Bicara di Lokalatih Jurnalisme Warga dan Isu Gender, Prof. Nursini Promosikan Prodi Studi Gender dan Pembangunan Unhas

  • Whatsapp
Prof. Dr. Nursini, SE., MA.

Saat ini, Prodi S2 Studi Gender dan Pembangunan Unhas tercatat telah menerima 12 mahasiswa baru per tahun 2025, dan Prof. Nursini berharap jumlah tersebut terus meningkat melalui kolaborasi dan dukungan berbagai pihak.

PELAKITA.ID – Ketua Program Studi Magister (S2) Studi Gender Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Nursini, SE., MA, menegaskan bahwa Prodi Studi Gender dan Pembangunan Unhas yang dipimpinnya telah meraih akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Sosial, Politik, dan Komunikasi (LAMSPAK).

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada kegiatan Lokalatih Jurnalisme Warga dan Isu Gender yang digelar oleh Pusat Studi Gender Unhas bekerja sama dengan Rumata’ ArtSpace.

Dalam sambutannya, Prof. Nursini menekankan pentingnya penguatan jejaring sebagai langkah strategis ke depan.

Menurutnya, jejaring yang dibangun melalui berbagai kegiatan—termasuk bersama Jaringan Gender Indonesia (JGI)—akan menjadi sarana untuk semakin mendekatkan dunia akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.

“Ke depan, yang perlu kita perkuat adalah jejaring. Jejaring ini penting agar kita bisa lebih dekat dengan persoalan-persoalan masyarakat dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Prof. Nursini.

Ia juga menilai tema Jurnalisme Warga dan Isu Gender sebagai topik yang sangat menarik dan relevan dengan kondisi saat ini. Banyak peristiwa di sekitar kita, kata dia, sebenarnya penting, namun sering tidak terungkap atau tidak terbaca oleh publik luas.

“Banyak peristiwa yang kita ketahui, tetapi kita tidak mampu mengungkapkannya agar bisa dibaca semua orang.

Karena itu, penting bagi teman-teman, khususnya perempuan, untuk menuliskan isu-isu yang ada—tentu dengan cara yang tidak bertentangan, tidak menimbulkan konflik kepentingan, tetapi justru membantu menyelesaikan masalah di tengah masyarakat,” jelasnya.

Prof. Nursini juga mengakui bahwa menulis bukanlah hal yang mudah, meskipun berangkat dari realitas sehari-hari. Namun, melalui kegiatan lokalatih ini, ia berharap peserta dapat mulai berlatih sejak dini untuk menuangkan gagasan dan pemikiran mereka secara tertulis.

“Saya sangat berharap peserta dapat tumbuh menjadi jurnalis warga yang dipercaya oleh masyarakat, sekaligus mampu memperkuat kelembagaan—baik dari sisi organisasi maupun kapasitas personal,” tambahnya.

Ia mendorong peserta untuk terus melatih diri dan memanfaatkan forum-forum seperti ini sebagai sarana peningkatan kapasitas.

Saat ini, Prodi S2 Studi Gender Unhas tercatat menerima 12 mahasiswa baru pada tahun 2025, dan Prof. Nursini berharap jumlah tersebut terus meningkat melalui kolaborasi dan dukungan berbagai pihak.

“Melalui kolaborasi, kita bisa meningkatkan jumlah mahasiswa dan memperbesar komunitas alumni. Kami mohon dukungan semua pihak. Kami juga mengapresiasi dukungan, termasuk dari Ibu Lusia, Bupati Bantaeng, dalam peningkatan kapasitas ibu-ibu PKK melalui studi pembangunan gender di Unhas,” ungkapnya.

Tentang RumataArtspace

Sementara itu, mewakili Rumata’ ArtSpace, Hidayat Rahmat Mustamin turut memberikan sambutan dan memperkenalkan ruang budaya tersebut kepada para peserta.

Ia menjelaskan bahwa Rumata’ ArtSpace merupakan rumah budaya yang berdiri sejak 2011 dan berlokasi di rumah keluarga pendirinya, Riri Riza.

“Rumata’ ArtSpace adalah rumah budaya yang sejak awal bersama almarhumah Lily Yulianti Farid menginisiasi berbagai program untuk mendorong literasi, sastra, dan film,” kata Hidayat.

Ia menegaskan bahwa seluruh program di Rumata’ ArtSpace berbasis inklusivitas, dengan tujuan mendorong percakapan kebudayaan yang adil dan setara, termasuk dalam isu keadilan gender.

“Kami sangat berbahagia dan mengapresiasi kegiatan ini, karena percakapan tentang keadilan gender bukan hanya membangun solidaritas, tetapi juga membuka ruang refleksi dan perubahan,” pungkasnya.

Hidayat juga berharap kelas-kelas dan diskusi bertema gender, ekologi, sejarah, serta transmisi cara berpikir dan bertindak dapat terus berlanjut, tidak hanya berhenti pada satu kegiatan. Menurutnya, seperti halnya gerakan sosial, dampak dari percakapan akan terasa jika dilakukan secara berkesinambungan.

“Semoga lokalatih ini berdampak, dan tulisan-tulisan yang lahir dari sini membawa perspektif keadilan gender yang lebih inklusif, serta mampu menceritakan realitas sosial dengan sudut pandang yang adil dan berimbang,” tutupnya.

Ilustrasi kegiatan (dok: Istimewa)

Tentang Prof Nursini

Prof. Nursini adalah akademisi senior di Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan latar belakang keilmuan yang kuat dalam bidang ekonomi dan kajian gender.

Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister (S2) Studi Gender dan Pembangunan di Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Berkarier di Unhas sejak 1991, Prof. Dr. Nursini, SE., MA., mengawali pengabdiannya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebelum kemudian memfokuskan diri pada pengembangan kajian gender dan pembangunan.

Sebagai salah satu tokoh utama di Prodi Studi Gender dan Pembangunan, Prof. Nursini aktif mendorong integrasi perspektif gender dalam pendidikan, riset, dan advokasi kebijakan.

Bidang yang menjadi perhatiannya meliputi pembangunan berkelanjutan, kesetaraan sosial, pendidikan sensitif gender, serta perencanaan dan implementasi kebijakan yang responsif gender. Gagasan-gagasannya banyak berkontribusi dalam memperkuat pendekatan interdisipliner antara ekonomi, sosial, dan gender.

Selain perannya di program studi, Prof. Nursini juga terlibat dalam berbagai unit kajian, termasuk Development Economics and Gender Research Group, yang mengintegrasikan analisis gender ke dalam ekonomi pembangunan.

Ia kerap menjadi pembicara dan narasumber dalam seminar, webinar, dan kegiatan penguatan kapasitas publik, sehingga dikenal luas sebagai salah satu pakar perempuan dan gender di lingkungan Unhas yang berperan penting dalam memperluas ruang diskursus kesetaraan dan inklusi sosial.