Manajemen Risiko Keselamatan Wisata Bahari Labuan Bajo dalam Perspektif Balanced Scorecard

  • Whatsapp
Suyuti Marzuki, pakar Balance Scorecard (BSC)

Balanced Scorecard merupakan kerangka manajemen kinerja strategis yang digunakan untuk menerjemahkan visi dan strategi organisasi ke dalam tujuan serta indikator kinerja yang terukur dan saling terhubung.

Suyuti Marzuki, pakar Balance Scorecard

PELAKITA.ID – Kecelakaan kapal wisata jenis pinisi di perairan Labuan Bajo yang menelan korban wisatawan asing kembali menyoroti persoalan keselamatan wisata bahari di destinasi super prioritas tersebut.

Insiden ini terjadi saat kapal membawa wisatawan dalam aktivitas wisata laut, dan berujung pada tenggelamnya seorang penumpang setelah kapal mengalami kondisi darurat di laut.

Peristiwa ini memicu perhatian luas publik dan pemangku kepentingan, karena Labuan Bajo selama ini diposisikan sebagai etalase pariwisata bahari Indonesia di mata dunia, dengan standar layanan dan keselamatan yang seharusnya setara destinasi internasional.

Dampak kecelakaan ini terhadap pariwisata nasional tidak bisa dipandang ringan. Selain berpotensi menurunkan kepercayaan wisatawan mancanegara, insiden tersebut dapat memengaruhi citra Indonesia sebagai tujuan wisata bahari yang aman dan profesional.

Jika tidak ditangani secara sistemik—melalui penguatan regulasi keselamatan, peningkatan kompetensi awak kapal, serta koordinasi lintas lembaga—kejadian serupa berisiko berulang dan menggerus reputasi destinasi unggulan nasional.

Sebaliknya, penanganan yang transparan, tegas, dan berbasis perbaikan sistem justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola keselamatan dan memulihkan kepercayaan global terhadap pariwisata Indonesia.

Manajemen Risiko

Manajemen risiko keselamatan pariwisata bahari di Labuan Bajo kembali menjadi perhatian setelah terjadinya insiden kecelakaan kapal wisata yang menyebabkan seorang penumpang asal Spanyol tenggelam di perairan sekitar kawasan tersebut.

Peristiwa ini menegaskan pentingnya penguatan sistem keselamatan laut yang terintegrasi, tidak hanya pada aspek operasional di lapangan, tetapi juga pada tata kelola dan kerangka manajemen kinerja sektor pariwisata bahari secara menyeluruh.

Pelakita.ID mengonfirmasi peristiwa tersebut kepada Suyuti Marzuki, pakar Balanced Scorecard (BSC) Pemerintah yang saat ini bekerja di Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.

Menurutnya, Balanced Scorecard merupakan kerangka manajemen kinerja strategis yang digunakan untuk menerjemahkan visi dan strategi organisasi ke dalam tujuan serta indikator kinerja yang terukur dan saling terhubung.

Berbeda dengan pendekatan tradisional yang hanya menitikberatkan aspek keuangan, BSC memandang kinerja secara lebih utuh dengan mengombinasikan indikator keuangan dan non-keuangan.

Konsep ini dikembangkan oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton agar aktivitas operasional sehari-hari selaras dengan tujuan strategis jangka panjang.

“Dalam praktiknya, Balanced Scorecard menilai kinerja organisasi melalui empat perspektif utama, yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan,” ujar Suyuti yang juga Kadis Kelautan dan Perikanan Sulawesi Barat ini.

Keempat perspektif tersebut disusun dalam hubungan sebab–akibat, di mana penguatan kapasitas sumber daya manusia dan sistem organisasi mendorong perbaikan proses internal, yang selanjutnya meningkatkan kualitas layanan dan kepercayaan publik, hingga berujung pada kinerja yang berkelanjutan.

Dalam konteks pengelolaan wisata bahari dan mitigasi risiko keselamatan laut, Suyuti menekankan perlunya penyegaran kompetensi bagi awak kapal serta personel instansi negara yang bertanggung jawab atas keselamatan di laut.

Selain itu, ia mendorong penyusunan dokumen Safety Case agar komunitas wisata Labuan Bajo lebih waspada dan siap menghadapi kondisi darurat.

“Langkah ini dinilai penting untuk memulihkan dan menjaga kepercayaan masyarakat global terhadap keselamatan wisata bahari Indonesia, khususnya di Labuan Bajo,” ucap Suyuti.

Dari sisi perencanaan kebijakan, Suyuti juga menyoroti belum terintegrasinya indikator kinerja penurunan angka kecelakaan transportasi laut dengan indikator kecepatan dan efektivitas respons operasi pencarian dan pertolongan (SAR).

Padahal, menurutnya, keselamatan maritim merupakan outcome lintas sektor yang menuntut kolaborasi antarkementerian dan lembaga.

“Lemahnya integrasi kinerja ini menunjukkan masih kuatnya pola kerja parsial, sementara tantangan keselamatan wisata bahari menuntut pendekatan yang sistemik dan terkoordinasi,” pungkas Suyuti yang juga alumni Perikanan Unhas ini.

Editor Denun’