Warisan Keilmuan Dari Negeri Para Mullah | NarasiAno

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Negara ini seringkali di-framing sebagai negara diktator, negara miskin, negara tertinggal sebab tak modern seperti negara negara barat, Amerika atau seperti negeri tetangganya.

Bahkan Iran di-framing sebagai negara agama yang menyeramkan hingga akhirnya negeri para ayatullah tersebut di embargo bertahun tahun oleh Eropa dan Amerika. Iran pun terkucilkan. Dianggap tak maju, kolot dan tradisional.

Akibat framing framing tersebut, kita seolah olah hanya tau bahwa bangsa terpintar dan tercerdas di muka bumi berasal dari Eropa, Yahudi, Israel dan Amerika bahkan tak memasukan Iran dalam catatan pikiran kita.

Padahal dalam sejarah peradaban Islam, Iran justru banyak melahirkan ilmuwan karena negeri Para Mullah tersebut pewaris peradaban Persia kuno yang panjang, tradisi keilmuan Islam yang kuat (Golden Age), serta penekanan tinggi pada pendidikan modern, terutama sains, teknologi, dan kedokteran.

Kombinasi budaya yang menghargai intelektualitas, kemandirian teknologi akibat sanksi, dan partisipasi tinggi perempuan dalam akademik memperkuat posisi Iran.

Di Iran banyak melahirkan intelektual Islam yang sangat berpengaruh. NarasiAno mencoba meramu satu persatu secara singkat. Pertama, Ibnu Sina yang dikenal sebagai “Bapak Kedokteran Modern” dan filosof besar. K

arya monumentalnya, The Canon of Medicine, menjadi rujukan utama universitas Eropa selama berabad-abad. Al-Khwarizmi seorang ahli matematika yang menemukan dasar-dasar aljabar (al-jabr) dan algoritma.

Zakariya al-Razi, pelopor kimia eksperimental, dokter, dan filsuf yang mendokumentasikan banyak studi kasus kedokteran.

Lalu Omar Khayyam, seorang penyair, astronom, dan matematikawan yang dikenal karena karyanya dalam mereformasi kalender dan persamaan kubik. Al-Biruni: Ilmuwan serbabisa (polymath) yang merumuskan metode untuk mengukur jari-jari bumi dan berkontribusi besar pada geografi, antropologi, dan astronomi.

Jabir bin Hayyan: Sering disebut sebagai Bapak Kimia karena mengembangkan metode eksperimen dan observasi dalam ilmu kimia.

Abu al-Wafa’ al-Buzjani, ia adalah matematikawan dan astronom yang ahli dalam trigonometri dan terakhir Nasir al-Din al-Tusi: Astronom dan filsuf yang mendirikan observatorium Maragheh.

Tradisi intelektual ini membuat warisan ilmuwan Iran tetap relevan dan terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari maupun akademis di Iran modern.

Pada setiap perdebatan dan diskusi modern saat ini, kadangkala kita mendapat pernyataan seperti ini. Lah, kan Google, YouTube, TikTok, AI dll adalah buatan China dan Israel ? Bukan dari Iran.

Pembaca NarasiAno yang baik. Dasar dari pernyataan pernyataan tersebut justru karena lahirnya ilmu seperti aljabar dan Algoritma dari Iran.

Teknologi kamera yang kerapkali kita gunakan untuk menjepret? Ilmu optiknya sebab semua berasal dari ilmuan yang ditemukan di Iran.

Sehingga dari tanah Persia atau Iranlah para ilmuwan tersebut karya mereka melintasi zaman, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi fondasi ilmu pengetahuan modern yang kita gunakan hari ini.

Perang Timur Tengah hari ini ! Adalah salah satu bukti tentang tradisi keilmuan dari Persia masih sangat kuat.

Akhirnya NarasiAno mengucapkan selamat menapaki hari ke 18 Ramadan. Semoga puasa yang kita jalani bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi menumbuhkan kejernihan hati, keluasan ilmu dan kelembutan pada sesama.

#Seri14
#Ramadan1447H

NarasiAno, Tenang Dibaca, Kuat Dirasakan