“Saya itu senang sekali nonton video dan postingan tentang Agam, Suka haru dan bangga dengan survive dan heroismenya.”
Cahyadi Rasyid, Alumni Kelautan Unhas 95, Kemenko Pangan RI
PELAKITA.ID – Di beberapa grup WAG Alumni Unhas baik di Departemen mauun di grup besar Alumni Unhas yang beranggotakan 900-an alumni mencuat kebanggaan di balik membaurnya Agam Rinjani dengan Pengurus IKA Unhas Jabodetabek di Kedai Kopi Phoenampungan, Jakarta, Sabtu, 12 Juli 2025.
Foto itu bahkan diberi caption, IKA Unhas Jabodetabek Goes to Rinjani.
Terlepas dari rencana itu, penulis ingin menyatakan momen itu adalah momen penuh makna.
Bukan hanya karena suasananya yang akrab atau meja panjang yang dipenuhi sisa kopi dan tawa, melainkan karena satu sosok yang duduk di tengah, berambut gondrong, berkulit legam khas udara pegunungan, dan mengenakan kemeja lusuh yang terlihat begitu ia kenakan.
Agam Rinjani adalah alumni Antropologi Universitas Hasanuddin yang namanya menjadi pembicaraan setelah keberaniannya dalam proses evakuasi jenazah seorang pendaki asal Brasil dari puncak Gunung Rinjani. Informasi ini disampaikan pertama kali of dosennya Prof Tasrifin Tahara.
Di Phoenampungan, Agam tidak datang sebagai pahlawan. Ia datang sebagai saudara, sebagai alumni, sebagai anak Unhas dan ngopi di Phoenampungan, pelabuhan bagi para pengelana samudera pengabdian.
Kehadirannya membawa semangat yang lebih luas: tentang pengabdian tanpa pamrih, tentang keberanian yang tidak mencari sorotan, dan tentang nilai-nilai yang hidup bukan di ruang kuliah, tapi di lereng gunung dan dasar kemanusiaan.
Pertemuan Simbolik
Foto yang terekam dalam pertemuan itu menunjukkan lebih dari dua puluh alumni Unhas Jabodetabek dari berbagai latar belakang, berkumpul mengelilingi Agam. Beberapa tersenyum lebar, lainnya mengepalkan tangan sebagai bentuk dukungan dan semangat.
Di antara mereka, hadir juga dr. Afdal, Ketua Umum IKA Unhas Jabodetabek, yang duduk bersisian dengan Agam, memperlihatkan betapa pentingnya momen ini bagi jejaring alumni.

Pertemuan tersebut, walau singkat dan santai, membawa arti yang dalam bagi organisasi alumni. IKA Unhas Jabodetabek tidak sedang merayakan prestise, melainkan merayakan nilai-nilai luhur yang jarang dirayakan: keberanian, pengabdian, dan kemanusiaan.
Agam adalah representasi dari mereka yang bekerja dalam diam, jauh dari hiruk pikuk panggung publik. Sehingga diapun harus dimaknai tentang pentingnya menghargai pilihan itu dan mestinya tak mengubah prinsip atau metodenya.
Bahwa dia kemudian bergaul luas, itu tentu belum mewakili spirit atau apa yang menjadi panduan hidupnya. Ketenarannya karena nilai solidaritas itu bisa dimaknai sebagai ‘mari membangun solidaritas alumni untuk saling ulur tangan dan bantu satu sama lain, jangan sebaliknya’.
Agam memberi gambaran kepada kita semua bahwa di balik penampilannya yang bersahaja, tersimpan pengalaman panjang dalam dunia pendakian, relawan kemanusiaan, dan advokasi lingkungan.
Ia pun didapuk sebagai figur tangguh, pendaki berintegritas, dan pendamping spiritual bagi para penjelajah jalur sunyi. Bisakah kita semua menyebarluaskan spirit yang sam?
Bagi Agam, aksinya yang luar biasa dalam evakuasi jenazah pendaki asing bukan hanya soal teknis. Itu adalah misi kemanusiaan di ketinggian ekstrem, dengan risiko besar. Ia menggerakkan tidak hanya fisik, tetapi juga jiwa kolektif: bahwa nyawa manusia—siapapun ia, dari bangsa manapun—adalah sesuatu yang patut diperjuangkan hingga akhir.
IKA Unhas dan Pentingnya Pengakuan Sosial
Saya kira, dalam dunia yang seringkali lebih cepat memberi sorotan pada selebritas atau politisi, kehadiran Agam Rinjani bersama pengurus IKA Unhas adalah bentuk keberanian lain: keberanian untuk mengangkat narasi dari pinggiran, untuk merayakan alumni yang tidak mencari panggung, tapi memberi makna.
Bagi IKA Unhas Jabodetabek, momen ini mempertegas posisinya sebagai organisasi yang tidak hanya bersandar pada status atau jabatan anggotanya, melainkan pada nilai.
Nilai bahwa setiap alumni—apakah itu pendaki, dokter, akademisi, pengusaha, atau relawan—memiliki kontribusinya sendiri dalam membentuk wajah kemanusiaan dan keindonesiaan.

Dan kalau diperluas, kita bisa menyebut semua alumni adalah pemilik pengalaman, pemilik pengetahuan dan bagian dari jaringan intelektualitas dan pengabdian sosial dan lingkungan. Inilah yang harus dirayakan dan digaungkan terus menerus.
Pada ruang dan wakty mungkin nanti Agam kembali menepi, tapi IKA Unhas Jabodetabek tentu punya alasan besar untuk terus melanjutkan solidaritas dan kerja-kerja sosial lingkungan ini.
Nah, kalau dimaknai lebih jauh, pertemuan dengan Agam memberi pesan yang kuat: bahwa Unhas tidak hanya menghasilkan lulusan, tapi pembelajar seumur hidup yang bekerja di medan nyata.
Ia bukan hanya inspirasi bagi sesama alumni, tetapi juga bagi generasi muda kampus yang kadang kehilangan figur untuk diteladani. Dalam diam dan keterbatasannya, Agam menawarkan teladan: bahwa intelektualitas bisa diwujudkan dalam aksi nyata, bukan hanya di ruang diskusi.
Selain itu, ini juga menjadi modal sosial yang penting. IKA Unhas, melalui figur seperti Agam, dapat menjembatani komunikasi lintas sektor—mulai dari pelestarian alam, penanganan bencana, hingga advokasi komunitas marginal—yang selama ini sering luput dari perhatian kampus.

Sosodada, foto bersama Agam Rinjani bukan sekadar dokumentasi kegiatan alumni. Ia adalah simbol. Simbol bahwa keberanian bisa datang dari siapa saja. Bahwa kontribusi tidak selalu lahir dari ruang kekuasaan, tapi bisa muncul dari tubuh yang mendaki, tangan yang menggali, dan hati yang peduli.
Bagi IKA Unhas Jabodetabek, ini bukan hanya tentang mengabadikan momen, tapi tentang merawat jejak kemanusiaan, tentang meneguhkan bahwa setiap alumni adalah wajah Unhas—wajah yang bisa muncul di mana saja, bahkan di jalur paling sunyi sekalipun.
Kopizone, 12 Juli 2025









