Membaca Kisah I Malombassi Lewat Lukisan ‘Alegori Ininnawa’ Karya Achmad Fauzi

  • Whatsapp
Membaca Kisah I Malombassi Lewat Lukisan 'Alegori Ininnawa Karya Achmad Fauzi

PELAKITA.ID – Jejak seniman perupa dari Makassar, Achmad Fauzi, kembali menelorkan karya terbarunya di tahun 2025. Diberi judul ‘Alegori Ininnawa’. Karya ini akan ikut dipajang dalam Pameran Nasional bertajuk ‘Nusantara Bersolek’ di Balikpapan (3-9/11/2025).

Achmad Fauzi adalah pelukis dan kurator yang aktif dalam gerakan seni rupa Makassar. Ia secara konsisten membuat tema-tema karya berangkat dari tradisi dan budaya Bugis Makassar. ‘Alegori Ininnawa’ menjadi karya baru dengan mengangkat kisah I Mallombassi.

Kisah I Mallombasi adalah kisah yang merujuk pada kisah Sultan Hasanuddin, yang nama lahirnya adalah I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape.

Ia adalah Raja Gowa ke-16 yang terkenal karena keberaniannya melawan penjajah membuat Belanda memberinya julukan De Haantjes van Het Osten atau “Ayam Jantan dari Timur”.

Latar belakang dari keluarga bangsawan yang lahir pada 12 Januari 1631 di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia adalah putra dari Raja Gowa ke-15, Sultan Malikussaid, dan cucu dari Sultan Alauddin yang merupakan raja pertama Gowa yang memeluk Islam.

Sejak kecil, ia dibesarkan dalam lingkungan kerajaan yang kental dengan nilai Islam dan tradisi maritim. Ia belajar ilmu agama, strategi militer, dan diplomasi, yang kelak membentuk karakternya menjadi pemimpin visioner.

Setelah pertempuran sengit, ia akhirnya menyerah dan turun dari takhta pada tahun 1669. Setahun kemudian, Ia wafat pada 12 Juni 1670 di Makassar. Namun bagaimana sesungguhnya sosok I Mallombassi ? Lukisan ‘Alegori Ininnawa’ coba memberi serpihan kisahnya dan alam pikir Ininnawa’ yang memancarkan makna dibalik setiap kejadian. Berikut kisahnya !

Di tengah gemuruh ombak yang memecah pantai Losari, dan angin yang membawa aroma garam serta cerita dari pelayaran para pelaut Bugis Makassar, hiduplah seorang Toa Karaeng bernama I Mallombasi. Ia bukan hanya seorang pemimpin yang dihormati, tetapi juga seorang pemikir yang mendalam, yang selalu mencari makna di balik setiap kejadian.

I Mallombasi tumbuh dengan didongengkan kisah-kisah kepahlawanan dan kesetiaan, tetapi ia selalu merasa ada sesuatu yang hilang. Ia melihat orang-orang di sekitarnya begitu terpaku pada tujuan-tujuan duniawi: kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan. Namun, ia bertanya-tanya, apakah kehidupan hanya tentang itu?

Suatu hari, saat ia duduk termenung di atas perahunya, seorang nelayan tua bernama Daeng Mattiro menghampirinya. Daeng Mattiro adalah seorang lelaki sederhana, tetapi matanya memancarkan kebijaksanaan yang mendalam.

“Karaeng,” sapa Daeng Mattiro, “mengapa engkau tampak begitu gelisah?”

I Mallombasi menceritakan kegelisahannya tentang makna kehidupan, tentang bagaimana orang-orang Bugis Makassar sering kali terjebak dalam ambisi dan persaingan, melupakan esensi dari Ininnawa—hati nurani yang murni.

Informasi kegiatan

Daeng Mattiro tersenyum. “Karaeng,” katanya, “kehidupan ini bukanlah sebuah tujuan yang harus dicapai, tetapi sebuah perjalanan yang harus dinikmati. Kita tidak bisa memilih jalan mana yang akan kita lalui, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita menjalaninya.”

Ia melanjutkan, “Lihatlah laut ini. Ia tidak pernah berhenti bergerak, kadang tenang, kadang bergelora. Begitu pula kehidupan. Ada saat-saat bahagia, ada saat-saat sulit. Ada kesetiaan, ada pengkhianatan. Tetapi, semua itu adalah bagian dari perjalanan. Yang terpenting adalah kita selalu ingat bahwa kita ini hanyalah tau ri botting, manusia yang dipinjamkan kehidupan oleh Sang Pencipta.”

Kata-kata Daeng Mattiro bagaikan oase di padang pasir bagi I Mallombasi. Ia mulai memahami bahwa kehidupan bukanlah tentang mencapai tujuan-tujuan tertentu, tetapi tentang menemukan makna dalam setiap langkah, dalam setiap interaksi, dalam setiap pengalaman.

I Mallombasi mulai mengubah cara pandangnya. Ia tidak lagi terpaku pada kekuasaan dan kekayaan. Ia lebih fokus pada bagaimana ia bisa memberikan manfaat bagi orang lain, bagaimana ia bisa menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Ia belajar untuk menerima baik dan buruk dengan lapang dada, karena ia tahu bahwa semua itu adalah bagian dari rencana Sang Pencipta.

Ia juga mulai mengajarkan filosofi Ininnawa kepada rakyatnya. Ia mengingatkan mereka bahwa kesetiaan dan kejujuran adalah nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi, tetapi ia juga menekankan bahwa pengkhianatan dan kesalahan adalah bagian dari kehidupan yang harus dimaafkan dan dipelajari.

Waktu berlalu. I Mallombasi menjadi seorang pemimpin yang dicintai dan dihormati. Ia tidak hanya berhasil membawa kemakmuran bagi kerajaannya, tetapi juga berhasil menanamkan nilai-nilai luhur dalam hati rakyatnya.

Di akhir hayatnya, I Mallombasi berbaring lemah di tempat tidurnya. Ia memanggil Daeng Mattiro, sahabat sekaligus gurunya.

“Daeng,” bisiknya, “aku telah menemukan makna kehidupan. Aku telah memahami bahwa kita ini hanyalah tau ri botting. Sekarang, aku siap untuk kembali kepada Sang Pencipta.”

Daeng Mattiro tersenyum. “Karaeng,” katanya, “engkau telah menjalani kehidupan dengan Ininnawa yang murni. Engkau telah menjadi teladan bagi kami semua. Sekarang, beristirahatlah dengan tenang.”

Dengan senyum di bibirnya, I Mallombasi menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggalkan dunia ini dengan damai, karena ia tahu bahwa ia telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Kisah I Mallombasi menjadi legenda di kalangan suku Bugis Makassar. Ia dikenang sebagai seorang Toa Karaeng yang tidak hanya memimpin dengan kekuasaan, tetapi juga dengan kebijaksanaan dan Ininnawa.

Ia mengajarkan kepada mereka bahwa kehidupan bukanlah tentang tujuan, tetapi tentang menemukan, memahami, dan mendalami nilai makna di linimasa kehidupan, serta selalu menyadari bahwa kita ini milik Sang Pencipta, dan akan kembali kepada-Nya. (WH)

Redaksi