PELAKITA.ID – Ada kegelisahan yang diam-diam mengendap di benak banyak orang tentang masa depan negeri ini: kian langkanya keteladanan. Kita seperti hidup di tengah ruang publik yang miskin contoh baik.
Politisi yang semestinya menjadi wakil rakyat justru sering tampak jauh dari kepentingan rakyat. Akademisi—yang seharusnya menjadi penjaga integritas ilmu—tak jarang yang melakukan plagiasi.
Penegak hukum, yang mestinya menjadi benteng keadilan, kadang justru terseret dalam tindakan kriminal. Pemimpin ummat yang seharusnya menjadi penjaga moral bangsa ikut-ikutan mengelola tambang.
Ironisnya, semua itu perlahan dianggap biasa. Ketika yang semestinya memalukan berubah menjadi lumrah, di situlah tatanan sosial mulai retak. Masyarakat kehilangan rujukan moral. Adab memudar dari ruang publik.
Lebih memilukan lagi ketika kita mengingat bahwa negeri ini adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Suatu ironi ketika keteladanan semakin sulit ditemukan.
Padahal, sejarah peradaban selalu menunjukkan satu hal yang sama: keteladanan adalah fondasi. Generasi muda tidak hanya membutuhkan nasihat, mereka membutuhkan contoh.
Nilai-nilai baik tidak cukup diajarkan lewat kata-kata; ia harus hadir dalam bentuk tindakan dan perilaku sehari-hari.
Keteladanan dimulai dari lingkaran yang paling dekat: keluarga, sekolah, lalu masyarakat. Dari situlah nilai tumbuh dan diwariskan.
Tanpa keteladanan, pemimpin kehilangan marwah. Hukum kehilangan wibawa. Dan masyarakat perlahan terseret pada rasa apatis—sebuah perasaan bahwa kebaikan tidak lagi berarti apa-apa.
Ketika itu terjadi, pragmatisme mengambil alih. Ukuran benar dan salah bergeser menjadi soal untung dan rugi. Uang menjadi ukuran nilai. Segalanya dapat dinegosiasikan.
Bandingkan dengan budaya Jepang. Bukan negeri muslim, tetapi memiliki tradisi sosial yang kuat: budaya malu. Rasa tanggung jawab terhadap jabatan dan amanah begitu dijaga.
Ketika melakukan kesalahan, seorang pejabat berani mengakui dan mundur. Ketika merasa tidak lagi mampu, ia memberi tempat kepada yang lebih layak. Ada kesadaran bahwa jabatan bukan sekadar kekuasaan, melainkan kehormatan yang harus dijaga.
Islam sendiri telah jauh lebih dahulu menegaskan pentingnya keteladanan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut memberi perintah, tetapi juga menjadi contoh.
Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat bukan hanya dengan ajaran, tetapi dengan teladan hidup. Apa yang beliau katakan, itulah yang beliau lakukan.
Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan keras bagi mereka yang berkata tanpa melakukan.
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2–3)
Krisis keteladanan bukan sekadar persoalan moral individu, melainkan ancaman bagi masa depan masyarakat. Sebab peradaban tidak runtuh hanya karena kekurangan sumber daya atau teknologi.
Ia runtuh ketika manusia di dalamnya kehilangan teladan. Wallahu A’lam bishawwab
