Mengakui bahwa pertumbuhan bukan segalanya. Pemerataan dan inklusi jauh lebih penting untuk keberlanjutan sosial.
Memberdayakan institusi lokal. Ketimpangan bisa dilawan dengan memperkuat kapasitas daerah dan komunitas.
Memperbaiki desain kebijakan publik. Perlu ada keberpihakan yang eksplisit kepada kelompok yang selama ini tertinggal, bukan netralitas yang semu.
PELAKITA.ID – Gunnar Myrdal (1898–1987) adalah seorang ekonom dan sosiolog asal Swedia yang dikenal sebagai pemikir kritis dalam isu pembangunan, ketimpangan, dan kemiskinan struktural.
Bersama Friedrich Hayek, ia menerima Nobel Ekonomi pada 1974 atas kontribusinya dalam teori interdependensi ekonomi dan institusi sosial. Namun, warisan terbesarnya mungkin berasal dari pandangannya yang progresif terhadap pembangunan sebagai fenomena multidimensi—melampaui sekadar pertumbuhan ekonomi.
Teori Cumulative Causation: Ketimpangan yang Terus Bertambah
Myrdal memperkenalkan konsep circular and cumulative causation, yakni proses pembangunan yang bersifat saling menguatkan dan cenderung memperlebar ketimpangan antara wilayah kaya dan miskin.
Ketika satu wilayah berkembang lebih cepat (misalnya karena investasi atau infrastruktur), ia akan terus menarik sumber daya dari wilayah lain, sehingga menciptakan siklus keuntungan yang makin besar di satu sisi dan stagnasi di sisi lain.
“Kemajuan di satu tempat memperbesar kemungkinan kemajuan lebih lanjut; sebaliknya, kemunduran menciptakan lingkaran setan.” – Gunnar Myrdal
Pembangunan sebagai Proses Sosial, Bukan Sekadar Ekonomi
Myrdal mengkritik pendekatan ekonomi ortodoks yang memandang kemiskinan hanya sebagai kurangnya modal atau produktivitas. Bagi Myrdal, pembangunan adalah proses sosial yang kompleks, mencakup:
-
Ketimpangan kekuasaan dan institusi,
-
Ketidakadilan distribusi sumber daya,
-
Peran budaya, politik, dan diskriminasi struktural.
Dalam bukunya Asian Drama: An Inquiry into the Poverty of Nations (1968), ia menyelidiki kemiskinan di Asia Selatan dan menemukan bahwa pembangunan gagal bukan karena kurangnya teori ekonomi, melainkan karena kegagalan institusi, budaya birokrasi, dan lemahnya akuntabilitas.
Relevansi di Indonesia: Membedah Ketimpangan yang Mengakar
Konsep-konsep Myrdal sangat relevan dalam memahami situasi pembangunan di Indonesia, khususnya dalam tiga hal berikut:
Ketimpangan Regional: Jawa vs. Luar Jawa
Sejak masa Orde Baru hingga kini, Indonesia menghadapi ketimpangan pembangunan antara Pulau Jawa dan wilayah lainnya. Pusat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur terkonsentrasi di Jawa, menciptakan cumulative causation yang terus memperbesar kesenjangan. Meski telah ada otonomi daerah dan Dana Desa, tantangan ketimpangan tetap besar.
Kemiskinan Struktural dan Eksklusi Sosial
Myrdal melihat bahwa kemiskinan adalah hasil dari proses sosial dan politik jangka panjang.
Di Indonesia, kelompok adat, masyarakat pesisir, perempuan, dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) sering kali mengalami keterpinggiran sistematis dalam akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi.
Kegagalan Model Pembangunan yang Seragam
Myrdal menolak pendekatan pembangunan satu ukuran untuk semua (one-size-fits-all).
Hal ini sejalan dengan kritik terhadap program-program sentralistik seperti transmigrasi dan Revolusi Hijau, yang meski memiliki dampak ekonomi, sering kali mengabaikan konteks lokal dan menimbulkan konflik agraria serta kerusakan lingkungan.
Pelajaran dari Myrdal: Bangun dari Pinggiran
Pemikiran Gunnar Myrdal menegaskan bahwa untuk mencapai pembangunan yang berkeadilan, Indonesia perlu:
-
Mengakui bahwa pertumbuhan bukan segalanya. Pemerataan dan inklusi jauh lebih penting untuk keberlanjutan sosial.
-
Memberdayakan institusi lokal. Ketimpangan bisa dilawan dengan memperkuat kapasitas daerah dan komunitas.
-
Memperbaiki desain kebijakan publik. Perlu ada keberpihakan yang eksplisit kepada kelompok yang selama ini tertinggal, bukan netralitas yang semu.
Relevansi Abadi untuk Indonesia
Myrdal tidak menawarkan resep instan, tetapi memberikan lensa kritis untuk melihat mengapa pembangunan bisa gagal atau berhasil.
Di tengah upaya Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, tantangan pembangunan yang adil dan merata masih sangat besar. Dengan memahami pemikiran Myrdal, kita diingatkan bahwa pembangunan bukan hanya soal angka-angka, tetapi juga tentang manusia, struktur sosial, dan keberanian untuk merombak sistem yang timpang.
“Masalah kemiskinan bukan semata-mata soal ekonomi. Ia adalah persoalan sosial dan politik yang mendalam.” – Gunnar Myrdal
