PELAKITA.ID – Saat kami masuk kuliah di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan (TK Unhas) tahun 1989, jumlah mahasiswa aktif hanya sekitar 40-an orang dari 50 kuota diterima.
Kini, untuk hanya di Ilmu Kelautan saja di FIKP, kuota mahasiswa baru mencapai 250 orang per tahun. Ini menunjukkan lonjakan minat dari berbagai daerah dan tentu tanda kesiapan kampus dalam hal infrastruktur dan dosen.
Sayangnya, dalam sepuluh tahun terakhir, intensitas riset dan dukungan anggaran belum berkembang seiring lonjakan jumlah mahasiswa. Harapan besar kini bertumpu pada kepemimpinan dekan baru untuk mendorong terobosan yang nyata. Hal ini penulis cermati dari disiplin Kelautan sebagaimana latar bekalang penulis.
Ada temuan penulis, dalam sepuluh tahun terakhir, intensitas riset dan dukungan anggaran belum maksimal atau belum berkembang seiring lonjakan jumlah mahasiswa. Perubahan besar juga tampak dari pola pembelajaran.
Seorang lulusan Ilmu Kelautan saat ditanya penulis mengaku hanya empat kali mengunjungi Pulau Barrang Lompo selama kuliah. Padahal dulu, kami bisa empat kali dalam sebulan ke sana. Bukan hanya dia yang bilang begitu. Yang lain seperti mengamini bahwa intensitas kerja lapangan atau minat ke pulau-laut tak seperti dulu.
Praktikum lapangan yang dulunya menjadi identitas kini semakin memudar, ini wajah kita. Like or dislike harus diakui. Kalaupun berangkat praktikum dibuat seefisien mungkin, departemen digabung atau mata kuliah digabubg padahal bisa saja ini mengganggu fokus dan kesungguhan mahasiswa.
Kita harus akui bahwa visi dan misi Unhas memang telah bergeser mengikuti zaman, tetapi apakah proses belajar-mengajarnya benar-benar relevan dengan kebutuhan masa kini? Ini pertanyaan penting yang mesti kita jawab semua di tengah upaya Rektorat menjadikan Unhas melenggang ke The World Class University.
Masuknya Unhas ke ranking di bawah 1000 WUR 2026 adalah contoh baik tapi tantangan terus terus berubah, jangan sampai kapasitas tak ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.
Atau, jangan sampai saat dunia telah mengandalkan teknologi nirkabel dan presentasi layar sentuh, kampus atau tenaga dosen masih gagap mengatur proyektor atau memindahkan kuliah ke Zoom tanpa persiapan. Semoga tidak.
Butuh contoh
Sosodara, setiap masa memiliki tantangan sendiri, dan itu menuntut pendekatan baru. Kepemimpinan akademik perlu bersifat transformatif, bukan sekadar administratif.
Menurut Prof Otto Scharmer, inventor U Theory, kurang lebih, faktor penting dalam mencapai tujuan organisasi adalah interior organisasi itu sendiri. Apakah visi yang mereka gariskan sudah sesuai dengan kapasitas tersedia.
Apakah kampus kita – apapun nama dan di manapun berada, apakah tendik, apakah guru besar, sudah siap bertransformasi untuk meningkatkan kapasitas personil, organisasi atau sistem mereka dan tidak lengah dengan hanya godaan mengelus-elus nilai renumerasi bulanan dan abai pada tanggung jawab moral mendidik?
Patut direnungkan bahwa mahasiswa tidak hanya butuh ilmu dan keterampilan, tetapi juga keteladanan sikap.
Sayangnya, tak sedikit dosen yang lebih sibuk di luar kampus, mengurus proyek atau menghabiskan waktu di warung kopi dan grup WhatsApp, sementara mahasiswa menunggu di kelas. Kuliah mendadak dibatalkan atau dialihkan tanpa penjelasan yang layak. Ini mencerminkan kegagalan membangun budaya akademik yang bertanggung jawab.
Seorang guru besar kawan penulis pernah bilang: mahasiswa, laksana seorang hafiz atau penghafal kita suci yang dipuja-puji, sangat bergantung pada gurunya. Bila gurunya konsisten dan disiplin, mahasiswa pun akan tumbuh dengan fondasi karakter yang kuat. Jadi gurunya perlu diberi atensi, dipenuhi kebutuhannya, sarana prasarananya, kapasitasnya.
Jadi, solusi tidak cukup hanya pada kurikulum. Atensi, kepedulian, fasilitasi budaya akademik perlu dibangun dengan semangat keteladanan dan inovasi.
Program studi harus benar-benar menjadi pusat keunggulan. Kapasitas dosen ditingkatkan, kesejahteraan mereka dijamin. Pembelajaran lapangan harus dihidupkan kembali. Peningkatan kapasitas jangan lagi mengulang tradisi buruk, misalnya, studi banding ke mancanegara secara berombongan – laksana bedol desa – tapi tidak jelas tindak lanjutnya.
Banyak dosen kampus studi banding yang bisa bisa jadi menghabiskan 50 hingga 100 juta per orang ke luar negeri, borongan, bisa habis sampai 1 miliar tetapi saat pulang tiada hasil.
Padahal di sisi lain, bisa jadi laboratorium kosong melompong, alat dan bahan lab tak tersedia, mahasiswa lintas Departemen berebut kursi untuk kegiatan mereka. Atau ada anak dhuafa mahasiswa yang datang dari pulau tepi Sulsel tapi dicampakkan tanpa beasiswa atau sekadar diajak basa-basi oleh dosennya.
Kemudian, riset mestinya diarahkan pula agar berdampak pada masyarakat, bukan hanya berhenti di jurnal. Mahasiswa perlu dilibatkan sebagai mitra perubahan kampus, bukan sekadar objek kebijakan.
Kampus harus menjadi contoh. Di kelas, di laboratorium, di lapangan, dan dalam kehidupan akademik sehari-hari.
Kapasitas mahasiswa tidak akan berkembang tanpa dosen dan institusi yang terus bertumbuh secara etik, intelektual, dan emosional. Pendidikan sejati bukan hanya soal pengetahuan, tetapi soal pembentukan manusia. Dan itu dimulai dari memberi contoh.
Jangan sampai kita hanya sibuk pada isu-isu perundungan, plagiat disertasi, atau bahkah perilaku nyeleneh seksualitas seperti di kampus negeri Konoha.
Tamarunang, 11 Juli 2025









