berjalan di atas bara yang diselimuti diam:
Bara itu bernama kekerasan seksual,
yang membakar perlahan namun pasti:
tubuh anak-anak, tubuh perempuan, tubuh mereka yang tak punya kuasa.

Dari pesantren hingga ruang praktik medis,
dari kelas sekolah hingga kolom komentar digital,
pengkhianatan terhadap martabat manusia tak lagi hanya dosa pribadi—
ia menjelma menjadi tragedi nasional.
Komnas Perempuan mencatat bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan masih menjadi masalah serius di Indonesia. Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender yang paling banyak dilaporkan, dan kasus-kasus ini meningkat setiap tahunnya. 
Banyak kisah miris yang
mengaduk  nurani yang dipertontonkan di berbagai media.
Di Lombok Barat, seorang ustaz “memangsa” santriwatinya.
Di Bandung dan Garut, dokter spesialis merusak batas etik dan akhlak.
Di NTT, anak-anak dijebak dalam grup “fantasi sedarah” yang menjijikkan.
Sementara di Tebet, guru mengaji menjadikan ilmu sebagai alat, bukan cahaya.

Ini bukan sekadar krisis moral.
Ini adalah kehancuran akar peradaban.

Di negeri ini, tubuh perempuan dan anak sering kali bukan milik mereka sendiri.
Dipandang sebagai objek, bukan amanah. Disentuh tanpa izin, dinilai tanpa hati, dilukai tanpa empati.

Ironisnya, ketika korban bersuara, yang datang bukan perlindungan, tapi pertanyaan:
“Kenapa tak dari dulu?”
“Kenapa diam?”
“Kenapa tak menutup aurat?”

Padahal yang salah bukan diamnya korban, tapi suara palsu dari sistem yang menormalisasi pelecehan.

Agama—yang seharusnya menjadi pelindung martabat—
kadang disalahgunakan oleh mereka yang berkedok suci.
Padahal Islam, sejak awal, mengajarkan kehormatan mutlak atas tubuh dan jiwa manusia.
Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah suci sebagaimana sucinya hari ini, di negeri ini, dan di bulan ini.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Agama bukan alat dominasi.
Ia adalah cahaya penjaga hati, bukan tameng penyamun.

Apa yang bisa kita lakukan?

Kita butuh reformasi budaya dan hukum, tapi juga revolusi ruhani dan pendidikan berbasis nilai keagamaan yang benar.
Bukan sekadar hafalan dan simbol,
tetapi penanaman akhlak yang jernih sejak dini.

Masjid, gereja, pura, vihara—semua rumah ibadah harus menjadi ruang aman dan pelindung. Bukan tempat pembungkaman.
Pemuka agama harus menjadi pengawal etika, bukan penyusun alibi para pelaku.
Mereka harus bersuara lantang bahwa menyakiti anak dan perempuan adalah dosa besar yang tak bisa ditawar.

Solusi agama harus dihidupkan secara utuh, antara iman dan ihsan.
Pendidikan seksual berbasis nilai-nilai ilahiah harus diajarkan secara arif, bukan ditabukan.
Seks bukan hanya soal syahwat, tapi soal amanah.
Tubuh bukan hanya jasad, tapi titipan Tuhan.
Dan menjaga diri dari yang haram adalah ibadah, sebagaimana menjaga orang lain dari kezaliman adalah bentuk tauhid yang hakiki.

Agama harus kembali ke fitrahnya:
mendidik nurani, menumbuhkan rasa malu, menyemai tanggung jawab, dan memuliakan sesama.

Tanpa itu semua, hukum akan jadi pasal tanpa nyawa,
dan budaya akan jadi panggung pura-pura.

Sementara itu, korban terus bertambah, dan sunyi terus menangis di bawah ranjang,
di pojok kelas, di dalam chat,
di bawah dandang, di tempat yang seharusnya suci, tapi kini ternoda.

Maka hari ini, kita suarakan doa dan tuntutan yang sama:

Ya Allah, jagalah anak-anak kami dari tangan yang durhaka.
Bangkitkan ulama dan pemimpin yang melindungi bukan menutupi.
Hidupkan hukum yang adil, bukan basa-basi. Hadirkan negara, bukan sekadar narasi. Dan kembalikan agama sebagai cahaya, bukan alat penguasa.

Jika bangsa ini ingin selamat,
maka tubuh dan jiwa manusia harus dijaga.
Karena kemuliaan negeri bukan diukur dari megaproyek dan jumlah investasi,
melainkan dari seberapa aman seorang anak perempuan tidur di malam hari—
dan seberapa berani seorang ibu mempercayakan dunia pada kebaikan manusia.

Muliadi Saleh
Penulis, Pemikir, Penggerak Literasi dan Kebudayaan
Slogan: “Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban”