Mustamin Raga | Hari Ketika Saya Melantik dan Mencopot

  • Whatsapp
Ilustrasi Pe;akita.ID

Aku melihat wajah pejabat yang kulantik. Mereka mencium tanganku, berjanji mengabdi. Namun aku tahu, sebagian besar hanya memainkan peran. Hari ini mereka tunduk padaku, tapi suatu saat mereka akan mengulang siklus yang sama: mengangkat loyalis, mencopot lawan, melampiaskan dendam. Begitulah siklus kekuasaan berulang tanpa akhir.

Oleh Mustamin Raga, Penulis Buku Suara Dari Pelukan Kabu

PELAKITA.ID – Aku masih ingat pertama kali menduduki kursi ini. Kursi empuk yang diimpikan banyak orang, kursi yang dengan segala kilau dan risikonya menjanjikan kuasa atas nasib banyak pihak.

Kursi itu kini menjadi milikku, sudah sekian bulan aku mendudukinya. Dari sini aku bisa menakar, bisa memutus, bisa mengangkat, bahkan bisa mencopot. Sungguh betapa besarnya otoritas yang sekarang ada di tanganku.

Hari ini, aku tiba di satu momen yang sudah lama kupersiapkan: melantik orang-orang yang kusiapkan dan menyingkirkan mereka yang dulu menghalangiku.

Hari pelantikan selalu terlihat meriah di mata publik. Ada senyum-senyum yang dibingkai kamera, ada tangan yang saling berjabat, ada doa dan restu yang diucapkan dengan suara bergetar. Namun di balik itu, hanya aku yang tahu betapa panjang perjalanan yang mengantarku pada hari ini.

Sejak awal, aku sudah mengumpulkan daftar nama. Daftar itu bukan sekadar catatan administratif, tetapi semacam buku hitam yang mencatat siapa kawan dan siapa lawan.

Nama-nama yang dulu berdiri diam-diam di belakangku, membantu menggerakkan langkah kampanyeku dengan segala cara, kini kuanggap sebagai kawan seperjuangan yang pantas mendapatkan tempat.

Sebaliknya, mereka yang menutup pintu, menghalangi, bahkan menyebarkan kerikil di jalanku, kutandai dengan tinta merah sebagai lawan yang harus dipinggirkan.

Hari ini daftar itu berubah menjadi keputusan resmi. Dengan sekali tanda tangan, selembar kertas bermaterai, dan suara resminya seorang pejabat, nasib mereka kutentukan. Ada yang naik, ada yang turun, ada pula yang benar-benar hilang dari panggung kekuasaan.

Apakah ini dendam? Kata itu mungkin terlalu kasar. Aku lebih suka menyebutnya pembalasan. Sebab di dunia kekuasaan, siapa yang menabur akan menuai.

Mereka yang dulu setia, kini kuangkat. Mereka yang dulu menentang, kini kuasingkan. Semua ada logikanya—meski alasannya lebih pada loyalitas daripada kompetensi.

Aku tahu banyak yang bertanya: mengapa aku tidak menilai mereka dari rekam jejak sebagai ASN? Bukankah ASN harus profesional, netral, dan bekerja untuk negara, bukan untuk individu?

Pertanyaan itu bagus di seminar, di ruang akademik, di forum diskusi penuh teori. Namun di panggung nyata kekuasaan, loyalitas lebih menentukan. Bagiku, lebih baik aku dikelilingi orang-orang setia, meskipun harus belajar sambil menjabat, daripada dikhianati oleh mereka yang pintar tapi menusuk dari belakang.

Maka kulantik mereka, ratusan jumlahnya. Ruangan besar penuh setelan jas, kebaya, dan seragam kebesaran. Suara ikrar jabatan bergema, seolah mengukuhkan kesetiaan baru. Wajah-wajah penuh harap menatapku dengan sorot berbinar. Ada terima kasih, kepuasan, dan pengharapan masa depan.

Dan mereka yang kucopot? Wajah pucat, senyum kaku, kepala tertunduk menelan pahit kenyataan. Kursi mereka direbut orang lain, status yang dulu dibanggakan kini dilucuti.

Aku sadar sebagian dari mereka akan melawan. Akan ada yang membawa keputusanku ke jalur hukum, menggugat ke PTUN. Aku sudah dengar bisik-bisik itu bahkan sebelum pelantikan.

Apakah aku takut? Ya, ada rasa khawatir. Namun aku tahu bagaimana dunia hukum bekerja di negeri ini. Banyak contoh pejabat yang dicopot, menggugat, bahkan menang di pengadilan, tetapi putusan berhenti di atas kertas. Tak pernah benar-benar dijalankan. Semua orang tahu itu rahasia umum.

Tetap saja aku merenung. Apakah inilah makna kekuasaan? Bahwa kursi jabatan bisa lebih kuat dari keadilan? Bahwa SK pelantikan lebih keras daripada palu hakim? Ada sesuatu yang mengusik, meskipun kututupi dengan dalih politik.

Hari ini aku puas, harus kuakui. Puas melampiaskan amarah lama, puas memberi hadiah pada para penjilat yang dulu setia. Namun kepuasan itu menyisakan tanya. Apakah aku sedang menanam benih yang kelak akan memetik buah pahit?

Kuasa itu candu. Semakin diminum, semakin sulit dilepas.

Hari ini aku meneguknya dengan penuh gairah, tetapi mungkin kelak aku akan kehilangan kendali. Bagaimana jika mereka yang kuangkat tak mampu bekerja? Bagaimana jika ketidakmampuan itu menjadi beban di pundakku?

Aku tahu, rakyat menunggu hasil. Mereka tak peduli siapa yang kuangkat atau kucopot, mereka hanya ingin merasakan kehadiran pemerintah: jalan lebih baik, layanan lebih cepat, harga lebih terjangkau. Tetapi aku justru sibuk menata barisan, membalas budi, dan membalas dendam.

Aku pun bertanya: apakah kekuasaan hanyalah panggung besar untuk melampiaskan hasrat terdalam? Apakah jabatan hanya alat untuk membuktikan siapa yang menang, siapa kalah, siapa setia, siapa berkhianat?

Aku melihat wajah pejabat yang kulantik. Mereka mencium tanganku, berjanji mengabdi. Namun aku tahu, sebagian besar hanya memainkan peran. Hari ini mereka tunduk padaku, tapi suatu saat mereka akan mengulang siklus yang sama: mengangkat loyalis, mencopot lawan, melampiaskan dendam. Begitulah siklus kekuasaan berulang tanpa akhir.

Malam ini, setelah semua tepuk tangan reda, ruangan kosong, senyum pura-pura hilang bersama cahaya lampu, aku termenung. Aku telah melantik, aku telah mencopot.

Aku telah menanam benih loyalitas, aku telah menebar api permusuhan. Hari ini aku menang, tetapi apakah esok aku masih bisa tersenyum tenang?

Kekuasaan ini pedang bermata dua. Satu sisi memberiku kuasa menentukan, sisi lain perlahan menggores nurani. Dan malam ini, goresan itu terasa semakin dalam.

Ditulis di Teras Rumah Gerhana Alauddin pada Hari Kesaktian Pancasila 2025.