Catatan Denun | 7 Capaian dan Fasilitasi Pembangunan Takalar dalam Setahun Terakhir

  • Whatsapp
Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye dan penulis saat memberikan laporan hasil seminar Menelusuri Jejak Sejarah Galesong (dok: Pelakita.ID)

Seluruh inisiatif ini diarahkan untuk terkonsolidasi dalam satu ekosistem terpadu yang disebut sebagai mall digital, sebuah konsep layanan dan data yang terintegrasi tanpa ketergantungan pada satu gedung fisik.

PELAKITA.ID – Penulis bertemu Bupati Kabupaten Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye di Kantor Bupati Takalar pada Rabu, 11 Februari 2026.

Ada perbincangan yang menarik tentang posisi strategis Galesong, empat penjuru kawasan ke-Karaengang di Takalar yang perlu direvitalisasi posisi dan urgensinya sebagai pilar Takalar hingga perbincangan pada sejumlah progress pembangunan daerah, dan proses yang sedang berjalan.

7 progress baik

Dalam setahun terakhir, menurut Firdaus Daeng Manye, arah pembangunan Kabupaten Takalar menunjukkan pergeseran yang semakin tegas menuju transformasi struktural, terutama melalui digitalisasi, penguatan ekonomi maritim, dan revitalisasi kebudayaan.

Disebutkan, di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Takalar, sejumlah capaian dan proses fasilitasi pembangunan telah berjalan, sebagian sudah memasuki tahap implementatif, sebagian lainnya menjadi fondasi penting bagi lompatan pembangunan ke depan.

Pertama, capaian utama adalah penetapan digitalisasi sebagai arus utama pembangunan lintas sektor.

Pemerintah Kabupaten Takalar tidak lagi memandang digitalisasi sebagai proyek tambahan, melainkan sebagai kerangka besar yang mencakup pelayanan publik, UMKM, pendidikan, sektor perikanan dan kelautan, hingga dokumentasi sejarah dan kebudayaan.

Ratusan sekolah telah punya sistem informasi, termasuk tersedia wifi dan mudah diakses termasuk di Kepulauan Tanakeke.

Seluruh inisiatif ini diarahkan untuk terkonsolidasi dalam satu ekosistem terpadu yang disebut sebagai mall digital, sebuah konsep layanan dan data yang terintegrasi tanpa ketergantungan pada satu gedung fisik.

Sejalan dengan itu, Pemkab Takalar mendorong digitalisasi UMKM berbasis lokasi sebagai langkah konkret memperkuat ekonomi lokal.

“Target minimal seratus titik usaha di setiap kecamatan terdaftar di Google—mulai dari rumah makan, penginapan, bengkel hingga layanan jasa—menjadi indikator yang jelas dan terukur,” sebut Daeng Manye.

Upaya ini tidak berdiri sendiri, karena dibarengi dengan pembenahan kualitas layanan, kebersihan, dan manajemen usaha. Melalui pendekatan ini, Takalar dan Galesong mulai dibangun sebagai wilayah yang mudah diakses secara digital sekaligus lebih kompetitif dalam peta ekonomi regional.

Kedua, pada level akar rumput, penguatan infrastruktur digital desa dan kecamatan juga menjadi bagian penting dari proses pembangunan. Setiap desa dan kecamatan diarahkan memiliki website aktif yang dikelola oleh konten kreator lokal.

Platform ini berfungsi sebagai ruang dokumentasi potensi wilayah, aktivitas sosial, hingga sejarah lokal.

Dorongan untuk mendigitalisasi arsip keluarga, foto-foto lama, dan cerita lisan menandai kesadaran bahwa pembangunan tidak hanya soal masa depan, tetapi juga tentang menjaga memori kolektif agar tidak hilang ditelan waktu.

Ketiga, dalam sektor kelautan dan usaha, Pemkab Takalar mulai melakukan reformasi layanan perizinan dengan terlebih dahulu membuka persoalan yang selama ini menghambat, yakni perizinan yang rumit dan berlapis dengan berkolaborasi Pemerintah Provinsi dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan.

