Nuansa Mistis dalam Secangkir Kopi

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Nuansa Mistis dalam Secangkir Kopi ditulis oleh Muliadi Saleh, penulis dan pemerhati sosial-budaya.

PELAKITA.ID – Pagi ini, aroma kopi menyeruak seperti mantra. Seolah ada jin baik yang mengaduk kenangan semalam ke dalam cangkirku.

Aku duduk di teras rumah, sendiri, ditemani bayang-bayang masa lalu dan suara burung kecil yang tak pernah lelah berkicau—seakan menggoda Tuhan agar menurunkan hujan harapan.

Kopi ini bukan sekadar cairan hitam. Ia adalah kegelapan yang menenangkan. Setiap teguknya menyimpan cerita yang tak terucap, rahasia yang tak diungkap, dan mantra kehidupan yang membuat waktu melambat, bahkan ketika dunia sedang tergesa-gesa menuju entah ke mana.

Ada nuansa mistis dalam secangkir kopi. Bukan mistis yang menakutkan, tapi yang menakjubkan. Ia hadir seperti mimpi yang berjalan di atas embun—lembut, dalam, dan penuh teka-teki.

Dalam setiap gumpalan uap yang naik dari bibir cangkir, aku seakan melihat bayangan masa lalu: harapan yang masih menggantung di langit, janji yang tak ditepati, langkah yang sempat tersesat.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita cermati akar kata mistik. Ia berasal dari bahasa Yunani mystikos, yang berarti rahasia, tersembunyi—sesuatu yang hanya bisa dialami dalam kesunyian batin. Kata ini tumbuh dari akar myein, “menutup mata” atau “menyembunyikan.”

Maka tak heran jika mistisisme tidak datang melalui logika, tapi lewat rasa; bukan melalui teriakan, tapi lewat diam. Dan kopi—secangkir hitam yang sederhana itu—diam-diam menyimpan esensi mistik yang mendalam.

Kopi adalah pendongeng sunyi. Ia tak memaksamu bicara, tapi mampu mengupas luka-luka yang enggan kau buka. Di hadapannya, bahkan orang paling kuat bisa jujur.

Ia mendengar dengan khusyuk, mencium kesedihanmu lewat aroma pahitnya, dan menegurmu lewat hangatnya.

Kadang aku bertanya, mengapa manusia begitu setia pada kopi? Apakah karena kafeinnya? Atau karena ia mengajarkan satu hal penting: bahwa hidup tak harus manis.

Bahwa pahit pun bisa dinikmati. Bahwa yang hitam tak selalu gelap. Dan bahwa kesederhanaan bisa lebih dalam dari segala kemewahan.

Coba perhatikan: para pemikir, seniman, penyair paling getir—hampir semuanya bersahabat dengan kopi. Chairil Anwar, misalnya.

Bayangkan ia menulis Aku bukan di meja pesta, melainkan di sudut warung kopi yang sepi, ditemani asap rokok dan dentuman gelisah di dada. Atau Pramoedya, yang menulis Bumi Manusia dengan selingan kopi tubruk dalam cangkir kecil yang pinggirnya retak. Bahkan Gus Dur pun dikenal menyukai kopi hitam pekat, seperti pikirannya yang tak dibumbui kepalsuan.

Aku percaya, kopi adalah portal antara dunia nyata dan dunia batin. Tak heran jika di banyak tradisi, kopi dianggap suci. Di Sulawesi, para tetua adat menyiapkan kopi sebelum musyawarah penting.

Di pesantren tua, para kiai menyeruput kopi sebelum membuka kitab kuning—seolah kopi menjadi jembatan antara bumi dan langit.

Sufi besar Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Kopi membuat kita terjaga, bukan hanya dari tidur, tapi juga dari kelalaian.” Bahkan seorang mistikus pun butuh kopi untuk membuka tabir kebenaran.

Tapi jangan salah. Mistisnya kopi bukan karena ia sakti, melainkan karena ia jujur. Ia tak memanipulasi. Tak munafik. Jika ia pahit, ia menyatakannya apa adanya.

Jika manis, ia tak malu mengaku telah diberi gula. Dalam dunia penuh kepalsuan, kopi mengajarkan kejujuran dengan elegan.

Maka jangan heran bila banyak orang lebih suka berkumpul di warung kopi daripada di ruang rapat. Mengapa banyak ide besar lahir justru di kedai kopi sempit, bukan forum elite ber-AC?

Mungkin karena kopi mencairkan ego. Di warung kopi, kita duduk sejajar. Tak ada jabatan, tak ada kasta. Pengangguran dan profesor bisa berbagi meja, tertawa bersama di antara bunyi cangkir dan hisapan rokok.

Kopi adalah bentuk demokrasi paling nyata. Ia tak memandang siapa yang meneguknya. Ia hanya ingin menemani—bukan menilai.

Namun kopi pun bisa marah. Ia akan terasa getir jika kau sembunyikan luka. Ia akan membuatmu begadang jika kau meminumnya tanpa kejujuran. Ia tak suka dijadikan gaya hidup jika tak dimaknai sebagai gaya berpikir.

Kini, di zaman serba instan, kopi ikut dijadikan tren cepat saji. Disulap menjadi dalgona, diburu demi konten TikTok, diseruput demi estetika, bukan kontemplasi. Padahal kopi tak pernah dirancang untuk kecepatan. Ia ingin kau duduk. Diam. Merenung.

Kopi yang benar adalah kopi yang dididihkan bersama rasa syukur. Dari biji yang ditanam oleh petani tak dikenal, disangrai oleh lelaki tua di sudut pasar, digiling perlahan, diseduh dengan sabar, lalu disajikan dengan senyum.

Saat kau meneguk kopi seperti itu, kau sedang meneguk semesta. Ada keringat petani, dedikasi peracik, dan doa-doa yang tak terdengar.

Begitulah kopi—bukan sekadar minuman, tapi perayaan akan hidup yang penuh misteri.

Maka, jika suatu hari hidup terasa gelap, duduklah. Seduh secangkir kopi. Dengarkan ia mengajarimu tentang arti keteguhan. Biarkan ia membawamu berjalan di lorong waktu—ke masa kecil, ke cita-cita yang belum selesai, ke harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Dan saat kau menatap cangkir yang tinggal ampasnya, jangan bersedih. Sebab dalam ampas itu tersimpan rahasia: bahwa hidup tak selalu penuh, tapi selalu cukup.

Kopi tak bisa menyelesaikan semua masalahmu. Tapi ia cukup membuatmu tenang untuk memikirkan jalan keluarnya. Ia tak memberi solusi, tapi menuntunmu kembali pada dirimu sendiri—tempat semua jawaban sebenarnya berasal.

Sebab siapa tahu, dalam secangkir kopi yang kau anggap biasa itu, ada nuansa mistis yang perlahan memeluk dan menyembuhkanmu.

Editor Denun