Guru Besar FSD UNM Pamerkan 1000 Karya Kaligrafi: Merajut Inklusi Budaya Lewat Seni yang Jadi Jalan Dakwah

  • Whatsapp
Tercatat 1077 karya kaligrafi dalam satu pameran, Guru Besar Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof. Dr. H. Abd. Aziz Ahmad, M.Pd (kedua dari kanan) kembali menghadirkan karya-karyanya di awal tahun 2026.

PELAKITA.ID – Jelang Ramadhan, Prof. Azis Ahmad kembali merajut aksara menjadi cahaya bertajuk Pameran Tunggal di Hall AP Pettarani, Gedung Amanagappa, UNM Gunung Sari Baru, Makassar, 13-15 Februari 2026.

Sajian huruf Arab, Latin, dan Lontara’ berpadu tanpa sekat, seperti tangan-tangan yang saling menggenggam dalam keberagaman. Seni menemukan pijakannya sebagai jalan dakwah – pelan, indah, dan menyentuh.

Setelah menorehkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) September tahun 2025.

Tercatat 1077 karya kaligrafi dalam satu pameran, Guru Besar Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof. Dr. H. Abd. Aziz Ahmad, M.Pd kembali menghadirkan karya-karyanya di awal tahun 2026.

Perhelatan pameran kali ini ditutup dengan lomba kaligrafi untuk umum dan mahasiswa se-Kota Makassar. Dengan mengusung tema “Melestarikan Budaya Inklusi melalui Pameran Kaligrafi Islam, Aksara Latin, dan Lontara”. Pameran ini turut menampilkan keragaman tulisan sebagai kekayaan budaya bangsa.

Acara pembukaan dihadiri oleh perwakilan Dinas Kebudayaan Sulawesi Selatan, seniman, mahasiswa, dan komunitas pencinta seni kaligrafi. Secara resmi Pameran Tunggal 1000 karya lukis Kaligrafi dibuka oleh Wakil Rektor III UNM, sekaligus Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) Dr. Arifin Manggau, S.Pd., M.Pd.

Dalam sambutannya, Ketua DKSS sangat mengapresiasi ketekunan Prof. Aziz. “Komitmen satu karya setiap hari menunjukkan konsistensi luar biasa. Warna hitam-putih pada banyak karya, saya tafsirkan sebagai gambaran siklus perjalanan kehidupan,” ujarnya.

Bagi Prof. Aziz bahwa kaligrafi bukan hanya tulisan Arab, melainkan juga mencakup abjad Latin dan aksara Lontara Bugis-Makassar sebagai bagian budaya lokal.

Perhelatan ini mendapatkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Program Dana Indonesia dan LPDP. Pameran terbuka untuk umum dan gratis bagi pengunjung.

Acara pembukaan dihadiri oleh perwakilan Dinas Kebudayaan Sulawesi Selatan, seniman, mahasiswa, dan komunitas pencinta seni kaligrafi. Secara resmi Pameran Tunggal 1000 karya lukis Kaligrafi dibuka oleh Wakil Rektor III UNM, sekaligus Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) Dr. Arifin Manggau, S.Pd., M.Pd.

Lewat buku katalognya, ia mengungkapkan konsep berkarya yang berpusat pada “Kaligrafi sebagai media dakwah”. “

Kegiatan melukis kaligrafi saya niatkan untuk menjalankan sabda Rasulullah SAW: Ballighuu ‘anniiy walaw aayah (sampaikanlah dariku walau satu ayat),” tulisnya.

Ia juga mengutip buku Seni Lukis Kaligrafi Islam karya Eddy Fauzi Effendi (2019:76) yang menyatakan kaligrafi sebagai elemen visual ekspresi dan pernyataan sikap ikonoplastis pada tauhid.

Perhelatan pameran kali ini ditutup dengan lomba kaligrafi untuk umum dan mahasiswa se-Kota Makassar. Dengan mengusung tema “Melestarikan Budaya Inklusi melalui Pameran Kaligrafi Islam, Aksara Latin, dan Lontara”. Pameran ini turut menampilkan keragaman tulisan sebagai kekayaan budaya bangsa.

“Hakikat keindahan dalam Islam adalah upaya pencerahan. Karya saya lebih tepat disebut seni lukis kaligrafi Islami, karena membawa pesan spiritualitas,” tambahnya.

Sejak awal Januari 2026 hingga berakhirnya pameran, ia telah menghasilkan lebih dari 50 karya baru – fakta nyata dedikasi dalam menggabungkan seni, budaya, dan nilai spiritual. Dari pameran ini, Prof. Azis membuktikan bahwa kaligrafi bukan hanya seni estetis, melainkan wadah merajut inklusi dan dakwah mendidik.

Melalui pameran ini juga diharapkan dapat menginspirasi masyarakat dalam menghargai keragaman aksara, khususnya Lontara sebagai identitas budaya Sulawesi Selatan.

Semoga konsep ini terus berkembang dan mendorong kolaborasi untuk memperkenalkan seni kaligrafi Indonesia ke kancah yang lebih luas.