Selembar sarung batik lusuh berkibar pelan. Tiga jendela rumahnya tak berdaun—hanya jeruji besi berkarat yang ditutup plastik. Di kolong rumah, dua jerigen hijau tua tersimpan, barangkali berisi air tawar. Tak jauh dari sana, sebuah sumur berdiri hanya dua meter dari garis pantai.
PELAKITA.ID – Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 ketika perahu kami perlahan mendekati Kampung Cambaya, di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Air laut sedang surut. Bulan seakan menarik separuh wajah laut, membuat perahu tak bisa merapat ke pantai. Dengan sedikit waswas, kami melipat kaki celana dan turun perlahan. Lunas perahu menyentuh pasir, di antara barisan bakau yang masih tumbuh rapat dan menghijau.
Di darat, kampung itu menyambut dalam keheningan khas sore pesisir. Beberapa warga beristirahat di kolong rumah panggung. Anak-anak gadis duduk berdekatan, saling mencari kutu rambut. Dari kejauhan, terdengar teriakan anak-anak lelaki yang bermain bola di tanah berpasir. Laut tampak tenang, angin sepoi, tetapi langit di atas Cambaya kelabu—seolah menahan cerita yang belum selesai.
Saya menahan hasrat memotret. Kamera di tangan saya elus perlahan. Sabar ya, batin saya.
Bersama beberapa kawan, kami singgah ke rumah Basri, seorang aktivis Forum Pukat—Forum Peduli Kepulauan Tanakeke. Ia hendak memperlihatkan kampungnya. Tak besar. Hanya sekitar dua puluh rumah yang tampak berdiri di sana.
Masih dari atas perahu, mata saya tertumbuk pada seorang perempuan tua. Rambutnya beruban, ikal, dan ia duduk mematung di tangga rumah panggungnya—tangga kedua dari enam anak tangga. Ketinggian rumahnya tak lebih dari dua meter dari tanah. Kakinya menyimpang, tubuhnya condong ke depan, wajahnya kosong.
Ia mengenakan sarung kecoklatan dan baju kembang merah hati dengan dasar putih keabu-abuan. Di balok penyangga rumah, dua potong baju dijemur.
Sebuah sarung batik lusuh berkibar pelan. Tiga jendela rumahnya tak berdaun—hanya jeruji besi berkarat yang ditutup plastik. Di kolong rumah, dua jerigen hijau tua tersimpan, barangkali berisi air tawar. Tak jauh dari sana, sebuah sumur berdiri hanya dua meter dari garis pantai.
Rumah itu beratap seng berkarat. Dindingnya dari anyaman bambu (gamacca, dalam bahasa Makassar). Beberapa bagian dinding ditutup sarung tua dan seng bekas yang dipasang bersilangan. Buram dan tanpa cat. Kontras dengan pakaian yang dikenakan perempuan tua itu.
Saya mendekat. Wajahnya mengingatkan saya pada almarhum nenek saya, Aisyah Daeng Baji—yang berpulang setahun sebelumnya. Warna kulitnya, bentuk wajahnya, rambut ikalnya. Saya membayangkan, bila rambut itu digerai, ia pasti tampak cantik di masa mudanya.
“Apanjo itu?” tanya saya, menunjuk terpal yang menutupi sebuah gundukan.
“O, agara anjo,” jawabnya datar. Rumput laut.
“Punya siapa?”
“Bukan punyaku. Punya tetangga.”
Saya menunjuk terpal lain. Bukan miliknya juga.
“Tinggal sama siapa?”
“Sama suami dan anak-anak.”
“Suaminya di mana?”
“Ada. Istirahat. Sudah tua. Kerjanya tidur saja.”
“Anak-anaknya?”
“Ada empat. Dua sudah menikah. Dua masih di rumah.”
“Umurnya?”
“Sudah besar. Yang satu perempuan, umur dua puluhan. Yang satu laki-laki, seumuran bapaknya.”
Ia berhenti sejenak.
“Keduanya lumpuh.”
Saya terhenyak.
Anak lelakinya lumpuh sebelah. Ia masih bisa berjalan, meski pincang. Tak lama kemudian, ia muncul mengenakan sarung. Ia bercerita bahwa kelumpuhannya datang tiba-tiba, selepas menyeberang dari Takalar dengan perahu kecil.
“Waktu itu, tiba-tiba tangan dan kaki sebelah tidak bisa digerakkan,” katanya. Ia menyebutnya akibat “angin buruk”, bukan karena penyelaman—meski banyak nelayan pulau mengalami lumpuh karena risiko menyelam yang buruk.
Anak perempuannya lebih berat. Masih gadis, tetapi tak bisa bangun dari tempat tidur. Hanya berbaring sepanjang hari.
Di usia senja, perempuan berambut ikal itu menanggung semuanya. Mengurus anak perempuan yang tak bisa berjalan. Mendampingi suami yang renta dan tak lagi melaut, tak lagi memukat rajungan, tak lagi menanam rumput laut. Wajahnya tetap kosong. Hampir tak tersenyum ketika saya berpamitan.
Kami tak lama di Kampung Cambaya. Tak sampai satu jam. Namun dalam waktu singkat itu, saya merekam denyut kehidupan yang melemah—dan mungkin akan terus melemah.
Saya membayangkan sebuah sketsa: perempuan tua itu menuntun anak perempuannya ke dapur. Membantu mengambilkan air mandi karena tangan sang anak tak sanggup meraih gayung. Di sudut lain, suaminya terbaring, tubuhnya menua lebih cepat dari waktu.
Hidup, di senja Cambaya, memang tidak mudah.
Gowa, 1 Juli 2010
