Amplitudo Pemikiran Celso Furtado dan Pelajaran Penting untuk Indonesia

  • Whatsapp
Celso Furtado (ilustrasi Pelakita.ID)
  • Karya utama Furtado, Formação Econômica do Brasil (1959), bukan hanya sebuah buku sejarah ekonomi, tetapi sebuah analisis struktural yang mendalam mengenai bagaimana kolonialisme membentuk arah dan wajah pembangunan nasional Brazil.
  • Gagasan Utamanya adalah kolonialisme menciptakan struktur ekonomi ekstraktif.
  • Ketergantungan pada ekspor komoditas tunggal (monokultur seperti gula dan kopi). Ada penggambaran ketimpangan struktural antara kawasan—terutama antara Brasil Timur Laut (terbelakang) dan Brasil Tenggara (maju)—tidak akan teratasi tanpa intervensi aktif negara.

PELAKITA.ID – Celso Furtado (1920–2004) adalah salah satu tokoh sentral dalam ekonomi pembangunan dari Amerika Latin, khususnya dari Brazil.

Ia dikenal luas sebagai pemikir Strukturalis, generasi penerus dari Raúl Prebisch, dan memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan pembangunan di Amerika Latin pasca-kolonial.

Melalui karya-karyanya, Furtado menjelaskan bahwa keterbelakangan dan ketimpangan bukan semata akibat kurangnya kemajuan, tetapi produk dari struktur ekonomi historis yang timpang dan ketergantungan global.

“Formação Econômica do Brasil”: Amplitudo Pemikiran yang Melampaui Zaman

Karya utama Furtado, Formação Econômica do Brasil (1959), bukan hanya sebuah buku sejarah ekonomi, tetapi sebuah analisis struktural yang mendalam mengenai bagaimana kolonialisme membentuk arah dan wajah pembangunan nasional Brazil.

Gagasan Utamanya adalah kolonialisme menciptakan struktur ekonomi ekstraktif. Ketergantungan pada ekspor komoditas tunggal (monokultur seperti gula dan kopi).

Ada penggambaran ketimpangan struktural antara kawasan—terutama antara Brasil Timur Laut (terbelakang) dan Brasil Tenggara (maju)—tidak akan teratasi tanpa intervensi aktif negara.

Lalu, pembangunan harus mencakup reformasi struktural, termasuk redistribusi lahan, investasi pendidikan, dan perencanaan nasional yang memprioritaskan kesetaraan antarwilayah.

Buku ini menjadi rujukan utama bagi generasi ekonom pembangunan, tak hanya di Amerika Latin, tetapi juga di dunia pasca-kolonial lainnya, termasuk Asia Tenggara.

Relevansi Pemikiran Furtado untuk Indonesia

Banyak dari gagasan Celso Furtado dapat ditemukan secara nyata dalam realitas pembangunan Indonesia, terutama dalam hal warisan kolonial, ketimpangan wilayah, dan perlunya transformasi struktural.

Warisan Kolonial dan Ekonomi Ekstraktif

Sama seperti Brazil, Indonesia mengalami eksploitasi kolonial yang berkepanjangan.

Penjajahan VOC dan Belanda selama lebih dari tiga abad membentuk ekonomi berbasis pertanian dan perkebunan untuk ekspor (rempah-rempah, gula, kopi, teh) dan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang memperkaya pusat kolonial dan melumpuhkan inisiatif ekonomi rakyat.

Furtado menyatakan bahwa model seperti ini tidak akan pernah menghasilkan pembangunan mandiri, melainkan memperdalam ketergantungan pada pasar global dan menghambat diversifikasi ekonomi nasional—persis seperti yang dialami Indonesia.

Ketimpangan Wilayah: Jawa dan Luar Jawa

Furtado dikenal karena menganalisis ketimpangan regional antara wilayah yang maju dan tertinggal di Brazil.

Indonesia pun menghadapi masalah serupa Jawa sebagai pusat ekonomi, politik, dan industri dan Luar Jawa, terutama wilayah timur seperti Maluku, NTT, Papua, seringkali terpinggirkan dari arus utama pembangunan

Sama seperti rekomendasi Furtado untuk Brasil Timur Laut, Indonesia pun memerlukan kebijakan afirmatif, investasi infrastruktur, dan perencanaan wilayah yang adil.

Pentingnya Perencanaan dan Intervensi Negara

Furtado sangat percaya pada perencanaan pembangunan nasional yang berbasis pada kondisi sosial-ekonomi dalam negeri, bukan sekadar mengikuti resep pasar bebas. Indonesia, terutama selama era Orde Baru (1966–1998), menerapkan model ini melalui REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun), peran aktif BUMN dalam sektor strategis dan industri substitusi impor yang diarahkan negara

Meski banyak menghadapi kendala seperti sentralisasi dan korupsi, semangat perencanaan sebagai alat keadilan struktural sangat sejalan dengan pemikiran Furtado.

Pembangunan Manusia dan Modal Sosial

Furtado menekankan pentingnya pendidikan dan investasi sosial sebagai landasan pembangunan jangka panjang. Ini sangat relevan dengan Program Indonesia Pintar, Dana Desa, dan Bantuan Sosial dan Program peningkatan SDM di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal)

Baginya, pembangunan bukan hanya soal angka PDB, tetapi tentang mengurangi ketimpangan dan membangun kemampuan warga negara.

Tabel Perbandingan: Furtado dan Indonesia

Pemikiran Celso Furtado Konteks Indonesia
Ekonomi ekstraktif warisan kolonial Ekspor sawit, batubara, nikel, dan komoditas primer
Ketimpangan antarwilayah Ketimpangan Jawa vs. luar Jawa, terutama wilayah timur
Pentingnya perencanaan dan peran negara REPELITA, hilirisasi, BUMN, dan pembangunan IKN
Pembangunan manusia dan pendidikan Dana Desa, Indonesia Pintar, pelatihan vokasional, afirmasi 3T

Pemikiran Celso Furtado mengajak kita untuk melihat akar sejarah ketimpangan, bukan hanya permukaannya. Ia menolak anggapan bahwa negara berkembang hanya perlu “mengejar ketertinggalan”, dan sebaliknya menekankan bahwa struktur sosial, ekonomi, dan politik harus diubah untuk menciptakan pembangunan yang adil.

Bagi Indonesia, warisan intelektual Furtado menawarkan kerangka berpikir jangka panjang.

Apa itu? berani menghadapi struktur global yang tidak adil. Memperkuat basis ekonomi dalam negeri, dan mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berbasis kerakyatan.