Menunda Kelahiran ‘KB’, Menunda Kiamat?

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Mungkin yang seharusnya lahir 54.795 orang per hari, kini hanya 1/3 atau 1/8 dari jumlah itu. Maka, waktu berjalan terus, tapi stok ruh belum habis. Artinya, kiamat tertunda.

Sebuah Sintesa-Analogi dari Teori Newton I & II, Kekekalan dan Kesetimbangan Energi

Oleh: Rizkan Fauzie, Mekan88

PELAKITA.ID – Siang itu, sekitar tahun 1990, saya masih duduk di semester IV Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.

Seusai salat duhur, di koridor lantai 2 ruang kuliah—yang berbatasan langsung dengan Lab Biologi Fakultas MIPA—terjadi diskusi hangat antara seseorang (maaf, saya lupa siapa) dan Bapak Helmi A. Koto, M.S., seorang dosen Teknik Pertanian yang dikenal “sadis” dan “keras” dalam mengajarkan mata kuliahnya, terutama dalam hal pemberian nilai.

Saya tidak tahu persis apa yang sedang mereka perdebatkan, tetapi ada satu pernyataan Pak Helmi yang membuat saya tertegun.

Katanya, “Dalam Teori Newton II dijelaskan bahwa energi tidak dapat dimusnahkan, hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain.” Ia melanjutkan, dalam teori lain juga disebutkan bahwa “energi senantiasa akan menuju kondisi keseimbangan.” Ini dikenal sebagai Teori Keseimbangan Energi.

Yang menarik dari pernyataan itu bukan sekadar isi teorinya, melainkan sintesa-analogis yang beliau tarik.

Ia mengaku pernah berdiskusi dengan seorang doktor dari Fakultas Kedokteran UH, dan dari sana lahirlah satu pernyataan ekstrem: “Program Pengendalian Penduduk – KB – pada hakikat logisnya adalah bentuk penundaan kiamat.”

Sebuah logika berpikir yang sangat ekstrem—dan tentu saja langsung mendapat bantahan keras dari lawan diskusinya saat itu. Tapi saya tidak ingin buru-buru menolak.

Justru karena alasan itu saya memilih untuk mendengarkan dan merenung. Kesan itu sampai hari ini masih tersimpan rapi dalam memori saya.

ALLAH: Sumber Energi dan Keseimbangan yang Kekal

Jika merujuk pada prinsip kekekalan energi dan kesetimbangan energi, maka dapat kita pahami bahwa Allah adalah Sumber Utama dari segala energi dan keseimbangan, yang sifatnya kekal dan mutlak.

Segala sesuatu yang diciptakan-Nya di alam semesta ini tak pernah keluar dari prinsip dasar tersebut: kekekalan dan keseimbangan.

Apa pun yang keluar dari manusia—baik tindakan, ucapan, maupun pikiran—tidak akan hilang begitu saja. Ia akan kembali pada titik keseimbangan awal, meski dalam bentuk dan waktu yang berbeda.

Oleh karena itu, sebagaimana kata Pak Helmi, tidak ada yang namanya “rezeki nomplok” atau “durian runtuh”.

Jika seseorang memperoleh kebaikan atau keburukan secara tiba-tiba, maka sesungguhnya itu adalah hasil dari jejak tindakan masa lalunya. Prinsip kekekalan energi dan keseimbangannya bekerja di sana.

Saat kita berbuat baik kepada orang lain, sebenarnya kita sedang mentransfer energi positif kepada seseorang yang saat itu sedang mengalami ketidakseimbangan.

Bahagianya mereka melahirkan doa-doa yang tulus—sebuah bentuk energi baru yang kembali menuju Sang Sumber Energi Mutlak. Energi itu kemudian dikembalikan kepada kita, sang pelaku awal, dalam bentuk lain dan waktu yang berbeda. Begitulah siklus kesetimbangan tercipta.

Program KB Menunda Kiamat? Bagaimana Bisa?

Dalam Al-Qur’an dan Hadis disebutkan bahwa Allah menciptakan alam semesta, termasuk manusia, dalam enam masa. Ruh-ruh manusia, dari Nabi Adam hingga manusia terakhir sebelum kiamat, telah diciptakan sejak awal sebagai bentuk energi ruh yang akan ditiupkan ke dalam jasad manusia secara berkala.

Ketika “stok energi ruh” itu habis, maka kehidupan dunia pun berakhir—dan seluruh makhluk kembali kepada-Nya. Inilah yang kita kenal dalam ucapan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sekarang, mari kita gunakan logika matematis. Misalnya, Allah telah menciptakan 100 miliar ruh dalam satu kejadian, dan seluruh ruh itu akan ditransfer selama kurun waktu 5.000 tahun.

Maka, rata-rata ada sekitar 20 juta ruh yang ditransfer per tahun, atau sekitar 54.795 kelahiran per hari di seluruh dunia.

Dengan prinsip kekekalan dan keseimbangan, maka energi ruh akan mencapai titik nol—dan kiamat terjadi—di tahun ke-5.000. Namun, dengan hadirnya kebijakan pengendalian kelahiran (KB), laju kelahiran itu diperlambat. Mungkin yang seharusnya lahir 54.795 orang per hari, kini hanya 1/3 atau 1/8 dari jumlah itu. Maka, waktu berjalan terus, tapi stok ruh belum habis. Artinya, kiamat tertunda.

Inilah yang dimaksud oleh Pak Helmi sebagai sintesa analogis: bahwa intervensi manusia terhadap kelahiran melalui KB bisa memperlambat selesainya siklus energi ruh, yang secara logis menunda waktu kiamat.

Namun demikian, Allah Mahakuasa dan memiliki kehendak mutlak. Jika keseimbangan terganggu terlalu jauh, maka akan ada ketentuan baru yang ditetapkan oleh-Nya, sesuai prinsip kekekalan dan keseimbangan energi.

Bersambung ke bagian 2