Solusi yang sedang ditawarkan adalah digitalisasi layanan perizinan melalui konsep mall digital, yang memungkinkan pemantauan proses secara real time serta koordinasi cepat antara pemerintah daerah dan pemerintah provinsi.

Langkah ini menjadi sinyal kuat komitmen terhadap prinsip good governance, efisiensi birokrasi, dan pelayanan publik yang lebih berpihak pada nelayan serta pelaku usaha kecil.

Bupati juga ikut mengadvokasi nelayan patorani yang seringkali bersoal dengan hal perizinan berlayar dan beroperasi.

Bupati Fakfak Samaun Dahlan dan Bupati Takalar Firdaus Daeng Manye bertemu di Fakfak (dok: Pandawa Galesong/Istimewa)

“Kami membangun komunikasi dengan Bupati di Fak Fak, lokasi target nelayan patorani Galesong,” kata Daeng Manye.

Keempat, atensi pada penataan tata kelola Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), koperasi, dan pendapatan asli daerah dari sektor maritim.

Menurut Daeng Manye, transparansi pengelolaan, profesionalisasi koperasi, serta pencegahan kebocoran pendapatan daerah telah masuk dalam agenda kerja pemerintah daerah.

Penguatan peran negara di sektor ini dimaksudkan agar sumber daya maritim Takalar benar-benar memberi manfaat luas bagi masyarakat, bukan terkonsentrasi pada segelintir pihak.

Kelima, di bidang sosial-budaya, pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Takalar menunjukkan komitmen nyata terhadap pembangunan kebudayaan dan sejarah.

Terus mendorong sinergi dengan lembaga adat di empat eks wilayah kakaraengang—Polong Bangkeng, Galesong, Sanrobone, dan Laikang—ini yang terus diperkuat termasuk membantu revitalisasi Balla Lompoa di Jantung Kota Takalar, Pattallassang.

Lalu, keenam, tetap konsisten dalam mengajukan I Maninrori Kare Tojeng Karaeng Galesong sebagai Pahlawan Nasional sebagai bagian dari upaya menempatkan sejarah lokal dalam panggung nasional.

“Kita perlu melanjutkan pertemuan untuk memantapkan persiapan atau pengusulan Karaeng Galesong sebagai pahlawan nasional,” ucap Bupati Daeng Manye.

Selain itu, penyediaan fasilitas pentas seni, baik indoor di Kantor Bupati maupun outdoor di alun-alun, dengan akses yang mudah bagi pelaku seni, menegaskan bahwa kebudayaan diposisikan sebagai agenda pembangunan, bukan sekadar pelengkap seremoni.

Ketujuh, Pemkab Takalar juga menegaskan arah industrialisasi berbasis maritim sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi seperti kawasan Laikang dan sekitarnya, termasuk Galesong.

Takalar dan Galesong diproyeksikan bukan lagi sekadar daerah penyangga, melainkan pusat pertumbuhan baru berbasis pesisir.

Dorongan pembentukan kawasan industri maritim, disertai jaminan infrastruktur dasar seperti air, listrik, dan pengolahan limbah, menunjukkan kesiapan pemerintah daerah menciptakan iklim investasi yang berkelanjutan dan sesuai dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki.

Secara keseluruhan, tujuh capaian dan sedang dalam proses fasilitasi pembangunan ini memperlihatkan bahwa dalam setahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Takalar tidak hanya bekerja pada tataran program, tetapi juga membangun arah, sistem, dan ekosistem.

“Pembangunan dipahami sebagai proses jangka panjang yang mengintegrasikan teknologi, ekonomi, budaya, dan tata kelola, dengan tujuan akhir meningkatkan kualitas hidup masyarakat Takalar secara berkelanjutan,” kunci Daeng Manye.

Penulis Denun