PELAKITA.ID – Garuda AstaCita Nusantara (GAN) mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang memobilisasi kekuatan nasional secara masif dalam penanganan bencana di wilayah Sumatera.
Pemerintah pusat menurunkan lebih dari 50.000 personel gabungan TNI dan Polri—setara dengan kekuatan sekitar 50 batalion—ke titik-titik terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ketua Umum GAN, Muhammad Burhanuddin, menilai skala pengerahan tersebut menunjukkan bahwa negara hadir secara penuh dalam situasi darurat.
Menurutnya, tingkat kekuatan dan bantuan yang dikerahkan telah berada pada skala nasional, bukan lagi bersifat sektoral atau regional. Jumlah personel tersebut bahkan belum termasuk dukungan dari berbagai kementerian, badan, dan lembaga negara lainnya yang turut terlibat dalam penanganan bencana.

“Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama. Mobilisasi kekuatan sebesar ini jarang dilakukan dan menandai pendekatan kepemimpinan yang tegas, cepat, dan terkoordinasi,” ujar Burhanuddin.
Selain pengerahan personel, Burhanuddin juga menyoroti langkah penegakan hukum yang dilakukan secara bersamaan, khususnya pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam praktik pembalakan hutan.
Ia menilai kebijakan tersebut sebagai pendekatan komprehensif, tidak hanya menangani dampak bencana, tetapi juga menyasar akar persoalan ekologis yang kerap memicu bencana berulang.
“Penanganan bencana tidak boleh berhenti pada evakuasi dan pemulihan. Ketika negara juga berani menindak pelaku perusakan lingkungan, itu berarti ada upaya serius untuk mencegah tragedi serupa di masa depan,” tegasnya.
GAN menilai langkah Presiden Prabowo tersebut sebagai upaya konkret melawan apa yang disebut Burhanuddin sebagai Serakahnomics, yakni praktik ekonomi eksploitatif yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan publik demi keuntungan jangka pendek.
Menurutnya, keberanian menghadapi kepentingan semacam ini menjadi penanda penting arah pembangunan nasional.
“Ini bukan sekadar respons darurat, tetapi sinyal kuat bahwa negara tidak akan berkompromi dengan keserakahan yang merusak lingkungan dan mengancam nyawa rakyat,” ujarnya.
GAN berharap mobilisasi kekuatan nasional dan penegakan hukum ini dapat menjadi pola tetap dalam kebijakan penanganan bencana dan perlindungan lingkungan, sehingga Indonesia tidak terus-menerus terjebak dalam siklus bencana yang sama di masa mendatang.
“Saat ini kita perlu bahu membahu untuk membangun Sumatera, mulai dari pemulihan mata pencaharian hingga perbaikan infrastruktur ekonominya,” kunci Burhanuddin.
Redaksi
